Empat kandungan surat al-‘Ashr

Sesi 1

Sesi 2

Sesi 3

Judul Kajian: Empat kandungan surat al-‘Ashr

Kitab: al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘ala Kulli Muslim wa Muslimah (الواجبات المتحتمات المعرفة على كل مسلم ومسلة), karya ‘Abdullah ibn Ibrahim al-Qar’awiy

Waktu: Selasa, 16 Oktober 2018

Tempat: Masjid Pogung Dalangan, Yogyakarta

Video: Sesi 1 ~ 22 menit, Sesi 2 ~ 10 menit, Sesi 3 ~ 26 menit

Halaman kajian kitab al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘ala Kulli Muslim wa Muslimah

Halaman kajian

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

Tiga pertanyaan kubur

Judul Kajian: Tiga pertanyaan kubur

Kitab: al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘ala Kulli Muslim wa Muslimah (الواجبات المتحتمات المعرفة على كل مسلم ومسلة), karya ‘Abdullah ibn Ibrahim al-Qar’awiy

Waktu: Selasa, 9 Oktober 2018

Tempat: Masjid Pogung Dalangan, Yogyakarta

Video: ~ 42 menit

Halaman kajian kitab al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘ala Kulli Muslim wa Muslimah

Halaman kajian

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

Bagaimana Imam Syafi’iy menghormati guru beliau

al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah, murid Imam Malik rahimahullah, berkata,

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك بن أنس صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها.

“Aku membuka halaman kertas di hadapan Malik ibn Anas dengan sangat pelan, karena perasaan hormatku kepada beliau, agar beliau tidak mendengar bunyi kertas tersebut.”

ar-Rabi’ ibn Sulaiman rahimahullah, murid Imam asy-Syafi’iy rahimahullah, berkata,

واﷲ ما اجترأت أن أشرب الماء والشافعي ينظر إليَّ هيبة له.

“Demi Allah aku tidak berani minum air sementara asy-Syafi’iy melihatku, karena perasaan hormatku kepada beliau.”

Lihatlah bagaimana sikap para ulama’ terdahulu dalam menghormati guru mereka. Sebagai penuntut ilmu, kita semua tahu bahwa kita wajib memiliki perasaan hormat kepada guru. Akan tetapi, seringkali — karena kurangnya keteladanan yang bisa kita lihat secara langsung — kita justru tidak tahu bagaimana seharusnya perasaan hormat itu diterapkan dalam sikap dan tingkah laku kita. Itu mengapa banyak membaca kisah keteladanan dari para ulama’ terdahulu adalah di antara cara yang ampuh untuk melatih adab dan akhlak kita.

Dan lihatlah pula bagaimana Imam asy-Syafi’iy rahimahullah mendapatkan balasan dari muridnya sesuai dengan bagaimana beliau bersikap di hadapan gurunya. Itu karena adanya kaidah,

الجزاء من جنس العمل.

“Balasan itu sesuai dengan amalannya.”

كما تدين تدان.

“Sebagaimana engkau berperilaku, maka demikianlah engkau diperlakukan.”

Andy Octavian Latief — @ Pogung Dalangan, Yogyakarta

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

Masihkah kita enggan untuk sering mengingat kematian?

Sungguh merupakan pemandangan yang menggetarkan hati ketika kita melihat saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah gempa dan tsunami akhir-akhir ini.

Mereka tak henti-hentinya mengadu kepada Allah. Mereka meneriakkan takbir, mereka menangis dan berdoa kepada Allah, di tengah-tengah gentingnya situasi dan pekatnya keadaan.

Begitulah kondisi manusia ketika menyadari bahwa kematiannya telah dekat. Bahkan Fir’aun pun bermunajat kepada Allah ketika dia sadar ajalnya telah tiba.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَـهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ * آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Dan Kami memungkinkan Bani Isra’il melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” [al-Qur’an, surat Yunus, 10: 90-91]

Maka, masihkah kita enggan untuk mengambil pelajaran? Masihkah sulit bagi kita untuk sering mengingat kematian sehingga kita akan tergerak untuk senantiasa bertaubat dan kembali kepada Allah? Bukanlah yang perlu dikhawatirkan itu adalah mereka yang masih memiliki kesempatan untuk bertaubat kepada Allah sebelum matinya, tetapi mereka yang terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka tiba-tiba kembali kepada Allah tanpa sempat untuk bertaubat kepadaNya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan: kematian.” [Hadits shahih, dimuat dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu, karya Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, no. 1210]

Andy Octavian Latief — @ Pogung Dalangan, Yogyakarta

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

Belajar secara bertahap adalah ciri penuntut ilmu yang rabbaniy

Mempelajari ilmu secara bertahap adalah kunci utama suksesnya seseorang dalam meniti tangga ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّـهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّـهِ وَلَـكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidaklah pantas bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, ‘Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kalian menjadi orang-orang yang rabbaniy, karena kalian mengajarkan al-Kitab dan kalian mempelajarinya.'” [al-Qur’an, surat Ali ‘Imran, 3: 79]

Yang dimaksud dengan orang-orang yang rabbaniy pada ayat ini adalah mereka yang mempelajari ilmu dimulai dari yang dasar hingga kemudian yang kompleks, dimulai dari masalah-masalah yang kecil hingga masalah-masalah yang rumit.

Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdillah al-Fauzan hafizhahullah berkata,

إن الربانيين هم الذين يبدؤون بصغار مسائل العلم قبل كباره، يُربُّون أنفسهم وطلابهم ابتداء من المسائل الصغيرة إلى المسائل الكبيرة، وهذا شيء طبيعي، لأن كل الأشياء تبدأ من أصولها وأساساتها ثم تكبر وتعظم بعد ذلك.

“Sesungguhnya orang-orang yang rabbaniy adalah mereka yang memulai belajar dari masalah-masalah ilmu yang kecil sebelum yang besar. Mereka mendidik diri mereka dan para murid mereka dimulai dari masalah-masalah yang kecil hingga masalah-masalah yang besar. Dan ini adalah sesuatu yang wajar, karena segala sesuatu itu bermula dari pondasinya dan landasan utamanya, sebelum kemudian menjadi besar setelahnya.” [Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, karya Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdillah al-Fauzan, hal. 8]

Maka, adalah sebuah kesalahan yang kita temui pada banyak orang di zaman ini — semoga Allah memperbaiki keadaan kita dan mereka — yang berbicara tentang masalah-masalah agama yang besar, padahal mereka bahkan belum memahami bahasa Arab. Mereka bahkan berfatwa tentang masalah halal dan haram, padahal mereka masih buta dengan dasar-dasar ilmu ushul. Mereka banyak berbicara tentang bagaimana menyikapi kejadian ini dan itu, bagaimana menyikapi person ini dan itu, padahal ilmu-ilmu dasar tentang Qur’an dan hadits masih banyak yang belum mereka ketahui.

Belajar ilmu dari dasar sebelum berkutat pada masalah-masalah yang besar dan rumit adalah sesuatu yang wajar, yang bisa diterima oleh setiap akal manusia. Namun, sikap tergesa-gesa dan terburu-buru, perasaan ingin tampil di hadapan orang, dan kecerobohan dalam berbicara dan bertindak itu lebih dicintai oleh hawa nafsu kita.

Semoga kita semua diberikan taufiq oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang rabbaniy.

Andy Octavian Latief — @ Pogung Dalangan, Yogyakarta

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram