Perhatian terhadap agama adalah sumber kebaikan

Dari Thalhah ibn ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang badui dengan kepala yang acak-acakan datang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang shalat?” Maka beliau menjawab, “Shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah.”

Lalu badui tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang puasa?” Maka beliau menjawab, “Bulan Ramadhan, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah.”

Lalu badui tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang zakat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya tentang syari’at Islam.

Kemudian badui tersebut berkata, “Demi Dzat yang memuliakanmu, sungguh aku tidak akan mengerjakan yang sunnah, dan aku juga tidak akan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (setelah badui tersebut pergi), “Dia akan beruntung jika dia berkata benar.” Dalam riwayat lain, “Dia akan masuk surga jika dia berkata benar.”

Sungguh beruntung orang badui tersebut. Berkat perhatiannya yang besar terhadap agama dan berkat semangatnya untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang permasalahan agama yang tidak dia ketahui, maka Allah berikan kepadanya pahala ekstra yang tak terhitung nilainya selama hadits ini diambil ilmu dan faidahnya oleh kaum muslimin hingga hari kiamat kelak! Walaupun orang badui tersebut bertekad untuk hanya mengerjakan yang wajib-wajib saja! Akan tetapi, Allah memberikan taufiq kepada Thalhah ibn ‘Ubaidillah untuk merekam kejadian ini dan meriwayatkannya, sehingga sampailah hadits ini kepada kita.

Lihatlah betapa besar perhatian orang badui tersebut terhadap agamanya ketika beliau bertanya tentang apa yang Allah wajibkan kepadanya tentang ibadah. Sungguh berbeda dengan keadaan sebagian dari kita yang justru menyesal setelah mengetahui sesuatu yang wajib atau sesuatu yang haram baginya, seraya berkata, “Seandainya aku belum tahu tentang hal ini, maka tentu aku tidak akan berdosa jika aku melanggarnya.”

Dan lihatlah betapa besar semangat orang badui tersebut untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang permasalahan agama yang tidak dia ketahui, sebagaimana ini adalah perintah Allah dalam al-Qur’an. Kisah orang badui ini adalah bukti bahwa satu amal kebaikan akan mengantarkan kepada amal-amal kebaikan berikutnya.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

#artikel, #ibadah, #penyejuk-hati

Terdapat hikmah dalam setiap musibah

Segala musibah yang menimpa kita, seluruh penyakit yang kita derita, ketahuilah bahwa pada asalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai itu semua terjadi pada kita. Akan tetapi, Allah menetapkan hal itu terjadi karena ada hikmah di baliknya, baik apakah hikmah tersebut bisa kita pahami atau tidak.

Itu karena sesuatu yang dicintai oleh Allah itu ada dua jenis: mahbub lidzatihi (sesuatu yang dicintai Allah secara dzatnya itu sendiri) dan mahbub lighairihi (sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain).

Sesuatu yang dicintai Allah secara dzatnya itu sendiri, contohnya adalah nikmat yang Allah berikan pada kita berupa kesehatan, makanan, minuman, tempat tinggal, atau kabar baik yang kita dengar, atau keberhasilan yang kita raih, selama itu bukan perkara yang diharamkan oleh Allah. Semua ini adalah sesuatu yang Allah suka untuk terjadi pada diri kita atau untuk kita miliki.

Adapun sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain, maka pada dasarnya ia adalah sesuatu yang Allah benci untuk terjadi pada kita. Akan tetapi, karena ada hikmah di baliknya yang lebih besar daripada keburukannya, maka Allah tetapkan hal itu untuk terjadi.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menerangkan tentang hal ini, beliau berkata,

“Sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain, maka bisa jadi ia adalah sesuatu yang dibenci secara dzatnya itu sendiri, akan tetapi Allah mencintainya karena adanya hikmah dan mashlahat, sehingga ia menjadi sesuatu yang disukai dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain.

Contoh: Kerusakan di muka bumi yang dilakukan oleh Bani Isra’il secara dzatnya adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah karena Allah tidak menyukai kerusakan dan juga tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Akan tetapi, di sisi yang lain hikmah yang terkandung di balik kerusakan ini disukai oleh Allah.

Contoh lainnya adalah musim paceklik, bencana kekeringan, penyakit, dan kemiskinan. Karena Allah tidak suka untuk menyakiti hamba-hambaNya dengan hal-hal tersebut. Akan tetapi, Allah menginginkan kemudahan untuk para hambaNya. Namun, Dia menetapkan hal itu semua untuk terjadi karena adanya hikmah di baliknya, sehingga ia menjadi sesuatu yang dicintai oleh Allah dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang mereka lakukan, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [al-Qur’an, surat ar-Rum, 41]

Jika dikatakan: Bagaimana bisa sesuatu itu dicintai dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain?

Maka jawabannya: Seorang yang sakit diberikan sedosis obat yang pahit, yang bau dan warnanya tidak disukai. Lalu dia meminumnya. Dia membenci rasa, bau, dan warna obat tersebut, tetapi dia menyukainya karena obat tersebut bisa menyembuhkan. Begitu pula thabib yang mengobati pasien dengan menggunakan besi yang dipanaskan dengan api, sehingga pasien tersebut merasa kesakitan akibatnya. Maka, rasa sakit ini dibenci dari satu sisi, tetapi disukai dari sisi yang lain.” [al-Qaulul-Mufid ‘ala Kitabit-Tauhid, karya Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, 1/26]

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

#artikel, #hikmah, #musibah, #penyakit, #penyejuk-hati

Kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid 2 – Pengertian dan hakikat tauhid

Judul Kajian: Pengertian dan hakikat tauhid

عنوان الدرس: حد التوحيد وحقيقته

Kitab: Min Ma’alimit-Tauhid, karya Syaikh ‘Abdur-Razzaq ibn ‘Abdil-Muhsin al-Badr hafizhahullah

الكتاب: من معالم التوحيد، للشيخ عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر حفظه الله

Audio: ~ 37 menit

Halaman kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid

Halaman kajian

#akidah-tauhid, #kajian, #tauhid

Tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi

Sebagian orang berkata, “Paham bahasa Arab bukan jaminan agar bisa berada di atas jalan yang lurus.”

Kemudian mereka biasanya menyebutkan pakar bahasa Arab yang memiliki kesalahan fatal dalam akidah, seperti Washil ibn ‘Atha’. Dia sangat fasih dalam bahasa Arab sampai-sampai dia bisa dengan tanpa persiapan sebelumnya untuk berkhuthbah tanpa sama sekali menyebutkan kata yang mengandung huruf ر (raa’), untuk menghindari menanggung malu di depan banyak orang dan ulama’ lainnya karena dia adalah seorang yang cadel. Namun, dia adalah pendiri sekte Mu’tazilah, salah satu sekte sesat dalam Islam.

Akan tetapi, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi.

Itu karena untuk berada di atas ash-shirathul-mustaqim (jalan yang lurus), kita membutuhkan dua kunci: ilmu dan ittiba’ (patuh).

فمن كان أعرف للحق وأتبع له كان أولى بالصراط المستقيم.

“Barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih patuh untuk mengikutinya maka dia lebih berhak atas jalan yang lurus.” (at-Tafsir al-Muyassar, surat al-Fatihah, 7)

Mereka yang ahli dalam bahasa Arab, tetapi menyimpang dari jalan yang lurus, memiliki kunci pertama (yaitu ilmu), tetapi tidak memiliki kunci kedua (yaitu ittiba’).

Dan mereka yang tidak paham bahasa Arab, maka bisa jadi mereka memiliki ittiba’, tetapi mereka tidak memiliki alat yang sangat penting untuk menimba ilmu: bahasa.

Mereka memiliki ittiba’. Maka berdasarkan asumsi ini mereka pasti berusaha untuk mengikuti Sunnah dan berpegang teguh padanya. Akan tetapi, bagaimana mereka mengikuti Sunnah sedangkan dalam waktu yang sama mereka tidak bisa membaca dan belajar secara langsung dari literatur para ulama’ yang menjelaskan Sunnah?

Na’am, jawabannya adalah mereka akan berpegang teguh pada ulama’. Pada kenyataannya, mereka hanya memiliki akses pada sejumlah sedikit ulama’ yang mereka bisa tanyai ketika mereka menemukan masalah. Alih-alih mengikuti dalil, pada kenyataannya mereka mengikuti pemahaman ulama’ tersebut tentang dalil. Ini tidak akan menjadi masalah jika mereka memilih ulama’ yang terpercaya dan jika mereka duduk di majelis ilmu mereka secara rutin.

Tidak memiliki ulama’ yang terpercaya sebagai tempat menimba ilmu adalah, sebagai contoh, sumber masalah untuk mereka yang berdoa kepada orang mati di kuburan. Mereka percaya pada ulama’ yang salah yang pada akhirnya mengarahkan mereka pada kesyirikan yang hina.

Dan tidak duduk di majelis ilmu secara rutin akan membuat kita tidak bisa menyadari kesalahan diri kita sendiri walaupun bisa jadi kesalahan tersebut telah kita miliki sejak bertahun-tahun yang lalu. Karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menemukan masalah, kita tidak akan bertanya tentang sesuatu yang tidak kita anggap sebagai masalah — padahal sebenarnya itu adalah masalah. Kita tidak akan tahu keyakinan apa yang kita miliki dan perbuatan apa yang kita lakukan yang ternyata sebenarnya adalah kesalahan karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menganggap sesuatu sebagai masalah.

Oleh karena itu, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi. Ini karena kita membutuhkan dua kunci untuk bisa berada di atas jalan yang lurus: ilmu dan ittiba’. Membuat perbandingan dengan mereka yang ahli dalam bahasa Arab tetapi menyimpang pada dasarnya adalah hanya melihat pada satu kunci saja (yaitu ilmu) dan menghiraukan kunci lainnya (yaitu ittiba’). Cara yang benar untuk membuat perbandingan adalah dengan membandingkan dua orang yang memiliki level ittiba’ yang sama, tetapi satu orang adalah seorang yang ahli dalam bahasa Arab dan satunya lagi benar-benar buta di dalamnya. Sekarang kira-kira mana yang lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus?

Ada yang telah sepuh berumur lebih dari 60 tahun tetapi masih mau berjuang untuk belajar bahasa Arab. Beliau belajar apa itu ism, fi’l, dan harf. Beliau belajar tentang i’rab. Beliau menghafalkan tabel tashrif fi’l yang biasanya adalah mimpi buruk bagi para pelajar.

Jadi, kapan kita mau memulai belajar bahasa Arab?

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

#artikel, #bahasa-arab, #ilmu, #ittiba

Kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid 1 – Kekhususan dan keutamaan tauhid

Judul Kajian: Kekhususan dan keutamaan tauhid

عنوان الدرس: خصائص التوحيد وفضائله

Kitab: Min Ma’alimit-Tauhid, karya Syaikh ‘Abdur-Razzaq ibn ‘Abdil-Muhsin al-Badr hafizhahullah

الكتاب: من معالم التوحيد، للشيخ عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر حفظه الله

Audio: ~ 1 jam 17 menit

Halaman kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid

Halaman kajian

#akidah-tauhid, #kajian, #tauhid