Amalan dzikir sehari semalam, disusun berdasarkan waktunya

Dalam rangka untuk memudahkan para pembaca untuk mengamalkan dzikir-dzikir pada kitab ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (Amalan Dzikir Sehari Semalam) karya Syaikh Ibn Hajar al-‘Asqalaaniy rahimahullah yang telah kami terjemahkan sebelumnya, maka berikut ini telah kami atur secara sistematik dzikir-dzikir tersebut berdasarkan waktunya (waktu shubuh, petang, siang, dan malam) beserta perubahan lafazh yang harus kita lakukan untuk menyesuaikan dengan waktunya.

Namun sebelumnya, kita harus mengetahui tentang definisi waktu shubuh, petang, siang, dan malam, sebagai berikut:

  • Waktu siang dimulai dari masuknya waktu shubuh hingga masuknya waktu maghrib.
  • Waktu malam dimulai dari masuknya waktu maghrib hingga masuknya waktu shubuh.
  • Waktu shubuh dimulai dari terbitnya fajar shaadiq hingga terbitnya matahari.
  • Waktu petang adalah waktu maghrib, dimulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnya syafaq merah.

Oleh karena itu, waktu shubuh adalah awal dari waktu siang, sedangkan waktu petang adalah awal dari waktu malam.

Hadits-hadits yang disebutkan pada kitab ini adalah hadits-hadits yang dinilai sebagai hadits shahih atau hasan oleh Syaikh Ibn Hajar al-‘Asqalaaniy rahimahullah. Namun, dalam beberapa hadits, terdapat perbedaan pendapat di kalangan muhadditsin tentang derajat hadits tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shaalih ibn ‘Abdillaah al-‘Ushaimiy hafizhahullah. Di antaranya:

  • Dzikir pertama pada hadits no. 2, ada ulama’ yang menilai bahwa lafazh “sebanyak tiga kali” adalah lafazh yang lemah. Yang kuat adalah bahwa dzikir ini dibaca satu kali saja.
  • Hadits no. 4, ada ulama’ yang menilai bahwa lafazh “waktu petang” adalah lafazh yang lemah. Yang kuat adalah bahwa dzikir ini dibaca ketika waktu shubuh saja.
  • Hadits no. 10, 13, 14, dan 20, ada ulama’ yang menilainya sebagai hadits dha’if.

Ketika terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama’ mujtahid tentang sebuah permasalahan, maka:

  • Jika kita memiliki kemampuan ijtihad untuk menentukan mana pendapat yang terkuat, maka wajib bagi kita untuk memilih dan mengamalkan pendapat yang terkuat tersebut.
  • Jika kita tidak memiliki kemampuan tersebut, tetapi telah sampai kepada kita penjelasan ilmiah yang memuaskan dari orang yang berilmu tentang mana yang merupakan pendapat yang terkuat, maka wajib bagi kita untuk memilih dan mengamalkan pendapat yang terkuat tersebut.
  • Jika tidak sampai kepada kita penjelasan yang memuaskan, atau telah sampai penjelasan kepada kita namun kita masih ragu manakah yang merupakan pendapat yang terkuat, maka wajib bagi kita untuk memilih dan mengamalkan pendapat dari ulama’ yang lebih kita percayai keilmuwan dan ketakwaannya.

Tentunya, semua ini kita lakukan dengan berniat tulus ikhlas ingin mencari kebenaran yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuang jauh-jauh sikap fanatik kepada ulama’ atau kelompok tertentu.

Selain itu, ada beberapa hadits dalam kitab ini yang memiliki riwayat lain yang tidak disebutkan oleh Syaikh Ibn Hajar al-‘Asqalaaniy rahimahullah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shaalih ibn ‘Abdillaah al-‘Ushaimiy hafizhahullah. Di antaranya:

  • Hadits no. 3, riwayat lain menyebutkan bahwa dzikir ini juga disyari’atkan untuk diucapkan sebanyak 100 kali pada waktu siang. Jadi, dzikir ini disyari’atkan pada dua waktu: waktu shubuh-petang sebanyak 100 kali (berdasarkan hadits no. 3) dan waktu siang sebanyak 100 kali (berdasarkan riwayat lain). Oleh karena itu, jika seseorang mengucapkan dzikir ini sebanyak 100 kali pada waktu shubuh dengan meniatkan untuk dzikir waktu shubuh dan sekaligus dzikir waktu siang, maka baginya terkumpul dua pahala. Namun, yang paling afdhal adalah mengucapkan dzikir ini sebanyak 100 kali pada waktu shubuh lalu mengucapkannya lagi sebanyak 100 kali pada waktu siang setelah waktu shubuh.
  • Hadits no. 12, riwayat lain menyebutkan bahwa dzikir ini dibaca 10 kali sebagai dzikir shubuh dan petang, dan dibaca 100 kali sebagai dzikir siang dan malam.

Setelah beberapa pendahuluan ini, berikut kami persembahkan kepada para pembaca dzikir-dzikir dari kitab ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (Amalan Dzikir Sehari Semalam) karya Syaikh Ibn Hajar al-‘Asqalaaniy rahimahullah yang telah kami atur secara sistematik berdasarkan waktunya, berdasarkan penilaian derajat hadits dari beliau rahimahullah, dan berdasarkan riwayat lain dari hadits (jika ada) walaupun itu tidak disebutkan oleh beliau rahimahullah di dalam kitab.


1. Bagian pertama: Waktu shubuh dan petang

1.1. Jenis pertama: Dzikir yang diucapkan ketika waktu shubuh saja

Dzikir pada hadits no. 16 (sebanyak 1 kali)

أصبحنا على فطرة الإسلام وكلمة الإخلاص، وعلى دين نبينا محمد وعلى ملة أبينا إبراهيم حنيفا وما كان من المشركين

[Ashbahnaa ‘alaa fithratil-Islaam wa kalimatil-ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa millati abiinaa Ibraahiim haniifan wa maa kaana minal-musyrikiin.]

[Kami memasuki waktu shubuh di atas fithrah Islam dan kalimat ikhlas, dan di atas agama Nabi kami Muhammad, dan di atas agama ayah kami Ibraahiim, seorang yang hanif dan bukan dari kalangan kaum musyrikin.]

1.2. Jenis kedua: Dzikir yang diucapkan ketika waktu petang saja

Dzikir pertama pada hadits no. 2 (sebanyak 3 kali)

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

[A’uudzu bikalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaqa.]

[Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhlukNya.]

1.3. Jenis ketiga: Dzikir yang diucapkan ketika waktu shubuh dan petang

Dzikir pada hadits no. 1 (sebanyak 1 kali)

اللهم أنت ربي، لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شر ما صنعت، أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي، فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

[Allaahumma anta Rabbiy, laa ilaaha illaa anta, khalaqtaniy wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uudzu bika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u laka bidzanbiy, faghfir liy, fa’innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta.]

[Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hambaMu. Dan aku selalu berusaha untuk berada dalam ketaatan kepadaMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan amalanku. Aku mengakui seluruh nikmatMu kepadaku dan aku juga mengakui seluruh dosaku. Maka, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.]

Untuk perempuan, kalimat wa ana ‘abduka diubah menjadi

وأنا أمتك

[Wa ana amatuka.]

[Dan aku adalah hambaMu.]

Dzikir kedua pada hadits no. 2 (sebanyak 3 kali)

بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم

[Bismillaahil-ladziy laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil-ardhi wa laa fis-samaa’ wa huwas-samii’ul-‘aliim.]

[Dengan menyebut Nama Allah yang dengan NamaNya tidak ada sesuatu yang bisa membahayakan di bumi dan di langit, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.]

Dzikir pada hadits no. 3 (sebanyak 100 kali)

سبحان الله وبحمده

[Subhaanallaahi wa bihamdihi.]

[Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya.]

Dzikir pada hadits no. 4 (sebanyak 1, 2, 3, atau 4 kali)

اللهم إني أصبحت أشهدك وأشهد حملة عرشك وملائكتك وجميع خلقك أنك أنت الله لا إله إلا أنت وأن محمدا عبدك ورسولك

[Allaahumma inniy ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa malaa’ikataka wa jamii’a khalqika annaka antallaah laa ilaaha illaa anta wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuuluka.]

[Ya Allah, memasuki waktu shubuh ini aku memanggilMu, para pemanggul ‘arsy-Mu, para malaikatMu, dan seluruh makhlukMu untuk bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hambaMu dan rasulMu.]

Dalam riwayat lain, setelah ucapan laa ilaaha illaa anta ditambah dengan ucapan,

وحدك لا شريك لك

[Wahdaka laa syariika laka.]

[Engkaulah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiMu.]

Ketika waktu petang, frasa Allaahumma inniy ashbahtu diubah menjadi

اللهم إني أمسيت

[Allaahumma inniy amsaitu]

[Ya Allah, memasuki waktu petang ini]

Dzikir pada hadits no. 5 (sebanyak 1 kali)

Ketika waktu shubuh,

أصبحنا وأصبح الملك لله، والحمد لله، ولا إله إلا الله وحده لا شريك له، رب أسألك خير ما في هذا اليوم وخير ما بعده، وأعوذ بك من شر ما في هذا اليوم وشر ما بعده، رب أعوذ بك من الكسل وسوء الكبر، رب أعوذ بك من عذاب في النار وعذاب في القبر

[Ashbahnaa wa ashbahal-mulku lillaah, wal-hamdu lillaah, wa laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, Rabbi as’aluka khaira maa fiy haadzal-yaum wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fiy haadzal-yaum wa syarri maa ba’dahu, Rabbi a’uudzu bika minal-kasali wa suu’il-kibar, Rabbi a’uudzu bika min ‘adzaabin fin-naar wa ‘adzaabin fil-qabr.]

[Kami memasuki waktu shubuh dan begitu pula Kerajaan milik Allah memasuki waktu shubuh. Segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dialah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiNya. Tuhanku, aku meminta kepadaMu kebaikan pada apa yang ada pada siang ini dan kebaikan pada apa yang datang setelahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan pada apa yang ada pada siang ini dan keburukan pada apa yang datang setelahnya. Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari sifat malas dan keburukan masa tua. Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari azab di neraka dan azab di dalam kubur.]

Ketika waktu petang,

أمسينا وأمسى الملك لله، والحمد لله، ولا إله إلا الله وحده لا شريك له، رب أسألك خير ما في هذه الليلة وخير ما بعدها، وأعوذ بك من شر ما في هذه الليلة وشر ما بعدها، رب أعوذ بك من الكسل وسوء الكبر، رب أعوذ بك من عذاب في النار وعذاب في القبر

[Amsainaa wa amsal-mulku lillaah, wal-hamdu lillaah, wa laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, Rabbi as’aluka khaira maa fiy haadzihil-lailah wa khaira maa ba’dahaa, wa a’uudzu bika min syarri maa fiy haadzihil-lailah wa syarri maa ba’dahaa, Rabbi a’uudzu bika minal-kasali wa suu’il-kibar, Rabbi a’uudzu bika min ‘adzaabin fin-naar wa ‘adzaabin fil-qabr.]

[Kami memasuki waktu petang dan begitu pula Kerajaan milik Allah memasuki waktu petang. Segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dialah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiNya. Tuhanku, aku meminta kepadaMu kebaikan pada apa yang ada pada malam ini dan kebaikan pada apa yang datang setelahnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan pada apa yang ada pada malam ini dan keburukan pada apa yang datang setelahnya. Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari sifat malas dan keburukan masa tua. Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari azab di neraka dan azab di dalam kubur.]

Dzikir pada hadits no. 6 (sebanyak 1 kali)

اللهم بك أصبحنا وبك أسمينا وبك نحيا وبك نموت وإليك النشور

[Allaahumma bika ashbahnaa wa bika amsainaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan-nusyuur.]

[Ya Allah, dengan pertolonganMu kami memasuki waktu shubuh, dan dengan pertolonganMu kami memasuki waktu petang, dan dengan pertolonganMu kami hidup, dan dengan pertolonganMu kami mati, dan kepadaMu-lah kami dibangkitkan.]

Ketika waktu petang, kalimat wa ilaikan-nusyuur diubah menjadi

وإليك المصير

[Wa ilaikal-mashiir.]

[Dan kepadaMu-lah kami kembali.]

Dzikir pada hadits no. 7 (sebanyak 1 kali)

اللهم فاطر السموات والأرض، عالم الغيب والشهادة، رب كل شيء ومليكه، أشهد أن لا إله إلا أنت، أعوذ بك من نفسي وشر الشيطان وشركه

[Allaahumma faathiras-samaawaati wal-ardh, ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadah, rabba kulli syai’in wa maliikah, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, a’uudzu bika min nafsiy wa syarrisy-syaithaani wa syirkihi.]

[Ya Allah, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui hal yang ghaib dan yang tampak, tuhan segala sesuatu dan pemiliknya, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku berlindung kepadaMu dari diriku, dan dari keburukan syaithan dan kesyirikannya.]

Lafazh wa syirkihi pada riwayat lain dibaca

وشركه

[Wa syarakihi]

[Dan tipu dayanya]

Jadi, hendaknya gunakan lafazh wa syirkihi dan wa syarakihi ini secara bergantian.

Dzikir ini juga diucapkan ketika hendak tidur malam.

Dzikir pada hadits no. 8 (sebanyak 1 kali)

اللهم إني أسألك العافية في الدنيا والآخرة، اللهم إني أسألك العفو والعافية في ديني وأهلي ومالي، اللهم استر عوراتي وآمن روعاتي، اللهم احفظني من بين يدي ومن خلفي وعن يميني وعن شمالي ومن فوقي، وأعوذ بعظمتك أن أغتال من تحتي

[Allaahumma inniy as’alukal-‘aafiyah fid-dunyaa wal-aakhirah, Allaahumma inniy as’alukal-‘afwa wal-‘aafiyah fiy diiniy wa ahliy wa maaliy, Allaahummas-tur ‘auraatiy wa aamin rau’aatiy, Allaahummah-fazhniy min baini yadayya wa min khalfiy wa ‘an yamiiniy wa ‘an syimaaliy wa min fauqiy, wa a’uudzu bi’azhamatika an ughtaala min tahtiy.]

[Ya Allah, aku memohon kepadaMu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan pada agamaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutuplah kesalahanku dan tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah, lindungilah aku dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dan dari atas, dan aku berlindung dengan KeagunganMu dari bahaya dari bawah.]

Dzikir pada hadits no. 9 (sebanyak 1 kali)

اللهم ما أصبح بي من نعمة فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر

[Allaahumma maa ashbaha biy min ni’matin faminka wahdaka laa syariika laka, falakal-hamdu wa lakasy-syukru.]

[Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku ketika waktu shubuh ini, maka itu semua dariMu, Engkaulah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiMu. Maka segala puji bagiMu dan segala syukur untukMu.]

Ketika waktu petang, frasa Allaahumma maa ashbaha biy diubah menjadi

اللهم ما أمسى بي

[Allaahumma maa amsaa biy]

[Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku ketika waktu petang ini]

Dzikir pada hadits no. 10 (sebanyak 3 kali)

اللهم عافني في بدني، اللهم عافني في سمعي، اللهم عافني في بصري، لا إله إلا أنت

[Allaahumma ‘aafiniy fiy badaniy, Allaahumma ‘aafiniy fiy sam’iy, Allaahumma ‘aafiniy fiy bashariy, laa ilaaha illaa anta.]

[Ya Allah, berikanlah kesehatan pada badanku. Ya Allah, berikanlah kesehatan pada pendengaranku. Ya Allah, berikanlah kesehatan pada penglihatanku. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.]

Dzikir pada hadits no. 11 (sebanyak 1 kali)

رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا

[Radhiitu billaahi rabban, wa bil-Islaami diinan, wa biMuhammadin rasuulan.]

[Aku ridha’ kepada Allah sebagai tuhanku, dan kepada Islam sebagai agamaku, dan kepada Muhammad sebagai rasulku.]

Dzikir pada hadits no. 12 (sebanyak 10 kali)

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

[Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.]

[Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dialah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya seluruh kerajaan dan segala puji. Dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.]

Dzikir pada hadits no. 13 (sebanyak 1 kali)

سبحان الله وبحمده، لا قوة إلا بالله، ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن، أعلم أن الله على كل شيء قدير، وأن الله قد أحاط بكل شيء علما

[Subhaanallaah wa bihamdihi, laa quwwata illaa billaah, maa syaa’allaahu kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun, a’lamu annallaaha ‘alaa kulli syai’in qadiir, wa annallaaha qad ahaatha bikulli syai’in ‘ilman.]

[Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganNya. Apa yang Dia kehendaki maka akan terjadi. Dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi.]

Dzikir pada hadits no. 14 (sebanyak 1 kali)

فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون، وله الحمد في السموات والأرض وعشيا وحين تظهرون، يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ويحيي الأرض بعد موتها، وكذلك تخرجون

[Fasubhaanallaahi hiina tumsuuna wa hiina tushbihuuna, wa lahul-hamdu fis-samaawaati wal-ardhi wa ‘asyiyyan wa hiina tuzhhiruuna, yukhrijul-hayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-hayyi wa yuhyil-ardha ba’da mautihaa, wa kadzaalika tukhrajuun.]

[Maka bertasbihlah kepada Allah ketika waktu petang dan shubuh, dan bagiNya-lah segala puji di langit dan di bumi dan ketika waktu petang dan waktu zhuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari kubur).]

Dzikir pada hadits no. 15 (sebanyak 1 kali)

يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث، أصلح لي شأني كله، ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين

[Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, birahmatika astaghiitsu, ashlih liy sya’niy kullahu, wa laa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ain.]

[Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan. Perbaikilah untukku urusanku seluruhnya, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekedar sekejap mata.]


2. Bagian kedua: Waktu siang dan malam

2.1. Jenis pertama: Dzikir yang diucapkan ketika waktu siang saja

Dzikir pada hadits no. 3 (sebanyak 100 kali)

سبحان الله وبحمده

[Subhaanallaahi wa bihamdihi.]

[Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya.]

2.2. Jenis kedua: Dzikir yang diucapkan ketika waktu malam saja

Dzikir pada hadits no. 17

Dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah.

Dzikir pada hadits no. 18

Sepuluh ayat al-Qur’an.

Dzikir pada hadits no. 19

Seratus ayat al-Qur’an.

Dzikir pada hadits no. 20

Surat Yaasiin.

2.3. Jenis ketiga: Dzikir yang diucapkan ketika waktu siang dan malam

Dzikir pada hadits no. 12 (sebanyak 100 kali)

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

[Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.]

[Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dialah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya seluruh kerajaan dan segala puji. Dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.]


Disusun oleh Andy Latief.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.



Categories: Amalan Ibadah

Tags: , ,

1 reply

Trackbacks

  1. Amalan dzikir sehari semalam – Andy Latief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s