Memahami makna keikhlasan

20171110 - Bulletin v2

Klik gambar untuk mengunduh buletin ini, lalu cetak pada kertas Folio (F4) dan bagikan di masjid terdekat anda setelah diizinkan takmir.

Dua syarat diterimanya ibadah

Agar ibadah kita diterima, harus terpenuhi dua syarat: ikhlas dan ittiba’. Ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan ittiba’ adalah mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengerjakan ibadah tersebut. Dua syarat ini adalah kandungan dari kalimat syahadat. Ikhlas adalah kandungan dari kalimat syahadat pertama, yang berbunyi, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah,” sementara ittiba’ adalah kandungan dari kalimat syahadat kedua, yang berbunyi, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Karena diterimanya ibadah kita oleh Allah bergantung pada dua syarat ini, maka wajib bagi kita untuk mempelajari dan memahaminya. Pada buletin ini, insyaAllah kita akan membahas syarat pertama, yaitu ikhlas.

(Baca juga: Mengikuti Sunnah Nabi dalam beribadah)

Makna ikhlas

Ketika kita mengerjakan sebuah ibadah, ada dua pertanyaan yang harus senantiasa kita perhatikan. Pertama: Kepada siapakah ibadah tersebut kita tujukan? Kedua: Karena apakah ibadah tersebut kita lakukan?

Jika ibadah tersebut kita tujukan hanya untuk Allah karena mengharap ridhaNya atau pahala dariNya, maka inilah yang disebut ikhlas. Tidak boleh tidak, harus terkumpul dua hal ini pada ibadah kita. Jika hanya terdapat salah satunya, maka ibadah kita tidaklah dibangun di atas keikhlasan.

Empat kategori manusia

Berdasarkan dua pertanyaan di atas, ada empat kategori manusia berdasarkan keikhlasannya dalam beribadah.

Pertama: Orang yang ibadahnya ditujukan hanya untuk Allah karena mengharap akhirat

Inilah orang yang ikhlas dalam beribadah. Dia mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah, dan dia mengikhlaskan niatnya ketika melakukan ibadah tersebut. Inilah yang disebut tauhid.

Kedua: Orang yang ibadahnya ditujukan hanya untuk Allah karena mengharap dunia

Misal, orang yang shalat karena mengharap pujian manusia di sekelilingnya. Shalatnya ditujukan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi motivasinya untuk shalat adalah karena riya’. Dia telah melakukan syirik ashghar, dan shalatnya tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan, dia sekutukan Aku dengan selainKu pada amalannya itu, maka Aku tinggalkan ia dan kesyirikannya tersebut.’” [Shahih Muslim, no. 2985]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [al-Qur’an, surat al-Isra’, 18]

Sungguh merugi orang yang menginginkan dunia dengan ibadahnya tersebut. Bisa jadi Allah mengabulkan keinginan duniawinya tersebut, bisa jadi tidak. Itu karena Allah telah berfirman pada ayat di atas bahwa Dia akan memberikan hal duniawi hanya kepada orang yang Dia kehendaki, tidak harus kepada semua orang. Kalaupun dia termasuk orang yang Allah kehendaki itu, maka bisa jadi dia tidak mendapatkan seluruh dari keinginan duniawinya tersebut. Itu karena Allah telah berfirman pada ayat di atas bahwa Dia akan memberikan hal duniawi dengan kadar sesuai yang Dia kehendaki, tidak harus sesuai kadar yang orang itu inginkan. Jika dia menginginkan murni hal duniawi pada seluruh ibadahnya, seperti keadaan orang munafik dengan nifaq akbar, maka Allah mengancamnya dengan neraka Jahannam pada ayat di atas.

Sungguh berbeda keadaannya untuk orang yang beribadah karena mengharap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sementara ia adalah orang yang beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” [al-Qur’an, surat al-Isra’, 19]

Ketiga: Orang yang ibadahnya ditujukan untuk selain Allah karena mengharap akhirat

Misal, orang yang menjadikan para wali atau orang shalih yang sudah meninggal sebagai perantara untuk berdoa kepada Allah. Mereka merasa jika mereka menjadikan orang shalih yang sudah meninggal tersebut sebagai perantara ketika berdoa, maka doanya akan lebih mudah diterima oleh Allah. Mereka meminta syafa’at kepada orang yang sudah mati agar di akhirat kelak mereka bisa masuk surga atau ditinggikan derajatnya di surga.

Semua ini adalah syirik akbar, walaupun yang mereka harapkan adalah akhirat, karena bertawassul kepada orang mati (yakni, mengambil orang mati sebagai perantara) dalam berdoa kepada Allah itu adalah syirik akbar. Meminta syafa’at kepada orang mati adalah syirik akbar. Inilah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu. Mereka beribadah kepada al-Latta bukan karena mereka meyakini bahwa al-Latta adalah tuhan yang menciptakan mereka, atau menciptakan langit dan bumi, atau memberikan mereka rezeki. Tetapi, karena mereka meyakini bahwa al-Latta adalah orang shalih yang sudah mati yang dapat menjadi perantara bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan. Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di Sisi Allah.’” [al-Qur’an, surat Yunus, 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata, ‘Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” [al-Qur’an, surat az-Zumar, 3]

Keempat: Orang yang ibadahnya ditujukan untuk selain Allah dan juga tidak mengharap balasan dari Allah

Misal, orang yang berdoa kepada jin penunggu rumah atau penunggu pohon untuk meminta perlindungan dan keselamatan dari gangguan pencuri atau marabahaya lainnya. Atau, orang yang berdoa kepada jin agar dia bisa kaya atau bisa memiliki ilmu kanuragan. Atau, orang yang mendekatkan diri kepada jin penunggu sebuah tempat keramat dengan cara memberikan sajen atau menyembelih hewan kurban dengan harapan agar hajat orang tersebut terkabul.

Semua ini adalah syirik akbar karena doa adalah ibadah. Isti’adzah (meminta perlindungan) adalah ibadah. Menyembelih hewan kurban untuk mendekatkan diri adalah ibadah. Dan ibadah tidak boleh diarahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menghindari perbuatan-perbuatan di atas, dan wajib bagi kita untuk bertaubat darinya jika kita telah terjatuh ke dalamnya.

Bisa jadi dia mendapatkan apa yang dia minta itu. Bisa jadi dia benar-benar mendapatkan keselamatan dari marabahaya, benar-benar menjadi kaya, atau memiliki ilmu kanuragan setelah berdoa kepada jin tersebut. Tetapi, ini tidaklah berarti bahwa hal tersebut bukanlah kesyirikan. Ia adalah syirik akbar walaupun bisa jadi mendatangkan manfaat duniawi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang juga berdoa kepada tuhan lain selain Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya adalah di Sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang kafir itu tidaklah beruntung.” [al-Qur’an, surat al-Mu’minun, 117]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada nabi-nabi sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan Allah, maka niscaya akan terhapus amalanmu dan kamu akan termasuk orang-orang yang merugi.’” [al-Qur’an, surat az-Zumar, 65]

Andy Latief



Categories: Akidah & Tauhid

Tags: , , , , , ,

1 reply

Trackbacks

  1. Mengikuti Sunnah Nabi dalam beribadah – Andy Latief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s