Mengikuti Sunnah Nabi dalam beribadah

20171117 - Bulletin v2

Klik gambar untuk mengunduh buletin ini, lalu cetak pada kertas Folio (F4) dan bagikan di masjid terdekat anda setelah diizinkan takmir.

Pada buletin sebelumnya, kita telah membahas salah satu dari dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas. Seseorang yang beribadah haruslah mengarahkan ibadahnya hanya kepada Allah dan meluruskan niatnya ketika melakukan ibadahnya tersebut. Akan tetapi, ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi. Dia harus ittiba’ atau mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengerjakan ibadah. “Niat baik” tidaklah cukup, walaupun ia penting sekali untuk kita miliki. Tetapi, tidak boleh tidak, tata cara ibadah yang kita lakukan juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalil-dalil wajibnya mengikuti Sunnah Nabi

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maha Suci Allah, yang di TanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [al-Qur’an, surat al-Mulk, 1-2]

al-Fudhail ibn ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) berkata, “Yang paling baik amalnya: yang paling ikhlas dan paling benar.” Kemudian ada yang bertanya, “Apa maksud dari yang paling ikhlas dan paling benar?” Lalu beliau menjawab, “Amalan yang ikhlas adalah amalan yang hanya untuk Allah, sedangkan amalan yang benar adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah.” [Tafsir al-Baghawiy, surat al-Mulk, 2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” [al-Qur’an, surat Ali ‘Imran, 31]

Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kaum kafir Quraisy yang sedang menyembah dan bersujud kepada berhala-berhala mereka di al-Masjidil-Haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi agama bapak kalian, Ibrahim dan Isma’il.” Kemudian mereka berkata, “Sungguh kami beribadah kepada berhala-berhala ini tidak lain karena kami mencintai Allah dan dalam rangka untuk mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang semakna dengan ayat di atas. [Tafsir al-Baghawiy, surat al-Mulk, 2]

Itulah mengapa ayat 31 surat Ali ‘Imran ini disebut sebagai ayatul-mihnah (ayat ujian) oleh para ulama’ terdahulu. Sebab, barangsiapa yang mengaku mencintai Allah, maka dia harus membuktikan cintanya tersebut dengan mengikuti tuntunan Nabi. al-Hasan al-Bashriy rahimahullah (w. 110 H) berkata, “Sebuah kaum mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini.” [Tafsir Ibn Katsir, surat Ali ‘Imran, 31]

Ibn Katsir rahimahullah (w. 774 H) berkata, “Ayat yang mulia ini adalah hakim bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas tuntunan Nabi. Maka, sesungguhnya dia telah berdusta dengan klaimnya tersebut. Kecuali jika dia mengikuti tuntunan Nabi dalam seluruh perkataan dan perbuatannya, sebagaimana telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan ibadahnya tersebut tertolak.’” [Tafsir Ibn Katsir, surat Ali ‘Imran, 31]

Contoh amalan ibadah yang menyelisihi Sunnah Nabi

Jenis pertama: Amalan ibadah yang secara asalnya tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh: Shalat dengan sekedar eling (ingat) dalam hati. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” [Shahih al-Bukhariy, no. 631] Dan telah diketahui bahkan oleh orang yang baru masuk Islam sekalipun bahwa shalat dalam islam itu adalah sebuah ibadah yang diawali dengan takbiratul-ihram dan diakhiri dengan salam.

Jenis kedua: Amalan ibadah yang secara asalnya dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dilakukan dengan tata cara yang tidak sesuai dengan tuntunan beliau.

Contoh: Shalat ragha’ib dan shalat nishfu Sya’ban. Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H) berkata, “Shalat yang terkenal dengan nama shalat ragha’ib, yaitu shalat dua belas raka’at yang dikerjakan antara shalat maghrib dan isya’ pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, dan shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak seratus raka’at. Dua shalat ini adalah dua bid’ah dan dua kemungkaran yang buruk. Janganlah terkecoh dengan disebutkannya dua shalat ini pada kitab Qutul-Qulub (karya Abu Thalib al-Makkiy -penj.) dan Ihya’ ‘Ulumid-Din (karya al-Ghazzaliy -penj.), dan jangan pula terkecoh dengan hadits yang disebutkan dalam kedua kitab tersebut. Sungguh kedua shalat tersebut adalah bathil. Dan janganlah terkecoh dengan sebagian ulama’ yang samar bagi mereka hukum dua shalat ini sehingga mereka menulis karya-karya tentang disunnahkannya dua shalat tersebut. Sungguh ini adalah kesalahan. Syaikh Imam Abu Muhammad ‘Abdur-Rahman ibn Isma’il al-Maqdisiy telah menulis sebuah kitab yang sangat bagus tentang bathilnya dua shalat tersebut, dan beliau membahas hal ini dengan pembahasan yang sangat bagus sekali dalam kitabnya tersebut, rahimahullah.” [al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, karya an-Nawawiy, vol. 3, hlm. 549]

Pertanyaan: Bukankah shalat ragha’ib dan shalat nishfu Sya’ban ini adalah ibadah shalat? Mengapa seseorang yang melakukan ibadah shalat malah dianggap telah menyelisihi Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab: Karena tata caranya tidak sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya memang merupakan ibadah shalat, tetapi anggapan kita ketika meyakini dan menetapkan bahwa dalam Islam itu disyari’atkan shalat sebanyak dua belas raka’at pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab antara shalat maghrib dan isya’ dan sebanyak seratus raka’at pada malam nishfu Sya’ban, inilah yang salah.

Contoh keyakinan atau akidah yang menyelisihi Sunnah Nabi

Hal yang menyelisihi Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya berupa amalan ibadah yang zhahir saja, tetapi juga berupa keyakinan atau akidah. Bahkan, justru jenis inilah yang berbahaya, sebagaimana terlihat dari pengingkaran para ulama’ terdahulu terhadap keyakinan yang diada-adakan.

Contoh: Keyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalamullah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” [al-Qur’an, surat at-Taubah, 6] Sufyan ibn ‘Uyainah rahimahullah (w. 198 H) berkata, “al-Qur’an adalah Kalamullah. Barangsiapa yang berkata makhluk, maka ia telah mengada-ada. Kami tidak pernah mendengar satu orang pun (dari ulama’ terdahulu -penj.) yang mengatakan semisal itu.” [Ushulus-Sunnah, karya al-Humaidiy]

Contoh: Membenci para sahabat Nabi seperti Abu Bakr dan ‘Umar dengan dalih mencintai ahlul-bait. Padahal, wajib bagi kita untuk mencintai seluruh sahabat Nabi, baik ahlul-bait ataupun selainnya. Ketika menyebutkan tentang akidah yang benar, al-Humaidiy rahimahullah (w. 219 H, murid dari asy-Syafi’iy, guru dari al-Bukhariy) berkata, “Mencintai para sahabat Nabi seluruhnya, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.’ [al-Qur’an, surat al-Hasyr, 10] Jadi, tidak ada hal yang diperintahkan pada kita kecuali meminta ampunan Allah untuk mereka. Barangsiapa yang mencela mereka, atau merendahkan mereka, atau salah seorang dari mereka, maka dia tidak berada di atas Sunnah.” [Ushulus-Sunnah, karya al-Humaidiy]

Andy Latief



Categories: Manhaj Beragama

Tags: , ,

1 reply

Trackbacks

  1. Memahami makna keikhlasan – Andy Latief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s