Akhlak mulia dalam Islam

20171124 - Bulletin

Klik gambar untuk mengunduh buletin ini, lalu cetak pada kertas Folio (F4) dan bagikan di masjid terdekat anda setelah diizinkan takmir.

Setiap orang memiliki dua potret: potret zhahir dan potret bathin. Potret zhahir adalah fisik yang dimilikinya, sedangkan potret bathin adalah akhlak yang dikerjakannya. Sebagaimana ada fisik yang baik dan ada yang buruk, maka begitu pula ada akhlak yang baik dan ada yang buruk. Sedangkan akhlak yang baik, ada yang memang merupakan pembawaan dari lahir dan ada yang didapat dari belajar dan berusaha. Oleh karena itu, ada empat jenis manusia: (1) orang yang tidak memiliki akhlak mulia sama sekali; (2) orang yang memiliki akhlak mulia karena bawaan dari lahir, tetapi tidak mau belajar lagi; (3) orang yang bawaannya dari lahir tidak memiliki akhlak mulia, tetapi kemudian dia mempelajarinya; dan (4) orang yang memiliki akhlak mulia karena bawaan dari lahir dan dia terus belajar untuk lebih memperbagus lagi akhlaknya.

Dengan kata lain, akhlak kita dapat diubah walau banyak orang berkata bahwa watak tidak bisa diubah. Itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” [as-Sunan al-Kubra, karya al-Baihaqiy, no. 20782] Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” [al-Qur’an, surat al-Ahzab, 21]

Dua jenis akhlak mulia

Dalam Islam, ada dua jenis akhlak mulia: akhlak mulia terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan akhlak mulia terhadap sesama makhluk. Oleh karena itu, tidaklah seseorang bisa disebut berakhlak mulia kecuali jika dia telah menggabungkan keduanya.

Akhlak mulia terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala

Akhlak mulia terhadap Allah terangkum dalam tiga hal berikut ini:

Pertama: Meyakini kabar yang datang dari Allah.

Tidak boleh bagi kita untuk ragu terhadap setiap kabar yang datang dari Allah, baik itu disebutkan dalam al-Qur’an ataupun melalui sabda NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” [al-Qur’an, surat an-Nisa’, 87] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib, dan tidak pula aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’” [al-Qur’an, surat al-An’am, 50]

Contoh penerapan: Di antara kabar yang diwahyukan oleh Allah adalah tentang adanya hari kebangkitan di akhirat kelak, di mana setiap manusia akan dihitung amalnya. Di antara mereka ada yang masuk surga dan ada yang masuk neraka. Ini bukanlah ramalan, tetapi ini adalah kabar dari Allah. Meragukan kebenaran kabar ini merupakan bentuk akhlak yang buruk terhadap Allah, bahkan merupakan kufur akbar.

Kedua: Melaksanakan hukum Allah dan menerapkannya.

Tidak boleh bagi kita untuk menolaknya, baik menolaknya karena mengingkari hukum tersebut, atau karena sombong tidak mau mengamalkan hukum tersebut, atau karena malas untuk mengamalkannya.

Contoh penerapan: Wajib bagi kita untuk mengamalkan syari’at shalat dan hukum-hukum yang terkait dengannya (seperti shalat berjama’ah lima waktu) dengan hati yang lapang. Merasa berat dalam mengerjakannya adalah bentuk akhlak yang buruk terhadap Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat yang paling berat untuk orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat shubuh.” [Shahih al-Bukhariy, no. 657, dan Shahih Muslim, no. 651] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Yaitu, orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” [al-Qur’an, surat al-Baqarah, 45-46]

Ketiga: Menerima qadar Allah dengan sabar dan ridha’.

Wajib bagi kita untuk ridha’ dengan ketetapan Allah untuk kita. Dan wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa setiap yang Allah tetapkan itu memiliki hikmah di baliknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” [al-Qur’an, surat al-Baqarah, 155-156]

Contoh penerapan: Tidak boleh mencela hujan atau panas. Wajib untuk bersabar ketika Allah menguji kita dengan penyakit, kegagalan, atau kematian orang terdekat.

Akhlak mulia terhadap sesama makhlukNya

Akhlak mulia terhadap sesama makhlukNya terangkum dalam tiga hal berikut ini:

Pertama: Menahan gangguan.

Tidak boleh bagi kita untuk mengganggu atau membahayakan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian, adalah haram bagi kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di tanah kalian ini.” [Shahih al-Bukhariy, no. 67, dan Shahih Muslim, no. 1218]

Contoh penerapan: Tidak boleh membuat kaget orang lain, menyakiti hati orang lain dengan perkataan kita, berbuat curang dalam transaksi jual-beli, dll. Jika gangguan tersebut diarahkan kepada orang dekat, maka dosanya lebih besar lagi. Oleh karena itu, berkata kasar kepada orang tua lebih besar dosanya daripada kepada teman. Mengganggu tetangga lebih besar dosanya daripada mengganggu orang asing. Sangat tidak pantas bagi seorang muslim untuk berakhlak mulia terhadap rekannya di sekolah/kampus/kantor, tetapi berakhlak buruk terhadap orang tuanya di rumah.

Kedua: Mengerahkan bantuan.

Yaitu, mengerahkan bantuan kepada orang lain semampu kita, baik itu tenaga, ilmu, maupun harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kalian berada. Kerjakanlah kebaikan setelah mengerjakan keburukan, karena ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” [Sunan at-Tirmidziy, no. 1987]

Contoh penerapan: Jika seseorang menabrak orang lain hingga mati, dan jika kita tahu bahwa si pengendara tersebut adalah orang yang selalu berhati-hati saat berkendara, maka memaafkannya adalah sebuah akhlak mulia. Namun, jika kita tahu bahwa orang tersebut selalu ugal-ugalan di jalan, atau jika si mayit memiliki utang dan ia tidak meninggalkan harta yang cukup yang bisa digunakan untuk melunasinya, maka wajib bagi kita untuk mengenakan kepada pengendara tadi hukuman diyat (denda).

Ketiga: Menampakkan keceriaan wajah.

Wajib bagi kita untuk menampakkan wajah yang ceria kepada orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun itu adalah menampakkan wajah yang ceria kepada saudaramu.” [Shahih Muslim, no. 2626]

Cara untuk mempelajari dan mendapatkan akhlak mulia

Jika kita tidak memiliki akhlak mulia sebagai bawaan dari lahir, maka wajib bagi kita untuk mempelajarinya dan mengusahakannya di kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan.

Pertama: Melihat pada Qur’an dan Sunnah. Setiap sifat atau akhlak yang dipuji oleh Allah dan RasulNya, maka itu adalah akhlak mulia yang wajib kita pelajari dan usahakan. Kedua: Berteman dengan orang yang berakhlak mulia. Ketiga: Merenungkan akibat yang bisa ditimbulkan dari akhlak kita yang buruk.

[Diringkas dari kitab Makarimul-Akhlaq, karya Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, dengan sedikit penambahan.]

Andy Latief



Categories: Adab & Akhlak

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s