Apakah yang tidak disebut dalam dalil itu bid’ah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada tiga jenis perkara yang harus kita ketahui.

Jenis pertama: Perkara yang ditetapkan oleh syari’at sebagai mashlahat. Ini adalah perkara yang disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya, baik itu dengan cara menyebutkan lafazh perintah secara jelas, atau menyebutkan keutamaannya, atau memuji orang yang melakukannya, atau mencela orang yang meninggalkannya, atau menyebutkan bahwa perkara tersebut adalah perkara yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Ini adalah mashlahat bagi manusia, walaupun mereka tidak melihatnya sebagai mashlahat.

Contoh: Disyari’atkannya shalat berjama’ah lima waktu di masjid bagi laki-laki, walaupun hal itu terkesan akan menyita waktunya dan mengurangi produktivitasnya.

Contoh lain: Disyari’atkannya mengenakan hijab bagi perempuan dengan hijab yang menutupi keindahannya (bukan dengan hijab yang malah membuatnya semakin indah), walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak menarik di mata orang-orang.

Jenis kedua: Perkara yang ditetapkan oleh syari’at sebagai madharat. Ini adalah perkara yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya, baik itu dengan cara menyebutkan lafazh larangan secara jelas, atau menyebutkan bahayanya, atau mencela orang yang melakukannya, atau memuji orang yang meninggalkannya, atau menyebutkan bahwa perkara tersebut adalah perkara yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Ini adalah madharat bagi manusia, walaupun mereka tidak melihatnya sebagai madharat.

Contoh: Dilarangnya pergi ke dukun atau siapapun itu yang melakukan praktik perdukunan meski tidak disebut dukun, walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak memiliki sandaran ketika sedang punya hajat.

Contoh lain: Dilarangnya riba dan gharar, walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak bisa meraih keuntungan maksimal dalam bisnisnya karena sebagian besar hal yang menurutnya menguntungkan ternyata itu adalah riba dan gharar.

Jenis ketiga: Perkara yang tidak disebutkan oleh syari’at sebagai mashlahat atau madharat. Dengan kata lain, syari’at diam terkait perkara tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan perkara tersebut. Bagaimana hukum dari hal ini? Apakah seluruhnya adalah bid’ah?

Ada tiga kategori perkara dalam jenis ketiga ini.

Pertama: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak ada pendorong untuk itu. Jika pada zaman setelah beliau baru muncul pendorongnya, maka wajib bagi para mujtahid umat ini untuk berijtihad menentukan hukum dari perkara tersebut berdasarkan dalil-dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at. Seluruh yang akan terjadi hingga kiamat nanti telah dijelaskan hukumnya karena syari’at ini adalah syari’at yang lengkap.

Contoh: Rokok, di zaman Nabi tidak ada. Akan tetapi, berdasarkan kaidah umum laa dharar wa laa dhiraar (tidak ada sesuatu yang berbahaya dan membahayakan dalam syari’at), maka para mujtahid umat di zaman ini dapat menetapkan bahwa hukumnya adalah haram.

Contoh lain: eMoney, di zaman Nabi tidak ada. Akan tetapi, berdasarkan kaidah umum yang telah dijelaskan oleh syari’at dalam bab fikih mu’amalat, maka para mujtahid umat di zaman ini dapat memerinci hukumnya; kapan ia halal dan kapan ia haram.

Contoh lain: Zakat fithri dengan beras. Memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kata “beras” dalam hadits beliau, tetapi pemahaman para sahabat seperti Abu Sa’id al-Khudriy dan ‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum adalah bahwa zakat fithri itu ditunaikan dengan tha’am, yang bermakna bahan makanan pokok. Inilah ‘illah hukum yang banyak dijelaskan oleh mayoritas mujtahid umat di zaman dahulu. Oleh karena itu, ketika bahan makanan pokok masyarakat sekarang adalah beras, maka menunaikan zakat fithri dengan beras itu adalah disyari’atkan.

Contoh lain: Mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushhaf, merumuskan ilmu nahwu, sharf, ushul fiqh, ushul hadits, dst. Semua ini baru muncul pendorongnya setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, yaitu setelah banyak orang-orang non-Arab masuk Islam. Karena khawatir pemahaman yang shahih tentang Qur’an dan Sunnah menjadi hilang atau susah untuk dipelajari, maka para mujtahid umat ini berijma’ atas dibolehkannya hal-hal tersebut karena ada kaidah, “Apa yang sesuatu yang wajib (sunnah) itu tidak bisa dilakukan kecuali dengannya, maka ia juga adalah wajib (sunnah).”

Kedua: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ada penghalang untuk itu. Jika pada zaman setelah beliau baru sirna penghalangnya, maka wajib bagi para mujtahid umat ini untuk berijtihad menentukan hukum dari perkara tersebut berdasarkan dalil-dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at.

Contoh: Shalat tarawih berjama’ah di masjid dari awal hingga akhir Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melakukannya sebanyak tiga malam. Akan tetapi, pada malam yang keempat, beliau tidak melakukannya secara berjama’ah dengan para sahabat karena khawatir hal itu akan menjadi syari’at yang wajib. Namun, setelah beliau meninggal, maka syari’at telah lengkap dan sebuah amalan tidak mungkin lagi berubah hukumnya dari sunnah menjadi wajib, atau sebaliknya.

Oleh karena itu, ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan kembali kaum muslimin untuk shalat tarawih berjama’ah di belakang satu imam selama bulan Ramadhan, maka ini bukanlah bid’ah karena penghalangnya sudah tidak ada. Bahkan pada hakikatnya yang dilakukan oleh ‘Umar adalah menghidupkan Sunnah Nabi yang sempat tidak beliau lakukan karena adanya penghalang di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun perkataan ‘Umar tentang tindakannya tersebut, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini,” maka itu karena kata bid’ah memang dikenal dalam bahasa Arab sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Kata bid’ah di telinga orang Arab bermakna segala sesuatu yang baru. Lalu ketika Islam datang dan Nabi bersabda, “Semua bid’ah adalah sesat,” seluruh para sahabat memahami bahwa yang dimaksud semua bid’ah di sini adalah semua bid’ah dalam perkara agama, bukan bid’ah dalam perkara duniawi. Orang-orang non-Arab yang tidak paham bahasa Arab dengan baik, bisa jadi bingung dengan perkataan ‘Umar tersebut, sebab mereka tidak memahami kata bid’ah sebagaimana orang Arab memahaminya. Ini sama halnya ketika kita mengenalkan mobil merk Kijang kepada bule. Mereka akan mengasosiasikan kata kijang sebagai merk mobil, sehingga mereka akan kebingungan ketika mendengar orang Indonesia bercakap-cakap satu sama lain, “Kijang saya baru saja melahirkan.”

Ketiga: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal telah ada pendorongnya di zaman beliau dan tidak ada penghalangnya. Ini adalah bid’ah.

Contoh: Adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, meski telah melalui dua hari raya ‘id tiap tahunnya, tidak pernah melakukan adzan dan iqamah sebelum melaksanakan shalat ‘id. Padahal, ada pendorong untuk melakukannya dan tidak ada penghalang bagi mereka untuk mengerjakannya. Maka, hukum adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id adalah bid’ah.

Contoh lain: Memperingati maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di zaman beliau, ada pendorong untuk melakukannya dan tidak ada penghalang untuk mengerjakannya. Seluruh alasan orang-orang di zaman ini ketika mereka mendukung peringatan maulid Nabi, misalnya karena ingin mengenang beliau atau sebagai bentuk cinta pada beliau, maka semua alasan ini telah ada di zaman Nabi dan di zaman khulafa’ur-rasyidin. Namun, mereka tidak melakukannya, padahal tidak ada penghalang bagi mereka untuk mengerjakannya. Maka, hukum dari hal ini adalah bid’ah.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk membolehkan perkara kategori ketiga ini dengan dalih dibolehkannya perkara kategori pertama dan kedua.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Ketika detik-detik terakhir itu datang

Bilal ibn Sa’d berkata, “Wahai orang-orang yang hidup abadi selamanya! Sungguh kalian tidak diciptakan untuk menjadi sirna. Akan tetapi kalian diciptakan untuk hidup abadi selamanya. Kalian hanya akan berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya (yaitu, akhirat).”

‘Abdullah ibn ash-Shamit berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Wahai engkau yang tertipu dengan panjangnya waktu sehatmu, apakah engkau tidak mendengar orang yang mati tanpa sakit? Wahai engkau yang tertipu dengan panjangnya angan-anganmu, apakah engkau tidak melihat orang yang dicabut nyawanya tiba-tiba? Apakah engkau tertipu dengan sehatmu? Apakah memiliki panjang angan membuatmu aman? Apakah Malaikat Maut yang engkau tantang? Sungguh, ketika Malaikat Maut datang, dia tidak akan dihalangi darimu karena banyaknya hartamu atau banyaknya pengikutmu.’”

al-Hasan al-Bashriy berkata, “Sungguh manusia tidak akan menundukkan kepalanya kalau bukan karena tiga hal: kematian, penyakit, dan kemiskinan. Selain dari itu, maka dia adalah orang yang terburu nafsu.”

Tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [al-Qur’an, surat Ali ‘Imran, 185]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” [al-Qur’an, surat al-Jum’ah, 8]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sekali-kali jangan! Apabila nafas telah mendesak sampai ke tenggorokan. Dan dikatakan kepadanya, ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis dengan betis. Kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.” [al-Qur’an, surat al-Qiyamah, 26-30]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan datanglah sakaratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.” [al-Qur’an, surat Qaf, 19-20]

Senantiasa mengingat kematian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyak mengingat penghancur kelezatan.” [Sunan at-Tirmidziy, no. 2307, Sunan an-Nasa’iy, no. 1824, dan Sunan Ibn Majah, no. 4258]

Dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mu’min yang paling afdhal?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya.’ Lalu dia berkata, ‘Lalu siapakah orang mu’min yang paling bijak?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik dalam melakukan persiapan untuk menghadapinya. Itulah orang yang paling bijak.’” [Sunan Ibn Majah, no. 4259]

ad-Daqqaq berkata, “Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal: selalu bersegera untuk bertaubat, hati yang qana’ah, dan semangat dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa tentang kematian, maka dia akan dihukum dengan tiga hal: selalu menunda taubat, tidak ridha’ dengan rezeki yang cukup, dan malas dalam beribadah.”

al-Hasan al-Bashriy berkata, “Mereka yang hidup sebelum kalian sering mengingat dekatnya kematian. Salah seorang dari mereka seringkali mengambil air untuk bersuci, buang hajat, lalu mengambil wudhu’, karena khawatir kematian datang kepadanya sementara dia tidak dalam keadaan suci.”

Beliau juga berkata, “Kematian telah membongkar hakikat dunia, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang yang berakal untuk bahagia di dalamnya. Tidaklah seseorang memaksa hatinya untuk mengingat mati kecuali menjadi kecil dunia itu di matanya dan menjadi hina apa-apa yang ada di dalamnya.”

‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz berkata, “Barangsiapa yang hatinya senantiasa mengingat mati, maka dia akan menganggap banyak apa yang dia miliki.”

Kematian adalah kabar buruk bagi mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kalau saja kalian melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), ‘Rasakanlah oleh kalian siksa neraka yang membakar.’” [al-Qur’an, surat al-Anfal, 50]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kalau saja kalian melihat ketika orang-orang zhalim berada dalam tekanan sakaratul-maut, sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawa kalian.’” [al-Qur’an, surat al-An’am, 93]

Kematian adalah kabar gembira bagi mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (yakni, saat ajal datang) dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih. Dan gembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [al-Qur’an, surat Fushshilat, 30-32]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.’” [al-Qur’an, surat an-Nahl, 32]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” [al-Qur’an, surat al-Fajr, 27-30]

Mengucapkan syahadat atau dituntun untuk mengucapkannya ketika ajal menjelang

Dari Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kalimat terakhirnya adalah laa ilaaha illallaah, maka ia masuk surga.” [Sunan Abi Dawud, no. 3116]

Husnuzhan kepada Allah ketika ajal menjelang

Dari Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga hari sebelum beliau meninggal, ‘Tidaklah salah seorang dari kalian meninggal kecuali hendaknya dia berhusnuzhan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.’” [Shahih Muslim, no. 2877]

Mu’tamir ibn Sulaiman berkata, “Ketika ajal menjelang, ayahku berkata, ‘Wahai Mu’tamir, bicaralah kepadaku tentang rukhshah-rukhshah (kemurahan-kemurahan), supaya aku menghadap Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan aku berhusnuzhan kepadaNya.”

Siapkanlah bekalmu

Mutharrif ibn ‘Abdillah berkata, “Sungguh kematian ini telah merusak kenikmatan orang-orang. Maka carilah kenikmatan yang tidak terputus oleh kematian!”

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK