Sebagian orang berkata, “Paham bahasa Arab bukan jaminan agar bisa berada di atas jalan yang lurus.”

Kemudian mereka biasanya menyebutkan pakar bahasa Arab yang memiliki kesalahan fatal dalam akidah, seperti Washil ibn ‘Atha’. Dia sangat fasih dalam bahasa Arab sampai-sampai dia bisa dengan tanpa persiapan sebelumnya untuk berkhuthbah tanpa sama sekali menyebutkan kata yang mengandung huruf ر (raa’), untuk menghindari menanggung malu di depan banyak orang dan ulama’ lainnya karena dia adalah seorang yang cadel. Namun, dia adalah pendiri sekte Mu’tazilah, salah satu sekte sesat dalam Islam.

Akan tetapi, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi.

Itu karena untuk berada di atas ash-shirathul-mustaqim (jalan yang lurus), kita membutuhkan dua kunci: ilmu dan ittiba’ (patuh).

فمن كان أعرف للحق وأتبع له كان أولى بالصراط المستقيم.

“Barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih patuh untuk mengikutinya maka dia lebih berhak atas jalan yang lurus.” (at-Tafsir al-Muyassar, surat al-Fatihah, 7)

Mereka yang ahli dalam bahasa Arab, tetapi menyimpang dari jalan yang lurus, memiliki kunci pertama (yaitu ilmu), tetapi tidak memiliki kunci kedua (yaitu ittiba’).

Dan mereka yang tidak paham bahasa Arab, maka bisa jadi mereka memiliki ittiba’, tetapi mereka tidak memiliki alat yang sangat penting untuk menimba ilmu: bahasa.

Mereka memiliki ittiba’. Maka berdasarkan asumsi ini mereka pasti berusaha untuk mengikuti Sunnah dan berpegang teguh padanya. Akan tetapi, bagaimana mereka mengikuti Sunnah sedangkan dalam waktu yang sama mereka tidak bisa membaca dan belajar secara langsung dari literatur para ulama’ yang menjelaskan Sunnah?

Na’am, jawabannya adalah mereka akan berpegang teguh pada ulama’. Pada kenyataannya, mereka hanya memiliki akses pada sejumlah sedikit ulama’ yang mereka bisa tanyai ketika mereka menemukan masalah. Alih-alih mengikuti dalil, pada kenyataannya mereka mengikuti pemahaman ulama’ tersebut tentang dalil. Ini tidak akan menjadi masalah jika mereka memilih ulama’ yang terpercaya dan jika mereka duduk di majelis ilmu mereka secara rutin.

Tidak memiliki ulama’ yang terpercaya sebagai tempat menimba ilmu adalah, sebagai contoh, sumber masalah untuk mereka yang berdoa kepada orang mati di kuburan. Mereka percaya pada ulama’ yang salah yang pada akhirnya mengarahkan mereka pada kesyirikan yang hina.

Dan tidak duduk di majelis ilmu secara rutin akan membuat kita tidak bisa menyadari kesalahan diri kita sendiri walaupun bisa jadi kesalahan tersebut telah kita miliki sejak bertahun-tahun yang lalu. Karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menemukan masalah, kita tidak akan bertanya tentang sesuatu yang tidak kita anggap sebagai masalah — padahal sebenarnya itu adalah masalah. Kita tidak akan tahu keyakinan apa yang kita miliki dan perbuatan apa yang kita lakukan yang ternyata sebenarnya adalah kesalahan karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menganggap sesuatu sebagai masalah.

Oleh karena itu, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi. Ini karena kita membutuhkan dua kunci untuk bisa berada di atas jalan yang lurus: ilmu dan ittiba’. Membuat perbandingan dengan mereka yang ahli dalam bahasa Arab tetapi menyimpang pada dasarnya adalah hanya melihat pada satu kunci saja (yaitu ilmu) dan menghiraukan kunci lainnya (yaitu ittiba’). Cara yang benar untuk membuat perbandingan adalah dengan membandingkan dua orang yang memiliki level ittiba’ yang sama, tetapi satu orang adalah seorang yang ahli dalam bahasa Arab dan satunya lagi benar-benar buta di dalamnya. Sekarang kira-kira mana yang lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus?

Ada yang telah sepuh berumur lebih dari 60 tahun tetapi masih mau berjuang untuk belajar bahasa Arab. Beliau belajar apa itu ism, fi’l, dan harf. Beliau belajar tentang i’rab. Beliau menghafalkan tabel tashrif fi’l yang biasanya adalah mimpi buruk bagi para pelajar.

Jadi, kapan kita mau memulai belajar bahasa Arab?

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Posted by Andy Latief

Kami adalah mahasiswa doktoral di Theoretical Physics Group, School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK. Sebelumnya, kami pernah belajar di Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), dan sebagai mustami’ di Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.