Pertanyaan: Apa hukum dari zakat profesi? Bolehkah kita mengeluarkan zakat langsung dari gaji kita setiap bulannya?

Jawab:

Sebelumnya, mari kita perjelas terlebih dahulu apa itu zakat profesi. Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan setiap bulan dari gaji kita setiap bulannya. Oleh karena itu, pada hakikatnya zakat profesi ini adalah zakat dari uang yang kita miliki, tetapi dengan tata cara pembayaran yang dilakukan setiap bulan secara langsung dari gaji yang kita peroleh pada bulan tersebut. Apa hukum dari hal ini?

Di antara syarat wajibnya zakat adalah tercapainya haul, yaitu harta tersebut telah kita miliki selama satu tahun Hijriyyah. Jika belum mencapai haul, maka tidak wajib bagi kita untuk mengeluarkan zakatnya.

Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang hendak membayar zakat sebelum hartanya mencapai haul? Para ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini. Ulama’ Malikiyyah berpendapat bahwa hal ini tidak diperbolehkan, dan zakat yang dia keluarkan tersebut pada hakikatnya adalah sedekah, bukan zakat. Akan tetapi, jumhur ulama’ berpendapat bolehnya hal ini, jika harta yang kita miliki telah melebihi nishab. Inilah pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini.

Oleh karena itu, boleh bagi kita untuk membayar zakat sebelum waktu haul tiba, baik pembayarannya dilakukan dalam satu waktu ataupun dilakukan setiap bulan dari gaji kita setiap bulannya, selama total uang kita melebihi nishab perak. Adapun jika total uang kita berada di bawah nishab perak, maka seluruh ulama’ sepakat bahwa uang yang kita keluarkan tersebut tidak akan terhitung sebagai zakat, tetapi sedekah.

Kemudian, ketika tiba waktu haul yang sebenarnya (kita tetap berasumsi bahwa total uang kita saat itu masih melebihi nishab), hendaknya kita menghitung berapa jumlah zakat yang seharusnya kita keluarkan pada saat itu (yaitu, 2,5% dari total uang kita saat itu), lalu kita bandingkan dengan berapa jumlah zakat profesi yang telah kita keluarkan setiap bulannya selama satu tahun Hijriyyah kemarin. Jika jumlah yang harus kita keluarkan lebih besar dari zakat profesi yang telah kita keluarkan, maka kita bayarkan selisihnya tersebut. Jika lebih kecil, maka itu terhitung sebagai sedekah.

Sebagian orang beranggapan bahwa zakat profesi itu boleh karena qiyas dengan zakat pertanian, sehingga kita boleh untuk membayarkan zakat profesi jika gaji kita setiap bulannya melebihi nishab hasil pertanian. Ini adalah argumen yang lemah karena lemahnya qiyas antara gaji bulanan dengan hasil pertanian. Pendapat yang benar adalah zakat profesi itu boleh karena ia termasuk dalam bab mendahulukan pembayaran zakat sebelum haulnya. Ini boleh menurut jumhur ulama’, sebagaimana telah kami sebut di atas. Oleh karena itu, zakat profesi ini baru boleh kita bayarkan jika total uang kita (yakni, bukan gaji bulanan kita) melebihi nishab perak saat kita hendak membayarkan zakat profesi setiap bulannya.

Abu Umar Andy Latief

Posted by Andy Latief

Kami adalah mahasiswa doktoral di Theoretical Physics Group, School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK. Sebelumnya, kami pernah belajar di Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), dan sebagai mustami’ di Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.