Pertanyaan: Bagaimana cara kita menyikapi tentang cerita atau mukjizat para nabi yang dikisahkan di Qur’an? Apa kita harus menanggapinya sebagai kisah nyata secara literal atau cukup mengambil hikmah yang terkandung sebagai pembelajaran untuk hidup kita? Saya ingin mengetahui pandangan dari kak Andy, yang juga seorang Fisikawan Teoritis. Demikian pertanyaan saya dan sekiranya saya ucapkan terima kasih.

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Pertama: Untuk memahami al-Qur’an dan hadits, kita harus menggunakan pemahaman para as-salafush-shalih, yaitu generasi terdahulu yang shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Tidak boleh bagi kita untuk memahami al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan akal logika kita semata atau dengan memunculkan tafsiran baru dari ayat dan hadits tersebut yang tidak pernah dipahami oleh para generasi terdahulu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا}.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [al-Qur’an, surat an-Nisa’, 115]

Dari al-‘Irbadh ibn Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة).

“Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah al-khulafa’ ar-rasyidin, yang diberi petunjuk. Gigit kuat-kuat dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (4/126, 127), Abu Dawud (4607), at-Tirmidziy (2678), dan selainnya.]

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memahami dalil-dalil yang berbicara tentang mukjizat para nabi dan rasul sebagaimana pemahaman para as-salafush-shalih. Tidak ada riwayat shahihah yang menyebutkan bahwa mereka memahami mukjizat para nabi dan rasul sebagai makna kiasan yang cukup diambil hikmahnya sebagai pembelajaran saja. Akan tetapi, mereka memahami dalil-dalil yang menceritakan mukjizat tersebut dengan makna hakikinya dan bahwa mukjizat tersebut benar-benar terjadi.

Kedua: Di antara dalil bahwa mukjizat para nabi dan rasul itu benar-benar terjadi adalah hadits Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لما كان ليلة أسري به وأصبحت بمكة، فظعت بأمري، وعرفت أن الناس مكذبي). فقعد معتزلا حزينا. قال: فمر عدو الله أبو جهل، فجاء حتى جلس إليه، فقال له كالمستهزئ: هل كان من شيء؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نعم). قال: ما هو؟ قال: (إنه أسري به الليلة). قال: إلى أين؟ قال: (إلى بيت المقدس). قال: ثم أصبحت بين ظهرانينا؟ قال: (نعم). قال: فلم ير أنه يكذبه، مخافة أن يجحده الحديث إذا دعا قومه إليه. قال: أرأيت إن دعوت قومك تحدثهم ما حدثتني؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نعم). فقال: هيا معشر بني كعب بن لؤي، حتى قال: فانتفضت إليه المجالس، وجاءوا حتى جلسوا إليهما. قال: حدث قومك بما حدثتني. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إني أسري بي الليلة). قالوا: إلى أين؟ قلت: (إلى بيت المقدس). قالوا: ثم أصبحت بين ظهرانينا؟ قال: (نعم). قال: فمن بين مصفق ومن بين واضع يده على رأسه متعجبا للكذب زعم. قالوا: وهل تستطيع أن تنعت لنا المسجد؟ وفي القوم من قد سافر إلى ذلك البلد ورأى المسجد. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فذهبت أنعت، فما زلت أنعت حتى التبس علي بعض النعت). قال: (فجيء بالمسجد وأنا أنظر حتى وضع دون دار عقال أو عقيل، فنعته وأنا أنظر إليه). قال (وكان مع هذا نعت لم أحفظه). قال: (فقال القوم: أما النعت فوالله لقد أصاب).

“Pada malam di mana aku mengalami peristiwa Isra’ lalu aku tiba pagi harinya di Makkah, aku merasa berat dengan keadaanku, aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku.” Kemudian beliau duduk menyendiri dalam keadaan sedih. Lalu Ibn ‘Abbas berkata: Maka datanglah musuh Allah, Abu Jahl. Dia datang lalu duduk di dekat beliau. Lalu dia bertanya dengan nada mengejek, “Apakah ada sesuatu yang terjadi?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Abu Jahl bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Aku dibawa dalam sebuah perjalanan tadi malam.” Abu Jahl bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul-Maqdis.” Abu Jahl bertanya, “Lalu engkau di pagi hari sudah berada di antara kami?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ibn ‘Abbas berkata: Maka Abu Jahl tidak menampakkan bahwa dia mendustakannya, karena khawatir Nabi tidak mau menceritakan hal tersebut ketika kaumnya dipanggil kepadanya. Lalu Abu Jahl berkata, “Apa pendapatmu jika aku memanggil kaummu lalu engkau menceritakan apa yang engkau ceritakan kepadaku?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Lalu Abu Jahl berkata, “Kemarilah wahai segenap Bani Ka’b ibn Lu’ay!” Orang-orang pun datang dan duduk di dekat mereka berdua.

Kemudian Abu Jahl berkata, “Ceritakan pada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dibawa dalam sebuah perjalanan tadi malam.” Mereka bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul-Maqdis.” Mereka bertanya, “Lalu engkau di pagi hari sudah berada di antara kami?” Beliau menjawab, “Ya.” Di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan sebagian yang lain ada yang meletakkan tangannya di kepalanya, heran dengan kedustaan yang dikatakan oleh Nabi.

Mereka bertanya, “Apakah engkau bisa menerangkan kepada kami tentang masjid tersebut?” Di antara kaum tersebut ada yang pernah melakukan safar ke sana dan pernah melihat Baitul-Maqdis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka aku pun mulai menerangkan tentangnya. Aku tidak berhenti menyebutkan tanda-tandanya sampai aku mulai lupa dengan beberapa tanda. Kemudian masjid tersebut didatangkan dan aku melihatnya hingga diletakkan di rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun menerangkan tanda-tandanya sementara aku sedang melihatnya. Karena itulah aku bisa menerangkan tanda yang tidak aku hafal. Kemudian orang-orang berkata: Adapun tanda-tanda tersebut, maka demi Allah dia telah berkata benar.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (1/309).]

Pada hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada Abu Jahl dan orang-orang Quraisy bahwa beliau benar-benar pergi ke Baitul-Maqdis pada malam harinya, lalu pada pagi hari sudah tiba kembali di Makkah. Seandainya peristiwa Isra’ (dan Mi’raj) adalah makna kiasan belaka atau terjadi pada mimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belaka, maka tentu beliau akan menerangkannya kepada orang-orang Quraisy, dalam rangka mengurangi perasaan takjub dan heran mereka serta mengurangi pendustaan mereka kepada beliau. Abu Jahl dan orang-orang Quraisy saat itu semuanya memahami dari cerita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau benar-benar pergi ke Baitul-Maqdis secara fisik, lalu sudah tiba di Makkah kembali pada pagi harinya. Pembenaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pemahaman mereka ini adalah dalil kuat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memang melakukan perjalanan Isra’ (dan Mi’raj) secara fisik.

Kemudian, jika kita telah mengetahui bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj itu memang benar-benar terjadi secara hakiki, maka mukjizat mana lagi di al-Qur’an yang hendak kita ingkari bahwa ia benar-benar terjadi secara hakiki? Adakah yang lebih menakjubkan daripada peristiwa pergi dari Makkah ke Baitul-Maqdis, lalu ke Sidratul-Muntaha di langit ketujuh, kemudian kembali lagi ke Makkah dalam satu malam, di mana dalam proses tersebut beliau bertemu dengan para nabi dan rasul sebelumnya?

Ketiga: Peran kami sebagai seorang yang menggeluti fisika teoretis tidaklah relevan dalam masalah ini, sebab ini bukan ranah fisika. Fisika adalah ilmu yang mempelajari proses-proses yang terjadi di alam semesta, yang bisa dideteksi secara sistematis oleh eksperimen. Dengan kata lain, sebuah proses di alam semesta baru bisa dimasukkan dalam ranah fisika jika pendeteksiannya dalam eksperimen bisa dilakukan ulang oleh orang lain pada waktu dan tempat yang berbeda.

Oleh karena itu, fisika itu hanyalah membahas tentang Sunnatullah yang telah Allah tetapkan pada alam semesta ini. Adapun peristiwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu dari Malaikat Jibril ‘alaihis-salam, misalnya, bukanlah ranah fisika karena peristiwa ini tidak mungkin bisa dilakukan ulang oleh orang lain. Demikian pula, mukjizat para nabi dan rasul juga bukan ranah fisika. Ini semua adalah ranah Islam. Islam mengajarkan kepada kita bahwa sumber untuk mengetahui tentang kebenaran itu tidak hanya didapat dari dua jalan (kebiasaan dan akal), tetapi juga dari jalan ketiga (risalah). Inilah yang diingkari oleh mereka, orang-orang ateis. Mereka berpikir bahwa kebenaran itu hanya bisa didapat melalui dua hal, yaitu:

  • Kebiasaan. Misalnya, fakta bahwa elektron adalah partikel fermion dengan spin-1/2. Pernyataan ini benar menurut kebiasaan, yaitu setiap kali para fisikawan melakukan eksperimen dengan elektron, maka mereka selalu mendapatkan bahwa elektron itu adalah partikel fermion dengan spin-1/2.
  • Akal. Misalnya, fakta bahwa bilangan cacah itu sama banyaknya dengan bilangan cacah genap. Pernyataan ini benar menurut akal, yaitu dengan melihat bahwa setiap bilangan cacah n dapat dipasangkan dengan bilangan cacah genap 2n.

Padahal, kebenaran yang jauh lebih penting untuk kita ketahui justru didapat melalui jalan ketiga, yaitu risalah. Ilmu tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang tata cara ibadah yang dikehendaki olehNya, tentang tujuan utama mengapa kita diciptakan di dunia ini, tentang apa yang terjadi setelah kita mati dan meninggalkan dunia ini, tentang sifat-sifat surga dan neraka, semuanya ini tidak bisa didapat melalui kebiasaan dan akal, tetapi melalui risalah. Yaitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul dan mengirimkan wahyu kepada mereka sehingga mereka dapat mengabarkan dan mengajarkan kita tentang hal tersebut.

Karena kita harus membahas setiap topik menggunakan bidang yang menjadi ranahnya, maka menjadi tidak relevan untuk membahas tentang mukjizat para nabi dan rasul dari sudut pandang fisika. Oleh karena itu, sudut pandang seorang fisikawan teoretis menjadi tidak relevan karenanya. Mereka, orang-orang ateis, (dan orang-orang yang buta ilmu syar’iy secara umum) yang kemudian membahas tentang mukjizat para nabi dan rasul lalu mengingkarinya sambil mengklaim bahwa ini adalah pembahasan ilmiah, maka sungguh kasihan keadaan orang yang telah tertutup hati, mata, dan telinganya dari kebenaran.

Abu Umar Andy Latief

Posted by al-Maduriy

Kami adalah mahasiswa doktoral di Theoretical Physics Group, School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK. Sebelumnya, kami pernah belajar di Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), dan sebagai mustami’ di Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s