Terorisme ada karena syubhat yang melanda, maka cuma ahli ilmu yang dapat menumpasnya hingga akar-akarnya

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Saudaraku, kita semua tahu bahwa terorisme adalah kejahatan yang sangat jelas keharamannya dalam Islam. Akan tetapi, janganlah semangat dan niat baik kita untuk memerangi terorisme tersebut dibangun di atas kejahilan atau ketidaktahuan terhadap ajaran agama kita sendiri. Ketika aksi terorisme tiba-tiba merebak kembali di tanah air akhir-akhir ini, banyak kaum muslimin yang justru melabeli jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar sebagai ciri teroris. Mereka lupa bahwa jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar adalah syi’ar agama. Ia banyak dibahas oleh para ulama’ dalam kitab-kitab madzhab yang empat, dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an, dan dalam kitab-kitab penjelasan hadits. Mengaitkan terorisme dengan jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar adalah perbuatan yang sama buruknya dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran sempit di negeri barat ketika mereka menindas kaum muslimin, ketika mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama terorisme, dan ketika mereka mengatakan bahwa seluruh muslim adalah teroris! Tidaklah semua perkataan ini diucapkan kecuali karena dibangun di atas kejahilan terhadap ajaran agama Islam yang sesungguhnya.

Sebab utama ideologi terorisme dapat merasuki seseorang: Jahil terhadap pemahaman yang benar tentang Qur’an dan Sunnah

Terorisme ada karena syubhat yang melanda. Ia ada karena seseorang tidak tahu Qur’an dan Sunnah. Ia ada karena seseorang tidak tahu metode yang benar dalam memahami Qur’an dan Sunnah. Ia ada karena seseorang jauh dari tuntunan ahli ilmu.

Ibrahim ibn Musa asy-Syathibiy rahimahullah (w. 790 H / 1388 M) berkata,

ألا ترى إلى أن الخوارج كيف خرجوا عن الدين كما يخرج السهم من الصيد المرمي؟ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم وصفهم بأنهم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم، يعني – والله أعلم – أنهم لا يتفقهون به حتى يصل إلى قلوبهم لأن الفهم راجع إلى القلب، فإذا لم يصل إلى القلب لم يحصل فيه فهم على حال، وإنما يقف عند محل الأصوات والحروف المسموعة فقط، وهو الذي يشترك فيه من يفهم ومن لا يفهم.

“Tidakkah engkau melihat kepada kaum Khawarij, bagaimana mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari binatang buruan? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka bahwa mereka membaca al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka. Yakni, wallahu a’lam, mereka itu tidak memahami apa yang dibacanya sehingga bacaan tersebut bisa masuk ke dalam hati. Karena pemahaman itu kembali pada hati. Jika tidak bisa masuk ke dalam hati, maka ia tidak akan paham sama sekali. Akan tetapi, bacaan Qur’annya tersebut hanya berhenti pada sumber suara dan huruf belaka. Dan ini sama-sama dimiliki baik oleh orang yang paham maupun yang tidak paham.” [al-I’tisham, karya Ibrahim ibn Musa asy-Syathibiy, 2/691]

Ketika menyifati perkataan kaum Khawarij, ‘Aliy ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H / 661 M) berkata,

كلمة حق أريد بها باطل.

“Kalimat yang haqq, tetapi digunakan untuk tujuan yang bathil.”

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H / 1328 M) berkata,

فإنهم صاروا يحملون كلام الله ورسوله على ما يدعون أنه دال عليه، ولا يكون الأمر كذلك.

“Mereka memalingkan Kalam Allah dan sabda RasulNya menuju pada makna yang mereka klaim bahwa itulah makna sebenarnya (dari ayat dan hadits tersebut), padahal perkara sebenarnya tidaklah seperti itu.” [Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah, 7/116]

Inilah akibatnya jika kita memahami Qur’an dan Sunnah tidak sesuai dengan pemahaman para as-salafush-shalih, yaitu generasi terdahulu yang shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan para ulama’ setelah mereka yang mengikuti jejak mereka. Ayat dan hadits bisa dipelintir sekehendak hati jika kita tidak meniti pemahaman generasi terdahulu dalam memahami ayat dan hadits tersebut. Mereka dengan sesuka hati memelintir pemahaman tentang apa itu Darul-Islam, apakah pemerintah saat ini adalah ulil-amri yang sah secara syar’iy atau tidak, apakah para pelaku dosa besar itu serta-merta kafir atau tidak, dll.

Para pemuda yang tidak tahu tentang bagaimana pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in tentang ayat dan hadits yang membicarakan tentang topik-topik tersebut, akan sangat mudah dicekoki pemahaman yang nyeleneh oleh mereka, kaum Khawarij. Jika kita tidak punya data yang cukup tentang pemahaman para salaf tentang ayat dan hadits tersebut, maka pemikiran yang ngawur dan bersifat cocoklogi pun akan tampak logis bagi kita. Akibatnya, para pemuda yang cuma bermodalkan semangat dalam beragama tetapi masih jauh dari tuntunan ilmu itu pun akhirnya dengan mudah diarahkan pemahamannya agar sesuai dengan ideologi terorisme. Inilah yang dinamakan oleh banyak orang sebagai proses cuci otak. Cuci otak itu bukan dengan cara hipnotis atau yang semacamnya. Tetapi, cuci otak itu adalah dengan memasukkan syubhat yang tampak logis (walaupun ngawur dan bersifat cocoklogi) tentang ayat dan hadits, sehingga mereka meyakini bahwa itulah pemahaman yang benar.

Solusi untuk membentengi diri kita dan keluarga kita dari ideologi terorisme dan pemahaman menyimpang lainnya

Solusi dari hal ini adalah kembali pada manhaj salaf dalam memahami Qur’an dan Sunnah.

‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (w. 32 H / 653 M) berkata,

من كان منكم متأسيا فليتأس بأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كانوا أبر هذه الأمة قلوبا، وأعمقها علما، وأقلها تكلفا، وأقومها هديا، وأحسنها حالا، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم.

“Barangsiapa dari kalian yang ingin meneladani seseorang, maka hendaklah dia meneladani para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (sikap menyusahkannya), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang Allah pilih untuk membersamai NabiNya dan untuk menegakkan agamaNya. Maka, ketahuilah tentang keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka. Sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” [Jami’u Bayanil-‘Ilm wa Fadhlihi, karya Ibn ‘Abdil-Barr, no. 1097]

Setiap kali ada orang yang mengajarkan anda tentang tafsiran ayat dan hadits, tanyakan kepadanya, “Siapa ulama’ terdahulu yang mengatakan hal ini? Adakah orang yang mengatakan tentang tafsiran ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in?” Jika dia menyebutkan nama sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, atau ulama’, maka tanyakan lagi kepadanya, “Mana rujukannya? Perkataan ini ada di kitab apa?” Kemudian, rutinlah untuk duduk di majelis kajian para ahli ilmu. Banyaklah membaca buku dan tulisan ilmu syar’iy dari ulama’ dan ustadz yang terpercaya keilmuwannya. Semua ini kita lakukan sambil selalu memanjatkan doa kepada Allah agar kita diberikan hidayah dan taufiq untuk senantiasa meniti jalan yang lurus. Karena dengan ilmulah syubhat-syubhat mereka itu dapat dilumpuhkan. Dengan ilmulah pemahaman menyimpang mereka itu dapat diluruskan. Oleh karena itu, cuma ahli ilmulah yang dapat menumpas ideologi terorisme mereka itu hingga akar-akarnya.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK



Categories: Akidah & Manhaj, Bahasa Indonesia

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.