Dihadiri 140 ribu jama’ah, shalat ‘id di Small Heath Park Birmingham adalah yang terbesar di Eropa

20180615 - Eid at Small Heath ParkAda perasaan haru di dalam hati ini ketika kita bisa menyaksikan secara langsung bagaimana kaum muslimin bersatu pada satu tempat, untuk melaksanakan ibadah yang agung yaitu shalat ‘id, di hari yang agung yaitu ‘Idul-Fithri, setelah bulan yang agung yaitu Ramadhan.

Mereka bertakbir bersama, berdiri bersama, ruku’ bersama, dan sujud bersama.

Mereka tunjukkan kepada dunia bahwa Islam tidak mengenal diskriminasi warna kulit dan asal negara. Orang Indonesia shalat di sebelah orang Nigeria. Orang Bangladesh shalat di sebelah orang Sudan. Orang Arab shalat di sebelah orang Inggris.

Mereka bersatu dengan tanpa membawa panji negara mereka masing-masing. Tidak ada itu yang namanya Islam Arab! Atau Islam Inggris! Atau Islam Pakistan! Atau Islam Nusantara! Pada saat itu mereka tinggalkan sejenak kearaban mereka! Keinggrisan mereka! Kepakistanan mereka! Dan keindonesiaan mereka! Karena al-Qur’an mereka sama dan Nabi mereka sama!

Mereka tunjukkan kepada dunia ‘izzah dari Islam dan kaum muslimin. Dengan cara mewujudkan syi’ar Islam dan maksud syari’at di balik disyari’atkannya shalat ‘id.

Syaikh Abu Malik Kamal ibn as-Sayyid Salim hafizhahullah berkata,

وليعلم أن الهدف من الصلاة اجتماع المسلمين في مكان واحد، فلا ينبغي تعدد المصليات من غير حاجة في الأماكن المتقاربة كما نراه في بعض البلدان الإسلامية، بل قد أصبحت بعض المصليات منابر حزبية لتفريق كلمة المسلمين ولا حول ولا قوة إلا بالله.

“Untuk diketahui bahwa tujuan dari shalat ‘id adalah berkumpulnya kaum muslimin pada satu tempat. Maka, tidak boleh menyelenggarakan shalat ‘id pada beberapa tempat yang berdekatan jika tidak ada kebutuhan untuk itu, sebagaimana yang kami lihat di sebagian negeri muslim. Bahkan sebagian tempat shalat ‘id telah menjadi mimbar hizbiy untuk memecah belah kaum muslimin, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” [Shahih Fiqh Sunnah, karya Abu Malik Kamal ibn as-Sayyid Salim, vol. 1, hal. 601.]

Menjadi bagian dari 140 ribu orang yang menghadiri shalat ‘id di Small Heath Park Birmingham, yang merupakan shalat ‘id terbesar di Eropa, adalah pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalan ibadah kita semua.

Selamat Hari Raya ‘Idul-Fithri 1439 H. Eid Mubarak!

Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Jangan suka menunda-nunda belajar ilmu agama

Syaikh Shalih ibn ‘Abdillah al-‘Ushaimiy hafizhahullah berkata:

Kemudian (penulis) menyebutkan bahwa ilmu diangkat dengan wafatnya ulama’. Lalu beliau menyebutkan hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahihain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu seketika dari manusia, tetapi Dia mengangkat ilmu dengan diwafatkannya ulama’.” Jika seorang ahli ilmu meninggal, maka ilmunya ikut pergi bersamanya. Maka ilmu tersebut selalu ada bersama orang-orang sampai wafatnya ahli ilmu di antara mereka, sehingga tidak ada lagi ilmu di antara mereka. Jadi, ilmu itu diangkat dari orang-orang dengan diwafatkannya ulama’ mereka.

Jika hal ini dapat dipahami, maka wajib hukumnya untuk bersegera mengambil ilmu dari ulama’. Agar mereka tidak terseret pada zaman kejahilan, di mana tidak ada lagi orang yang mengetahui bagaimana beragama yang benar menurut yang dikehendaki oleh Allah.

Jika seseorang diberikan kelapangan untuk bisa bertemu dengan ahli ilmu, maka wajib baginya untuk mengambil ilmu darinya. Dan hendaknya dia menghindari perbuatan menunda-nunda. Sebagian salaf (ulama’ terdahulu) berkata, “Kata ‘nanti’ adalah salah satu dari bala tentara Iblis.” Ulama’ lainnya berkata, “Perbuatan menunda-nunda adalah termasuk sinarnya syaithan.” Yaitu, kilauan cahaya yang disebarkan oleh syaithan di antara orang-orang sampai mengisi hati mereka, sehingga mereka selalu menunda-nunda dan berharap-harap untuk menggapai tujuan dan cita-cita mereka, sampai hilanglah kesempatan untuk bisa mencapainya.

Dan kami sungguh telah melihat fenomena ini banyak sekali terjadi pada orang-orang, di mana mereka tinggal bersama para ulama’ yang merupakan ayah mereka sendiri. Tidak terbersit pada mereka untuk bersungguh-sungguh mengambil ilmu dari para ulama’ tersebut, kecuali setelah wafatnya. Kemudian orang-orang tersebut berharap-harap seandainya dulu diberikan kelapangan waktu untuk mengambil ilmu dari ayah-ayah mereka tersebut. Mereka mendambakan hal itu dalam hati sanubari mereka. Maka, mereka selalu saja menunda-nunda dan sekedar berharap-harap, sampai diwafatkannya ayah mereka dan mereka tidak sempat mengambil ilmu darinya.

Jika hal ini terjadi pada anak seorang ahli ilmu padahal ayahnya ada di rumahnya, maka ia lebih-lebih lagi bisa terjadi pada selainnya, yaitu pada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan seorang ahli ilmu kecuali waktu yang sangat singkat ketika kajian, majelis fatwa, atau waktu-waktu lainnya. Hal ini hendaknya membuat kita untuk bersegera mengambil ilmu dari ahlinya, dan hendaknya kita tidak membuang-buang waktu. Ini semua demi keselamatan dan kesuksesan diri kita sendiri.

Sungguh ahli ilmu itu adalah seperti cahaya yang menuntun anda pada jalannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ahli ilmu tersebut meninggal, maka hilanglah cahaya tersebut. Barangsiapa yang mengambil ilmu dari lentera cahaya tersebut, mengambil cahaya yang dengannya dia bisa mendapatkan petunjuk, maka dia akan mendapatkan petunjuk. Sedangkan barangsiapa yang lalai sampai ahli ilmu tersebut meninggal, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya yang dapat memberinya petunjuk.

Diterjemahkan oleh Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Bagi hasil panen antara pemilik dan pengelola sawah, bagaimana cara membayar zakatnya?

Pertanyaan: Jika memiliki sawah tetapi dikelola oleh orang lain, apakah zakatnya dibayar sebagai zakat harta sebesar nilai sawah, atau tunggu bagi hasil lalu dibayar sebagai zakat panen?

Jawab:

Jika seseorang memiliki sawah tetapi dikelola oleh orang lain, kemudian nanti setelah panen ada bagi hasil antara pemilik sawah dan orang yang mengelola, maka zakat yang wajib dibayarkan adalah zakat hasil pertanian, jika hasil panen dari sawah tersebut termasuk tanaman yang dizakati (seperti padi, gandum, kurma, dan anggur) dan jika hasil panen tersebut melebihi nishab.

Nishab dari hasil pertanian adalah 5 wasq, atau sebesar 1200 mudd, di mana 1 mudd adalah seukuran yang dapat dicakup oleh dua tangan dewasa berukuran normal ketika dirapatkan. Untuk beras, takaran 5 wasq ini berkisar antara 650-700 kg.

Besar zakat yang harus dikeluarkan adalah 1/10 (atau 10%) jika pengairannya dari air hujan, sungai, mata air, atau segala bentuk pengairan yang tidak membutuhkan tenaga dan biaya. Tetapi jika pengairannya adalah dari irigasi atau disirami, maka besar zakat yang harus dikeluarkan adalah 1/20 (atau 5%). Besaran zakat ini harus segera dibayarkan setelah panen kepada orang yang berhak menerima zakat.

Jika setelah bagi hasil, masing-masing dari pemilik dan pengelola sawah mendapatkan hasil panen yang melebihi nishab, maka wajib bagi keduanya untuk membayar zakat atas hasil panen yang didapat oleh masing-masing dari mereka. Tetapi jika masing-masing dari mereka tidak mendapatkan hasil panen yang melebihi nishab, maka harus dirinci kembali. Jika total hasil panennya tidak melebihi nishab, maka tidak ada kewajiban zakat bagi keduanya. Adapun jika total hasil panennya melebihi nishab, maka wajib bagi keduanya untuk membayar zakat atas hasil panen yang didapat oleh masing-masing.

Contoh: Jika pemilik sawah mendapatkan 800 kg beras sedangkan pengelola sawah mendapatkan 1200 kg beras, maka jelas di sini bahwa masing-masing dari mereka harus mengeluarkan zakat. Jika kita asumsikan (untuk seluruh contoh kasus yang akan disebutkan pada artikel ini) bahwa pengairan sawahnya adalah dari irigasi, maka pemilik sawah harus membayar zakat berupa beras seberat 5% dari 800 kg, sedangkan pengelola sawah 5% dari 1200 kg.

Jika pemilik sawah mendapatkan 100 kg beras sedangkan pengelola sawah mendapatkan 300 kg beras, maka total panen adalah sebesar 400 kg, dan angka ini kurang dari nishab. Maka, tidak ada kewajiban zakat bagi keduanya.

Adapun jika pemilik sawah mendapatkan 300 kg beras sedangkan pengelola sawah mendapatkan 500 kg beras, maka kita lihat bahwa masing-masing dari mereka tidak mendapatkan beras yang melebihi nishab. Akan tetapi, karena total hasil panennya adalah sebesar 800 kg, dan angka ini melebihi nishab, maka wajib bagi pemilik sawah untuk membayar zakat berupa beras seberat 5% dari 300 kg dan pengelola sawah 5% dari 500 kg.

Inilah tata cara pembayaran zakat atas harta yang bercampur kepemilikannya antara dua orang atau lebih.

Adapun jika kasusnya adalah seseorang menyewa sawah milik orang lain, di mana dia wajib untuk membayarkan uang sewa kepada pemilik sawah, kemudian nanti ketika panen akan ada bagi hasil antara pemilik dan penyewa sawah, maka wajib bagi penyewa sawah untuk membayar zakat pertanian sebagaimana rincian di atas, tanpa dikurangi oleh besaran uang sewa. Yakni, zakat pertanian yang harus dia bayarkan ketika panen, dan uang sewa yang harus dia bayarkan kepada pemilik sawah, itu adalah dua hal yang berbeda. Adapun pemilik sawah, maka wajib baginya untuk membayar zakat pertanian sebagaimana rincian di atas. Kemudian, uang sewa yang dia dapat dari penyewa sawah harus dibayar zakat malnya bersama dengan total uangnya yang lain, setelah mencapai nishab dan haul.

Abu Umar Andy Latief