Derajat hadits tidak membasuh tempat sehelai rambut saat mandi junub

Pertanyaan: Apa derajat hadits berikut ini?

من ترك موضع شعرة من جنابة لم يغسلها فُعل به كذا وكذا من النار.

“Barangsiapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut, tidak membasuhnya dengan air saat mandi junub, maka akan dikenakan atasnya begini dan begitu dari api neraka.”

Jawab:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud pada kitab Sunan beliau dengan redaksi sebagai berikut:

Haddatsana Musa ibn Isma’il, haddatsana Hammad, akhbarana ‘Atha’ ibn as-Sa’ib, ‘an Zadan, ‘an ‘Aliy radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ترك موضع شعرة من جنابة لم يغسلها فُعل به كذا وكذا من النار.

“Barangsiapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut, tidak membasuhnya dengan air saat mandi junub, maka akan dikenakan atasnya begini dan begitu dari api neraka.”

‘Aliy berkata (tiga kali), “Oleh karena itu, aku memusuhi rambutku,” dan beliau selalu mencukur rambutnya. [Sunan Abi Dawud, no. 249]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Majah pada kitab Sunan beliau (no. 599) dan Imam Ahmad, dengan sedikit variasi lafazh, pada kitab Musnad beliau (no. 727, 794, dan 1121).

Para ulama’ memiliki perbedaan pendapat tentang derajat hadits ini. Penyebabnya adalah riwayat Hammad ibn Salamah dari ‘Atha’ ibn as-Sa’ib itu diperselisihkan keshahihannya karena ‘Atha’ mengalami ikhtilath, yaitu melemahnya hafalan sehingga berpengaruh pada akurasi riwayat yang disampaikan. (Istilah ikhtilath yang ada pada ilmu hadits itu berbeda dengan istilah ikhtilath yang bermakna campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.)

Ibn ‘Adiy berkata,

عطاء اختلط في آخر عمره، فمن سمع منه قديما مثل الثوري وشعبة، فحديثه مستقيم، ومن سمع منه بعد الاختلاط فأحاديثه فيها بعض النكرة.

“‘Atha’ mengalami ikhtilath pada akhir hidupnya. Maka barangsiapa yang mendengar riwayat darinya sebelum ikhtilathnya, maka haditsnya shahih. Sedangkan yang mendengar darinya setelah ikhtilathnya, maka haditsnya memiliki kemungkaran.” [Siyar A’lamin-Nubala’, karya adz-Dzahabiy, vol. 6, hal. 112]

Maka, apakah Hammad ibn Salamah mendengar dari ‘Atha’ sebelum ikhtilathnya atau setelah ikhtilathnya? Di sinilah para ulama’ memiliki perbedaan pendapat. Ada yang secara jelas mengatakan bahwa Hammad ibn Salamah mendengar dari ‘Atha’ sebelum ikhtilathnya sehingga hadits di atas shahih, sebagaimana perkataan al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaniy berikut,

وإسناده صحيح، فإنه من رواية عطاء بن السائب، وقد سمع منه حماد بن سلمة قبل الاختلاط.

“Sanadnya shahih. Hadits ini termasuk riwayat ‘Atha’ ibn as-Sa’ib. Telah mendengar darinya Hammad ibn Salamah sebelum ikhtilath.” [at-Talkhish al-Habir, karya Ibn Hajar al-‘Asqalaniy, vol. 1, hal. 249]

Juga, perkataan Ya’qub ibn Sufyan tentang ‘Atha’ yang dibawakan oleh Syaikh Ahmad Syakir berikut,

هو ثقة حجة وما روى عنه سفيان وشعبة وحماد بن سلمة، سماع هؤلاء سماع قديم، وكان عطاء تغير بآخره.

“Dia adalah seorang yang tsiqah, hujjah, dan apa yang diriwayatkan darinya oleh Sufyan, Syu’bah, dan Hammad ibn Salamah, maka mereka mendengar darinya sebelum ikhtilathnya. ‘Atha’ berubah hafalannya pada akhir hidupnya.” [Ta’liq Ahmad Syakir atas Musnad Ahmad, vol. 1, hal. 484]

Akan tetapi, ulama’ lain secara jelas mengatakan bahwa Hammad ibn Salamah mendengar dari ‘Atha’ setelah ikhtilathnya, seperti perkataan al-‘Uqailiy yang dibawakan oleh Syaikh al-Albaniy berikut,

وسماع حماد بن سلمة بعد الاختلاط.

“Hammad ibn Salamah mendengar (dari ‘Atha’) setelah ikhtilath.” [Dha’if Sunan Abi Dawud, karya al-Albaniy, vol. 1, hal. 104]

Syaikh al-Albaniy juga menukil perkataan ad-Daruquthniy yang mengatakan bahwa ‘Atha’ masuk kota Bashrah dua kali (sementara Hammad adalah orang Bashrah) dan juga perkataan al-Hafizh bahwa Hammad mendengar dari ‘Atha’ dua kali: sebelum dan setelah ikhtilathnya.

ad-Daruquthniy berkata,

دخل عطاء البصرة مرتين، فسماع أيوب وحماد بن سلمة في الرحلة الأولى صحيح.

“‘Atha’ masuk kota Bashrah dua kali. Maka riwayat Ayyub dan Hammad ibn Salamah pada kedatangan yang pertama itu shahih.” [Dha’if Sunan Abi Dawud, karya al-Albaniy, vol. 1, hal. 104]

al-Hafizh berkata,

فيحصل لنا من مجموع كلامهم: أن سفيان الثوري وشعبة وحماد بن زيد وأيوب عنه صحيح، ومن عداهم يتوقف فيه، إلا حماد بن سلمة فاختلف قولهم، والظاهر أنه سمع منه مرتين: مرة مع أيوب، كما يومي إليه كلام الدارقطني، ومرة بعد ذلك لما دخل إليهم البصرة، وسمع منه مع جرير وذويه، والله أعلم.

“Maka kami simpulkan dari seluruh perkataan mereka: Bahwa riwayat Sufyan ats-Tsauriy, Syu’bah, Hammad ibn Zaid, dan Ayyub dari ‘Atha’ itu shahih, sedangkan riwayat selainnya maka tawaqquf. Kecuali Hammad ibn Salamah, di mana para ulama’ berbeda pendapat tentangnya. Yang zhahir adalah dia mendengar dari ‘Atha’ dua kali: satu kali bersama Ayyub, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan ad-Daruquthniy, dan satu kali setelahnya ketika ‘Atha’ masuk kota Bashrah dan dia mendengar bersama Jarir dan Dzawih. Wallahu a’lam.” [Dha’if Sunan Abi Dawud, karya al-Albaniy, vol. 1, hal. 104]

Karena adanya kemungkinan bahwa hadits di atas adalah termasuk riwayat Hammad ibn Salamah ketika kedatangan ‘Atha’ ibn as-Sa’ib yang kedua kalinya ke Bashrah, di mana pada saat itu dia telah mengalami ikhtilath, maka kita tidak bisa serta-merta menisbatkan riwayat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menilainya sebagai hadits shahih. Oleh karena itu, hadits ini harus dihukumi sebagai hadits dha’if, sampai ada petunjuk lain yang dapat meyakinkan kita bahwa ia adalah hadits shahih, misalnya dengan adanya petunjuk bahwa hadits ini adalah riwayat Hammad saat kedatangan pertama kalinya ‘Atha’ ke kota Bashrah, atau adanya mutaba’at (sanad dengan sahabat yang sama tetapi rawiy yang berbeda, sehingga bisa menjadi penguat) atau bahkan adanya syawahid (sanad dengan sahabat yang berbeda, sehingga juga bisa menjadi penguat). Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Albaniy rahimahullah.

Dari uraian di atas, hendaknya tidak dipahami bahwa kita tidak harus membasuh seluruh bagian badan saat mandi junub karena hadits di atas dha’if, sebab ada hadits lain yang mewajibkannya. Pembahasan tentang aspek fikih ini akan dibahas pada artikel berikutnya, insyaAllah.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Abu Umar Andy Latief



Categories: Bahasa Indonesia, Hadits & Ilmunya

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.