Dua jenis fitnah Dajjal

Di antara akidah ahlus-sunnah wal-jama’ah yang wajib untuk diyakini oleh setiap muslim adalah bahwa di akhir zaman kelak Allah akan mengirimkan Dajjal sebagai ujian terbesar yang pernah Allah kirimkan kepada manusia. Ciri-ciri Dajjal telah banyak dijelaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau. Dajjal adalah seorang manusia, yang sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga sekarang sedang diborgol di dalam sebuah biara di sebuah pulau yang berjarak satu bulan dari jazirah Arab, sampai Allah bebaskan dia ketika waktunya tiba kelak. Di antara kedua matanya terdapat tulisan kafir, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin, baik buta huruf ataupun tidak. Dia akan keluar, menimbulkan kerusakan di muka bumi baik secara fisik maupun akidah, selama 40 hari: hari pertama bagaikan satu tahun, hari kedua bagaikan satu bulan, hari ketiga bagaikan satu minggu, dan sisanya bagaikan hari-hari biasa. Dajjal akan menipu manusia, sampai-sampai mereka percaya bahwa dia adalah Allah. Atas izin Allah, Dajjal akan memberikan berbagai gemerlap dunia kepada para pengikutnya dan akan membuat daerah kaum mukminin yang tidak mau mengikutinya menjadi daerah yang kering kerontang.

Akan tetapi, tipu daya Dajjal tidak hanya menimpa mereka yang hidup di akhir zaman ketika Dajjal keluar kelak, karena tipu daya Dajjal ada dua jenis. Yang pertama adalah tipu daya yang dilakukan oleh Dajjal ketika dia keluar di akhir zaman. Inilah ujian terbesar Allah kepada bani Adam. Dan jenis yang kedua adalah fitnah syubhat dan syahwat yang menjadi muqaddimah sebelum keluarnya Dajjal di akhir zaman.

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Fitnah Dajjal tidak khusus hanya terjadi pada mereka yang hidup di zamannya. Akan tetapi, hakikat dari fitnah Dajjal adalah kebathilan yang menyelisihi syari’at, yang diiringi dengan sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan. Barangsiapa yang meyakini sesuatu yang menyelisihi syari’at karena adanya sesuatu yang sifatnya di luar kebiasaan, maka dia telah terkena bagian dari tipu daya Dajjal. Dan ini banyak terjadi di setiap waktu dan tempat. Akan tetapi, Dajjal yang akan keluar kelak di akhir zaman, maka tipu dayanya adalah yang paling besar. Barangsiapa yang Allah jaga darinya, baik menjumpainya di akhir zaman atau tidak, maka dia telah dijaga dari tipu daya yang lebih kecil darinya.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Sebagaimana telah diketahui, bahwa semua orang diperintahkan dalam shalatnya untuk membaca ta’awwudz dari ‘adzab neraka dan kubur, serta dari fitnah hidup dan mati, karena fitnah-fitnah ini terjadi pada setiap orang. Dan tidaklah ada keselamatan kecuali dengan selamat darinya. Maka, ini menunjukkan bahwa fitnah Dajjal itu juga demikian sifatnya. Jika fitnah Dajjal tersebut tidak menimpa kecuali orang-orang yang menjumpainya, maka doa berlindung dari fitnah Dajjal tidak akan diperintahkan kepada semua orang. Padahal telah diketahui bahwa mayoritas orang tidak akan menjumpainya. Dan tidak akan menjumpainya kecuali sedikit orang saja (jika dibandingkan dengan semua orang yang pernah hidup dari zaman dahulu hingga akhir zaman kelak -penj.). Demikian pula peringatan dari para nabi kepada umatnya sampai-sampai Nabi Nuh pun memperingatkan umatnya. Maka, ini menunjukkan bahwa fitnah Dajjal itu umum, walaupun munculnya Dajjal itu sendiri baru terjadi nanti di akhir zaman, sampai al-Masih ‘Isa ibn Maryam membunuhnya. Dan seringkali terbersit di hatiku bahwa mereka para ittihadiyyah adalah orang-orang yang terdepan dalam mengikuti Dajjal.” [Dinukil dari kitab Fitnatud-Dajjal, karya Syaikh ‘Abdur-Rahman ibn Nashir as-Sa’diy, hal. 30.]

Syaikh Ahmad ibn ‘Abdir-Rahman al-Qadhiy hafizhahullah berkata,

Ittihadiyyah adalah orang-orang yang meyakini paham wahdatul-wujud, yaitu keyakinan bahwa Allah dan makhluknya itu bersatu, dan bahwa Allah dan makhluknya itu satu dzat yang sama. Mereka adalah orang-orang ekstrim dari kalangan sufi dan filsafat, semisal Ibn ‘Arabiy, Ibn Sab’in, at-Tilmisaniy, dan selainnya, walaupun redaksional mereka berbeda-beda (dalam mengutarakan keyakinan wahdatul-wujudnya tersebut -penj.).” [Dinukil dari ta’liq beliau atas kitab Fitnatud-Dajjal.]

Dari nukilan di atas, kita simpulkan bahwa seluruh syubhat dan syahwat yang menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Meyakini bahwa Allah bersatu dengan makhluknya, yaitu keyakinan yang dikenal dengan nama wahdatul-wujud, ini adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Meyakini bahwa seorang kiyai adalah wali yang memiliki kesaktian tertentu sehingga setiap perkataannya adalah benar walaupun jelas-jelas menyelisihi syari’at, ini adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Meyakini bahwa Qur’an dan hadits itu sudah terlalu usang untuk dijadikan pedoman hidup di zaman sekarang, ini adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Meyakini bahwa dukun, walaupun berlabel kiyai, dapat mengabulkan hajat sehingga kita mendatanginya ketika ingin lulus ujian atau hendak melamar pekerjaan, ini adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Mendukung homoseksual, pro komunisme dan sosialisme walaupun hanya prinsip ekonominya saja, ini adalah bagian dari tipu daya Dajjal. Lebih bangga mengikuti budaya orang kafir kemudian malu dengan keislaman kita dan malu untuk menampakkan syi’ar-syi’ar Islam, ini juga adalah bagian dari tipu daya Dajjal.

Saudaraku, lihatlah betapa banyak manusia yang terjebak dengan fitnah-fitnah Dajjal di atas, padahal itu hanyalah muqaddimah untuk menuju fitnah Dajjal di akhir zaman, ujian terbesar yang pernah Allah turunkan kepada manusia. Jika kita tidak membentengi diri dengan mempelajari ilmu syar’iy dari sumber dan guru yang terpercaya, maka sungguh betapa besar marabahaya yang akan menimpa. Obat dari fitnah Dajjal adalah ilmu syar’iy, yaitu ilmu yang diambil dari Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, yakni pemahaman generasi terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Jika kita tidak mampu untuk mengasihani diri sendiri, yaitu dengan melalaikan waktu dari belajar ilmu agama, maka kasihanilah istri dan anak cucu kita. Tidakkah terbersit dalam hati kita bahwa bisa jadi keluarga yang dekat dengan agama dan ilmu syar’iy yang shahih, yang kita pupuk dari sekarang, adalah faktor utama penyebab selamatnya anak cucu kita ketika mereka harus menghadapi fitnah Dajjal yang sebenarnya di akhir zaman kelak, di mana tidak ada yang tahu kapankah waktu itu tiba. Nas’alullah as-salamah wal-‘afiyah.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK



Categories: Akidah & Manhaj, Bahasa Indonesia

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.