Pertanyaan: Apakah dana riba boleh disedekahkan untuk perbaikan jalan? Apakah perbuatan ini tetap bernilai ibadah? Karena kami dengar dari orang-orang bahwa uang haram tidak boleh disedekahkan atau malah dikatakan tidak akan diterima sedekahnya.

Jawab:

Pertama: Riba adalah perbuatan zhalim, walaupun kedua belah pihak sama-sama ridha’ dengan transaksi riba tersebut. Misalnya, jika kita meminjamkan uang kepada seseorang dengan syarat bahwa jika dia terlambat mengembalikan maka akan dikenakan denda, maka transaksi riba ini adalah perbuatan zhalim walaupun dia menyetujui akad tersebut. Sekedar menyetujui akad ini saja sudah menjerumuskannya kepada riba, walaupun orang tersebut yakin bahwa dia tidak akan terlambat membayar. Apalagi jika dia benar-benar harus membayar denda keterlambatan, maka ini lebih-lebih lagi. Ingatlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الربا ثلاثة وسبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه.

“Riba memiliki 73 pintu. Yang paling ringan dosanya seperti berzina dengan ibu kandung sendiri.” [Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqiy.]

Kedua: Ketika kita mengambil harta dari orang lain secara zhalim, maka kita harus mengembalikan harta tersebut kepadanya agar taubat kita diterima. Yaitu, tidak cukup dengan hanya beristighfar kepada Allah, tetapi kita harus melakukan dua hal: beristighfar kepada Allah dan mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya. Demikian pula, dana riba yang kita ambil itu harus kita kembalikan kepada pemiliknya, jika kita mengetahui siapa pemiliknya. Misal, jika kita melakukan transaksi riba dengan individu tertentu, maka kita harus mengembalikan dana riba yang kita terima kepada orang tersebut, karena dalam kondisi ini jelas bahwa dana riba itu adalah miliknya.

Akan tetapi, jika tidak jelas siapa pemiliknya, apa yang harus kita lakukan? Misal, bunga bank yang kita terima dari bank itu bukanlah milik bank, tetapi milik orang yang diambil hartanya secara zhalim melalui transaksi riba oleh bank. Karena kita tidak tahu siapa pemiliknya, maka bunga bank yang kita terima tersebut harus kita salurkan untuk kemashlahatan kaum muslimin, seperti membangun jalan, rumah sakit, sekolah, masjid, atau donasi untuk kaum fakir miskin.

Ketiga: Dana riba yang kita salurkan untuk kemashlahatan kaum muslimin tersebut hukumnya halal bagi mereka yang menerimanya. Ia halal bagi pihak pengelola rumah sakit, sekolah, masjid, dan ia juga halal bagi kaum fakir miskin yang menerimanya. Karena dosa riba itu melekat pada transaksi ribanya, bukan pada dana ribanya. Itu mengapa di awal kita katakan bahwa kita tetap mendapatkan dosa riba walaupun kita tidak mendapatkan dana riba berupa denda keterlambatan dari orang yang kita berikan pinjaman. Dan itu mengapa kita tidak berdosa jika kita diberi hadiah oleh orang yang dikenal bahwa sebagian besar atau seluruh hartanya berasal dari bisnis riba. Itu juga mengapa kita tidak berdosa jika kita mendapatkan beasiswa dari lembaga yang dananya berasal dari dana riba. Ini semua karena dosa riba itu melekat pada transaksi ribanya, bukan pada dana ribanya. Berbeda hukumnya jika dana tersebut adalah harta curian atau hasil rampokan, di mana dosanya melekat pada perbuatannya dan pada harta tersebut. Ketika kita diberi hadiah oleh orang lain dan kita tahu bahwa harta tersebut adalah harta curian, maka hadiah tersebut haram untuk kita terima.

Keempat: Penting untuk diketahui bahwa harta yang kita ambil secara zhalim, ketika kita menyalurkannya untuk kemashlahatan kaum muslimin jika tidak diketahui siapa pemiliknya, maka ini bukan merupakan sedekah, sehingga hendaknya kita tidak boleh merasa bahwa kita sedang bersedekah ketika menyalurkannya. Misal, ketika kita menyalurkan bunga bank untuk perbaikan jalan atau untuk kaum fakir miskin, maka ini bukan merupakan sedekah. Akan tetapi, ini adalah perbuatan mengembalikan harta yang kita ambil secara zhalim kepada pemiliknya yang memang berhak atas harta tersebut. Tentu berbeda jauh antara perbuatan bersedekah dengan perbuatan mengembalikan harta. Ini sama dengan ketika kita mengambil denda keterlambatan dari seseorang yang kita pinjami uang, kemudian kita bertaubat dan mengembalikan denda tersebut kepadanya karena itu memang harta miliknya yang telah kita ambil secara zhalim. Siapakah orang berakal yang hendak mengatakan bahwa kita sedang bersedekah kepada si pembayar denda?

Abu Umar Andy Latief

Posted by Andy Latief

Kami adalah mahasiswa doktoral di Theoretical Physics Group, School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK. Sebelumnya, kami pernah belajar di Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), dan sebagai mustami’ di Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.