Belajar secara bertahap adalah ciri penuntut ilmu yang rabbaniy

Mempelajari ilmu secara bertahap adalah kunci utama suksesnya seseorang dalam meniti tangga ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّـهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّـهِ وَلَـكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidaklah pantas bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, ‘Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kalian menjadi orang-orang yang rabbaniy, karena kalian mengajarkan al-Kitab dan kalian mempelajarinya.'” [al-Qur’an, surat Ali ‘Imran, 3: 79]

Yang dimaksud dengan orang-orang yang rabbaniy pada ayat ini adalah mereka yang mempelajari ilmu dimulai dari yang dasar hingga kemudian yang kompleks, dimulai dari masalah-masalah yang kecil hingga masalah-masalah yang rumit.

Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdillah al-Fauzan hafizhahullah berkata,

إن الربانيين هم الذين يبدؤون بصغار مسائل العلم قبل كباره، يُربُّون أنفسهم وطلابهم ابتداء من المسائل الصغيرة إلى المسائل الكبيرة، وهذا شيء طبيعي، لأن كل الأشياء تبدأ من أصولها وأساساتها ثم تكبر وتعظم بعد ذلك.

“Sesungguhnya orang-orang yang rabbaniy adalah mereka yang memulai belajar dari masalah-masalah ilmu yang kecil sebelum yang besar. Mereka mendidik diri mereka dan para murid mereka dimulai dari masalah-masalah yang kecil hingga masalah-masalah yang besar. Dan ini adalah sesuatu yang wajar, karena segala sesuatu itu bermula dari pondasinya dan landasan utamanya, sebelum kemudian menjadi besar setelahnya.” [Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, karya Shalih ibn Fauzan ibn ‘Abdillah al-Fauzan, hal. 8]

Maka, adalah sebuah kesalahan yang kita temui pada banyak orang di zaman ini — semoga Allah memperbaiki keadaan kita dan mereka — yang berbicara tentang masalah-masalah agama yang besar, padahal mereka bahkan belum memahami bahasa Arab. Mereka bahkan berfatwa tentang masalah halal dan haram, padahal mereka masih buta dengan dasar-dasar ilmu ushul. Mereka banyak berbicara tentang bagaimana menyikapi kejadian ini dan itu, bagaimana menyikapi person ini dan itu, padahal ilmu-ilmu dasar tentang Qur’an dan hadits masih banyak yang belum mereka ketahui.

Belajar ilmu dari dasar sebelum berkutat pada masalah-masalah yang besar dan rumit adalah sesuatu yang wajar, yang bisa diterima oleh setiap akal manusia. Namun, sikap tergesa-gesa dan terburu-buru, perasaan ingin tampil di hadapan orang, dan kecerobohan dalam berbicara dan bertindak itu lebih dicintai oleh hawa nafsu kita.

Semoga kita semua diberikan taufiq oleh Allah untuk menjadi orang-orang yang rabbaniy.

Andy Octavian Latief — @ Pogung Dalangan, Yogyakarta

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

 

Author: Andy Latief

Kami pernah belajar di School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK (jenjang S3), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), semuanya dalam bidang Fisika dengan konsentrasi Fisika Teori, dan menimba ilmu syar'iy sebagai mustami' di Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta serta dengan bermulazamah kepada para masyayikh dan asatidzah, hafizhahumullahu ta'ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.