Masihkah kita enggan untuk sering mengingat kematian?

Sungguh merupakan pemandangan yang menggetarkan hati ketika kita melihat saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah gempa dan tsunami akhir-akhir ini.

Mereka tak henti-hentinya mengadu kepada Allah. Mereka meneriakkan takbir, mereka menangis dan berdoa kepada Allah, di tengah-tengah gentingnya situasi dan pekatnya keadaan.

Begitulah kondisi manusia ketika menyadari bahwa kematiannya telah dekat. Bahkan Fir’aun pun bermunajat kepada Allah ketika dia sadar ajalnya telah tiba.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَـهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ * آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Dan Kami memungkinkan Bani Isra’il melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” [al-Qur’an, surat Yunus, 10: 90-91]

Maka, masihkah kita enggan untuk mengambil pelajaran? Masihkah sulit bagi kita untuk sering mengingat kematian sehingga kita akan tergerak untuk senantiasa bertaubat dan kembali kepada Allah? Bukanlah yang perlu dikhawatirkan itu adalah mereka yang masih memiliki kesempatan untuk bertaubat kepada Allah sebelum matinya, tetapi mereka yang terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka tiba-tiba kembali kepada Allah tanpa sempat untuk bertaubat kepadaNya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan: kematian.” [Hadits shahih, dimuat dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu, karya Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, no. 1210]

Andy Octavian Latief — @ Pogung Dalangan, Yogyakarta

@almaaduuriy: Facebook | Twitter | Instagram | Telegram

Author: Andy Latief

Kami pernah belajar di School of Physics and Astronomy, University of Birmingham, UK (jenjang S3), Department of Physics, University of Maryland College Park, US (jenjang S2), Departemen Fisika, Universitas Indonesia (jenjang S1), semuanya dalam bidang Fisika dengan konsentrasi Fisika Teori, dan menimba ilmu syar'iy sebagai mustami' di Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta serta dengan bermulazamah kepada para masyayikh dan asatidzah, hafizhahumullahu ta'ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.