Jika yang sunnah itu baik, mengapa tidak Allah wajibkan saja?

Pertanyaan: Assalamualaikum. Mau tanya, pertanyaan temen yg convert ke Muslim, ana tidak bisa menjelaskan takut salah. Ada pertanyaan : “kenapa sunnah itu disunnahkan?” Jika itu baik, kenapa Tuhan tidak mewajibkan saja? Saya sempat jawab, ya itu prerogative Allah yg bikin aturan.

Jawab:

Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullah.

Setiap perbuatan dan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hikmah. Dan hikmah ini terkadang Allah jelaskan di al-Qur’an atau melalui NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi, terkadang pula hikmah tersebut tidak Allah jelaskan, dan perbuatan Allah untuk tidak menjelaskan sebagian hikmah ini juga memiliki hikmah, yaitu agar tampak betapa terbatasnya ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah dan betapa lemahnya kita di hadapan Allah.

Tentang pertanyaan mengapa Allah menyunnahkan hal-hal yang hukumnya sunnah, maka ini termasuk hal yang telah Allah jelaskan hikmahnya.

Di antara hikmahnya adalah bahwa ini merupakan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Dengan menetapkan bahwa hukum sesuatu tersebut sebagai sunnah dan tidak wajib, maka Allah tidak akan menghukum orang yang meninggalkan sesuatu tersebut. Jika seandainya ada orang yang hanya ingin mengerjakan yang wajib-wajib saja, maka dia akan masuk surga, tentunya selama dia tidak melakukan yang haram-haram. Dalil dari hal ini adalah hadits orang Arab badui yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian bertanya tentang lima ibadah yang wajib (yang disebutkan dalam rukun Islam), lalu dia berkata bahwa dia hanya ingin melakukan yang lima itu saja. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah orang Arab badui ini pergi,

لئن صدق ليدخلن الجنة.

“Seandainya dia berkata benar (yakni, benar-benar dia kerjakan perkataannya tersebut), maka dia akan masuk surga.”

Lihat pula bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir ketika ditanya oleh para sahabatnya tentang apakah ibadah haji itu dilakukan tiap tahun atau tidak. Beliau melarang bertanya seperti itu dengan bersabda,

لو قلت نعم لوجبت ولما استطعتم.

“Jika aku berkata iya, maka menjadi wajiblah hal itu dan kalian tidak akan mampu melakukannya.”

Alhamdulillah hukum haji tidak berubah saat itu, sehingga ibadah haji hanya wajib sekali seumur hidup. Sementara jika kita ingin mengerjakan ibadah haji lagi, maka ini hukumnya sunnah, bukan wajib.

Di antara hikmah lainnya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak memberikan peluang kepada manusia untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan disyari’atkannya ibadah yang hukumnya sunnah dan tidak wajib, maka akan terlihat siapa yang melakukan ibadah sunnah tersebut walaupun itu tidak diwajibkan atasnya.

Lihatlah firman Allah di surat Fathir ayat 32, di mana Allah berfirman,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang zhalimun linafsihi dan di antara mereka ada yang muqtashid dan di antara mereka ada yang sabiqun bil-khairat dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” [al-Qur’an, surat Fathir, 32]

Yang dimaksud dengan zhalimun linafsihi (orang yang menzhalimi dirinya sendiri) adalah muslim yang melakukan hal-hal yang wajib namun tidak seluruhnya, dan dia masih melakukan hal-hal yang haram dan tidak bertaubat hingga matinya.

Yang dimaksud dengan muqtashid (orang yang menengah) adalah muslim yang melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang haram (atau jika dia melakukan hal-hal yang haram, maka dia bertaubat sebelum matinya).

Yang dimaksud dengan sabiqun bil-khairat (orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan) adalah muslim yang melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang haram (atau jika dia melakukan hal-hal yang haram, maka dia bertaubat sebelum matinya), dan melakukan hal-hal yang sunnah dan meninggalkan hal-hal yang makruh.

Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan tingkatan di antara manusia ini menjadi jelas dan terang dengan disyari’atkannya hukum wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Wallahu a’lam.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

#artikel, #hikmah, #sunnah, #ushul-fikih, #wajib

Ilusi kemampuan mentarjih

Seseorang bisa dikatakan telah memiliki kemampuan mentarjih (yang itu merupakan bagian dari kemampuan ijtihad) jika dia bisa membela pendapat yang dia rajihkan tersebut dari segi ushul, dalil, dan wajhul-istidlal-nya. Dia juga harus mengetahui masalah-masalah apa saja yang dibangun di atas ushul yang sama dengan masalah yang sedang dibahasnya tersebut sehingga dia tidak terjatuh pada kontradiksi dalam berpendapat.

Adapun mendengar guru kita merajihkan sebuah pendapat lalu menerangkan alasannya kepada kita sehingga (katakanlah) kita bisa paham ushul, dalil, dan wajhul-istidlal di balik pendapat tersebut, maka ini tidak serta-merta menjadikan kita memiliki kemampuan mentarjih dalam masalah tersebut, karena pada hakikatnya kita sedang taqlid pada beliau. Tidak boleh bagi kita untuk mengesankan bahwa kemampuan mentarjih tersebut berasal dari kita, karena ini pada hakikatnya adalah berlezat-lezat dengan sesuatu yang tidak kita miliki.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور.

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia miliki adalah seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan.”

Sebagaimana telah disebutkan di atas, kita baru bisa dikatakan memiliki kemampuan mentarjih jika kita mampu untuk membela pendapat yang kita rajihkan tersebut dalam debat ilmiah.

Sebelum kita mencapai level ini, maka yang kita anggap sebagai “kemampuan mentarjih” pada hakikatnya adalah taqlid kepada guru yang mengajarkan kepada kita tentang analisa tarjih beliau tersebut, dan ini bergantung pada guru mana yang kemampuan menerangkannya lebih bagus.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

#artikel, #ijtihad, #tarjih, #ushul-fikih