Dua narasi yang saling kontradiktif dari para pengusung Islam Nusantara

Di satu sisi mereka berkata bahwa Islam Nusantara adalah “hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia.”

Di sisi lain mereka bersemangat untuk mengenalkan Islam Nusantara kepada negara Islam lainnya, sehingga konsep ramah dan toleran yang diusung dalam Islam Nusantara bisa ditularkan ke negara lain.

Kalau memang Islam Nusantara itu adalah Islam yang khas untuk Indonesia, mengapa malah ingin mengenalkannya pada negara Islam lainnya yang memiliki kekhasan budaya dan karakter sosial yang berbeda?

Kalau memang konsep yang ingin diunggulkan dari Islam Nusantara adalah keramahan dan toleransi, apakah Islam itu masih kurang ramah dan kurang toleran? Apakah mereka hendak berkata bahwa ajaran yang terkandung dalam Qur’an dan Sunnah itu masih kurang ramah dan toleran kecuali setelah “diinteraksikan, dikontekstualisasikan, diindigenisasikan, dan divernakularisasikan” dengan budaya Indonesia?

Sudahlah, jujur saja. Sebenarnya Islam Nusantara itu hanyalah alat untuk membentengi ideologi asy’ariy maturidiy yang dewasa ini sudah mulai banyak tergerus oleh manhaj salaf.

Mereka mencoba menggiring opini bahwa yang asli Nusantara itu hanyalah ideologi asy’ariy maturidiy, sedangkan manhaj salaf adalah impor dari negeri arab.

Dan mereka juga ingin meredam dakwah salaf, yang sangat aktif mengajarkan masyarakat tentang kesyirikan dan kebid’ahan, agar tidak lagi memperingatkan umat dari kesyirikan dan kebid’ahan.

Itu mengapa mereka katakan bahwa para da’i yang mengajarkan hakikat syirik dan bid’ah sebagai da’i yang tidak ramah dan tidak toleran. Kalau memang tidak setuju, maka monggo bantah saja secara ilmiah di kajian anda masing-masing. Justru yang tidak ramah dan tidak toleran itu adalah orang-orang yang gemar demo untuk menggagalkan kajian. Apakah anda memang sudah tidak mampu untuk membuat bantahan secara ilmiah sehingga beralih tidak lagi menggunakan ilmu tetapi malah mengandalkan otot?

Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Ke manakah hilangnya ta’zhim kepada Allah, para nabi dan rasulNya, dan para sahabat?

Sungguh tidak pantas bagi seorang muslim — terlebih lagi jika ia dikenal sebagai seorang da’i — untuk menyifati Allah dengan kata “online 24 jam”, “mak comblang”, “ngejapri Allah”, dan sederetan sifat-sifat yang tidak layak disematkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula tidak pantas untuk menggelari Nabi Musa ‘alaihis-salam sebagai “preman”, Nabi Dawud ‘alaihis-salam sebagai “vokalis” yang ketika beliau bertilawah kemudian disamakan dengan lagi “konser, single show Nabi Dawud”.

Apalagi sampai menyifati ibunda kita ummul-mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan sebutan “cewek gaul”. Kemudian membawakan perkataan tak berdalil bahwa “ciri cewek shalihah itu berat badannya harus di bawah 55 kg”.

Inilah perbuatan yang dapat merusak agama walaupun tidak da’i tersebut sadari. Ini bukan sekedar kesalahan diksi, tetapi diksi bisa salah karena rusaknya prinsip akidah tauhid asma’ wa shifat, yang berakibat pada hilangnya ta’zhim (pengagungan) pada Allah, dan kemudian beruntun pada hilangnya ta’zhim pada nabi dan rasulNya, serta pada para sahabat.

Dakwah adalah mengajak dan mengangkat manusia ke derajat yang lebih tinggi, yaitu agar mereka bisa mencontoh teladan Rasulullah dan para sahabatnya. Bukan dengan menurunkan derajat kita sehingga menjadi sama seperti orang yang didakwahi, yaitu masih sama-sama suka musik dan suka hedon. Boleh saja menyesuaikan bahasa dakwah kita dengan bahasa orang yang didakwahi, tetapi tentu selama tidak ada konsekuensi negatif atas pemilihan bahasa tersebut. Jika kita memilih kata yang kemudian mengakibatkan orang-orang kehilangan ta’zhim pada nabi dan rasulNya, pada para sahabat, terlebih lagi pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ketahuilah bahwa kita telah tergelincir pada kesalahan.

Semoga Allah senantiasa memberi kita dan mereka hidayah.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Terorisme ada karena syubhat yang melanda, maka cuma ahli ilmu yang dapat menumpasnya hingga akar-akarnya

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Saudaraku, kita semua tahu bahwa terorisme adalah kejahatan yang sangat jelas keharamannya dalam Islam. Akan tetapi, janganlah semangat dan niat baik kita untuk memerangi terorisme tersebut dibangun di atas kejahilan atau ketidaktahuan terhadap ajaran agama kita sendiri. Ketika aksi terorisme tiba-tiba merebak kembali di tanah air akhir-akhir ini, banyak kaum muslimin yang justru melabeli jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar sebagai ciri teroris. Mereka lupa bahwa jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar adalah syi’ar agama. Ia banyak dibahas oleh para ulama’ dalam kitab-kitab madzhab yang empat, dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an, dan dalam kitab-kitab penjelasan hadits. Mengaitkan terorisme dengan jenggot, celana di atas mata kaki, dan cadar adalah perbuatan yang sama buruknya dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran sempit di negeri barat ketika mereka menindas kaum muslimin, ketika mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama terorisme, dan ketika mereka mengatakan bahwa seluruh muslim adalah teroris! Tidaklah semua perkataan ini diucapkan kecuali karena dibangun di atas kejahilan terhadap ajaran agama Islam yang sesungguhnya.

Sebab utama ideologi terorisme dapat merasuki seseorang: Jahil terhadap pemahaman yang benar tentang Qur’an dan Sunnah

Terorisme ada karena syubhat yang melanda. Ia ada karena seseorang tidak tahu Qur’an dan Sunnah. Ia ada karena seseorang tidak tahu metode yang benar dalam memahami Qur’an dan Sunnah. Ia ada karena seseorang jauh dari tuntunan ahli ilmu.

Ibrahim ibn Musa asy-Syathibiy rahimahullah (w. 790 H / 1388 M) berkata,

ألا ترى إلى أن الخوارج كيف خرجوا عن الدين كما يخرج السهم من الصيد المرمي؟ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم وصفهم بأنهم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم، يعني – والله أعلم – أنهم لا يتفقهون به حتى يصل إلى قلوبهم لأن الفهم راجع إلى القلب، فإذا لم يصل إلى القلب لم يحصل فيه فهم على حال، وإنما يقف عند محل الأصوات والحروف المسموعة فقط، وهو الذي يشترك فيه من يفهم ومن لا يفهم.

“Tidakkah engkau melihat kepada kaum Khawarij, bagaimana mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari binatang buruan? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka bahwa mereka membaca al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka. Yakni, wallahu a’lam, mereka itu tidak memahami apa yang dibacanya sehingga bacaan tersebut bisa masuk ke dalam hati. Karena pemahaman itu kembali pada hati. Jika tidak bisa masuk ke dalam hati, maka ia tidak akan paham sama sekali. Akan tetapi, bacaan Qur’annya tersebut hanya berhenti pada sumber suara dan huruf belaka. Dan ini sama-sama dimiliki baik oleh orang yang paham maupun yang tidak paham.” [al-I’tisham, karya Ibrahim ibn Musa asy-Syathibiy, 2/691]

Ketika menyifati perkataan kaum Khawarij, ‘Aliy ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H / 661 M) berkata,

كلمة حق أريد بها باطل.

“Kalimat yang haqq, tetapi digunakan untuk tujuan yang bathil.”

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H / 1328 M) berkata,

فإنهم صاروا يحملون كلام الله ورسوله على ما يدعون أنه دال عليه، ولا يكون الأمر كذلك.

“Mereka memalingkan Kalam Allah dan sabda RasulNya menuju pada makna yang mereka klaim bahwa itulah makna sebenarnya (dari ayat dan hadits tersebut), padahal perkara sebenarnya tidaklah seperti itu.” [Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah, 7/116]

Inilah akibatnya jika kita memahami Qur’an dan Sunnah tidak sesuai dengan pemahaman para as-salafush-shalih, yaitu generasi terdahulu yang shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan para ulama’ setelah mereka yang mengikuti jejak mereka. Ayat dan hadits bisa dipelintir sekehendak hati jika kita tidak meniti pemahaman generasi terdahulu dalam memahami ayat dan hadits tersebut. Mereka dengan sesuka hati memelintir pemahaman tentang apa itu Darul-Islam, apakah pemerintah saat ini adalah ulil-amri yang sah secara syar’iy atau tidak, apakah para pelaku dosa besar itu serta-merta kafir atau tidak, dll.

Para pemuda yang tidak tahu tentang bagaimana pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in tentang ayat dan hadits yang membicarakan tentang topik-topik tersebut, akan sangat mudah dicekoki pemahaman yang nyeleneh oleh mereka, kaum Khawarij. Jika kita tidak punya data yang cukup tentang pemahaman para salaf tentang ayat dan hadits tersebut, maka pemikiran yang ngawur dan bersifat cocoklogi pun akan tampak logis bagi kita. Akibatnya, para pemuda yang cuma bermodalkan semangat dalam beragama tetapi masih jauh dari tuntunan ilmu itu pun akhirnya dengan mudah diarahkan pemahamannya agar sesuai dengan ideologi terorisme. Inilah yang dinamakan oleh banyak orang sebagai proses cuci otak. Cuci otak itu bukan dengan cara hipnotis atau yang semacamnya. Tetapi, cuci otak itu adalah dengan memasukkan syubhat yang tampak logis (walaupun ngawur dan bersifat cocoklogi) tentang ayat dan hadits, sehingga mereka meyakini bahwa itulah pemahaman yang benar.

Solusi untuk membentengi diri kita dan keluarga kita dari ideologi terorisme dan pemahaman menyimpang lainnya

Solusi dari hal ini adalah kembali pada manhaj salaf dalam memahami Qur’an dan Sunnah.

‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (w. 32 H / 653 M) berkata,

من كان منكم متأسيا فليتأس بأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كانوا أبر هذه الأمة قلوبا، وأعمقها علما، وأقلها تكلفا، وأقومها هديا، وأحسنها حالا، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم.

“Barangsiapa dari kalian yang ingin meneladani seseorang, maka hendaklah dia meneladani para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (sikap menyusahkannya), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang Allah pilih untuk membersamai NabiNya dan untuk menegakkan agamaNya. Maka, ketahuilah tentang keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka. Sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” [Jami’u Bayanil-‘Ilm wa Fadhlihi, karya Ibn ‘Abdil-Barr, no. 1097]

Setiap kali ada orang yang mengajarkan anda tentang tafsiran ayat dan hadits, tanyakan kepadanya, “Siapa ulama’ terdahulu yang mengatakan hal ini? Adakah orang yang mengatakan tentang tafsiran ini dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in?” Jika dia menyebutkan nama sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, atau ulama’, maka tanyakan lagi kepadanya, “Mana rujukannya? Perkataan ini ada di kitab apa?” Kemudian, rutinlah untuk duduk di majelis kajian para ahli ilmu. Banyaklah membaca buku dan tulisan ilmu syar’iy dari ulama’ dan ustadz yang terpercaya keilmuwannya. Semua ini kita lakukan sambil selalu memanjatkan doa kepada Allah agar kita diberikan hidayah dan taufiq untuk senantiasa meniti jalan yang lurus. Karena dengan ilmulah syubhat-syubhat mereka itu dapat dilumpuhkan. Dengan ilmulah pemahaman menyimpang mereka itu dapat diluruskan. Oleh karena itu, cuma ahli ilmulah yang dapat menumpas ideologi terorisme mereka itu hingga akar-akarnya.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Bolehkah kita mengkritik penguasa secara terang-terangan?

Pertanyaan: Apakah mengkritik penguasa di atas mimbar adalah termasuk manhaj salaf? Bagaimana manhaj (metode) dari para salaf (generasi terdahulu) dalam masalah menasihati penguasa?

Jawaban Syaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz rahimahullah:

Bukanlah termasuk manhaj dari para salaf menyebarkan aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar, karena ini akan mengarah pada kekacauan dan hilangnya kepatuhan rakyat pada penguasa dalam perkara yang ma’ruf. Ini juga mengarah pada pembicaraan yang mengandung madharat dan tidak mengandung manfaat.

Akan tetapi, metode yang diikuti oleh para salaf adalah nasihat antara mereka dan penguasa secara rahasia, menulis surat kepadanya, atau berkomunikasi dengan ulama’ yang selanjutnya akan menyampaikan nasihat tersebut kepada penguasa sehingga dia dapat dinasihati menuju kebaikan.

Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, mengingkari khamr, mengingkari riba tanpa menyebutkan pelakunya, maka ini adalah sesuatu yang wajib berdasarkan keumuman dalil.

Dan sudah cukup jika kita mengingkari kemaksiatan dan memperingatkan bahayanya tanpa menyebutkan pelakunya, baik pelakunya adalah penguasa ataupun bukan penguasa.

Ketika terjadi kekacauan pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, sebagian orang berkata kepada Usamah ibn Zaid radhiyallahu ‘anhu, “Apakah engkau tidak mau menasihati ‘Utsman?” Kemudian beliau menjawab, “Sungguh kalian melihat bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memberi tahu kalian? Sungguh aku menasihatinya secara berduaan antara aku dan dia tanpa membuka pintu kekacauan, karena aku tidak mau menjadi orang pertama yang membukanya.”

Dan ketika kaum Khawarij membuka pintu keburukan (yakni, pemberontakan -penj.) pada zaman ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, dan ketika mereka mengingkari ‘Utsman secara terang-terangan, maka kekacauan, pembunuhan, dan kerusakan menjadi bergejolak, yang orang-orang tidak berhenti merasakan pengaruhnya hingga hari ini. Hingga terjadi kekacauan antara ‘Aliy dan Mu’awiyah, dan pembunuhan ‘Utsman dan ‘Aliy radhiyallahu ‘anhuma karena sebab tersebut, dan pembunuhan banyak dari para sahabat dan selainnya karena sebab tersebut. Yaitu, karena mengingkari penguasa secara terbuka di depan publik dan menyebutkan aib-aib mereka secara terang-terangan, sampai-sampai banyak masyarakat membenci penguasa dan membunuhnya.

‘Iyadh ibn Ghanm al-Asy’ariy telah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية، ولكن يأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك، وإلا كان قد أدى الذي عليه).

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, maka janganlah dia tampakkan secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan berduaanlah dengannya. Jika ia menerima, maka itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan apa yang wajib baginya.”

Kita memohon kepada Allah keselamatan untuk kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin dari segala keburukan. Sungguh Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk sayyidina Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Diterjemahkan oleh Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Apakah yang tidak disebut dalam dalil itu bid’ah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada tiga jenis perkara yang harus kita ketahui.

Jenis pertama: Perkara yang ditetapkan oleh syari’at sebagai mashlahat. Ini adalah perkara yang disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya, baik itu dengan cara menyebutkan lafazh perintah secara jelas, atau menyebutkan keutamaannya, atau memuji orang yang melakukannya, atau mencela orang yang meninggalkannya, atau menyebutkan bahwa perkara tersebut adalah perkara yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Ini adalah mashlahat bagi manusia, walaupun mereka tidak melihatnya sebagai mashlahat.

Contoh: Disyari’atkannya shalat berjama’ah lima waktu di masjid bagi laki-laki, walaupun hal itu terkesan akan menyita waktunya dan mengurangi produktivitasnya.

Contoh lain: Disyari’atkannya mengenakan hijab bagi perempuan dengan hijab yang menutupi keindahannya (bukan dengan hijab yang malah membuatnya semakin indah), walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak menarik di mata orang-orang.

Jenis kedua: Perkara yang ditetapkan oleh syari’at sebagai madharat. Ini adalah perkara yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya, baik itu dengan cara menyebutkan lafazh larangan secara jelas, atau menyebutkan bahayanya, atau mencela orang yang melakukannya, atau memuji orang yang meninggalkannya, atau menyebutkan bahwa perkara tersebut adalah perkara yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Ini adalah madharat bagi manusia, walaupun mereka tidak melihatnya sebagai madharat.

Contoh: Dilarangnya pergi ke dukun atau siapapun itu yang melakukan praktik perdukunan meski tidak disebut dukun, walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak memiliki sandaran ketika sedang punya hajat.

Contoh lain: Dilarangnya riba dan gharar, walaupun hal itu terkesan akan membuatnya tidak bisa meraih keuntungan maksimal dalam bisnisnya karena sebagian besar hal yang menurutnya menguntungkan ternyata itu adalah riba dan gharar.

Jenis ketiga: Perkara yang tidak disebutkan oleh syari’at sebagai mashlahat atau madharat. Dengan kata lain, syari’at diam terkait perkara tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan perkara tersebut. Bagaimana hukum dari hal ini? Apakah seluruhnya adalah bid’ah?

Ada tiga kategori perkara dalam jenis ketiga ini.

Pertama: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak ada pendorong untuk itu. Jika pada zaman setelah beliau baru muncul pendorongnya, maka wajib bagi para mujtahid umat ini untuk berijtihad menentukan hukum dari perkara tersebut berdasarkan dalil-dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at. Seluruh yang akan terjadi hingga kiamat nanti telah dijelaskan hukumnya karena syari’at ini adalah syari’at yang lengkap.

Contoh: Rokok, di zaman Nabi tidak ada. Akan tetapi, berdasarkan kaidah umum laa dharar wa laa dhiraar (tidak ada sesuatu yang berbahaya dan membahayakan dalam syari’at), maka para mujtahid umat di zaman ini dapat menetapkan bahwa hukumnya adalah haram.

Contoh lain: eMoney, di zaman Nabi tidak ada. Akan tetapi, berdasarkan kaidah umum yang telah dijelaskan oleh syari’at dalam bab fikih mu’amalat, maka para mujtahid umat di zaman ini dapat memerinci hukumnya; kapan ia halal dan kapan ia haram.

Contoh lain: Zakat fithri dengan beras. Memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kata “beras” dalam hadits beliau, tetapi pemahaman para sahabat seperti Abu Sa’id al-Khudriy dan ‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum adalah bahwa zakat fithri itu ditunaikan dengan tha’am, yang bermakna bahan makanan pokok. Inilah ‘illah hukum yang banyak dijelaskan oleh mayoritas mujtahid umat di zaman dahulu. Oleh karena itu, ketika bahan makanan pokok masyarakat sekarang adalah beras, maka menunaikan zakat fithri dengan beras itu adalah disyari’atkan.

Contoh lain: Mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushhaf, merumuskan ilmu nahwu, sharf, ushul fiqh, ushul hadits, dst. Semua ini baru muncul pendorongnya setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, yaitu setelah banyak orang-orang non-Arab masuk Islam. Karena khawatir pemahaman yang shahih tentang Qur’an dan Sunnah menjadi hilang atau susah untuk dipelajari, maka para mujtahid umat ini berijma’ atas dibolehkannya hal-hal tersebut karena ada kaidah, “Apa yang sesuatu yang wajib (sunnah) itu tidak bisa dilakukan kecuali dengannya, maka ia juga adalah wajib (sunnah).”

Kedua: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ada penghalang untuk itu. Jika pada zaman setelah beliau baru sirna penghalangnya, maka wajib bagi para mujtahid umat ini untuk berijtihad menentukan hukum dari perkara tersebut berdasarkan dalil-dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at.

Contoh: Shalat tarawih berjama’ah di masjid dari awal hingga akhir Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melakukannya sebanyak tiga malam. Akan tetapi, pada malam yang keempat, beliau tidak melakukannya secara berjama’ah dengan para sahabat karena khawatir hal itu akan menjadi syari’at yang wajib. Namun, setelah beliau meninggal, maka syari’at telah lengkap dan sebuah amalan tidak mungkin lagi berubah hukumnya dari sunnah menjadi wajib, atau sebaliknya.

Oleh karena itu, ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan kembali kaum muslimin untuk shalat tarawih berjama’ah di belakang satu imam selama bulan Ramadhan, maka ini bukanlah bid’ah karena penghalangnya sudah tidak ada. Bahkan pada hakikatnya yang dilakukan oleh ‘Umar adalah menghidupkan Sunnah Nabi yang sempat tidak beliau lakukan karena adanya penghalang di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun perkataan ‘Umar tentang tindakannya tersebut, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini,” maka itu karena kata bid’ah memang dikenal dalam bahasa Arab sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Kata bid’ah di telinga orang Arab bermakna segala sesuatu yang baru. Lalu ketika Islam datang dan Nabi bersabda, “Semua bid’ah adalah sesat,” seluruh para sahabat memahami bahwa yang dimaksud semua bid’ah di sini adalah semua bid’ah dalam perkara agama, bukan bid’ah dalam perkara duniawi. Orang-orang non-Arab yang tidak paham bahasa Arab dengan baik, bisa jadi bingung dengan perkataan ‘Umar tersebut, sebab mereka tidak memahami kata bid’ah sebagaimana orang Arab memahaminya. Ini sama halnya ketika kita mengenalkan mobil merk Kijang kepada bule. Mereka akan mengasosiasikan kata kijang sebagai merk mobil, sehingga mereka akan kebingungan ketika mendengar orang Indonesia bercakap-cakap satu sama lain, “Kijang saya baru saja melahirkan.”

Ketiga: Perkara yang tidak disebutkan dalam dalil atau tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal telah ada pendorongnya di zaman beliau dan tidak ada penghalangnya. Ini adalah bid’ah.

Contoh: Adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, meski telah melalui dua hari raya ‘id tiap tahunnya, tidak pernah melakukan adzan dan iqamah sebelum melaksanakan shalat ‘id. Padahal, ada pendorong untuk melakukannya dan tidak ada penghalang bagi mereka untuk mengerjakannya. Maka, hukum adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id adalah bid’ah.

Contoh lain: Memperingati maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di zaman beliau, ada pendorong untuk melakukannya dan tidak ada penghalang untuk mengerjakannya. Seluruh alasan orang-orang di zaman ini ketika mereka mendukung peringatan maulid Nabi, misalnya karena ingin mengenang beliau atau sebagai bentuk cinta pada beliau, maka semua alasan ini telah ada di zaman Nabi dan di zaman khulafa’ur-rasyidin. Namun, mereka tidak melakukannya, padahal tidak ada penghalang bagi mereka untuk mengerjakannya. Maka, hukum dari hal ini adalah bid’ah.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk membolehkan perkara kategori ketiga ini dengan dalih dibolehkannya perkara kategori pertama dan kedua.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK