Bolehkah wanita shalat berjama’ah di masjid?

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya wanita yang selalu shalat berjama’ah di masjid? Saya pernah dengar kalau wanita itu lebih utama jika shalat di kamarnya. Jika shalat lima waktunya dilakukan di masjid bagaimana? Apalagi jarak rumahnya jauh dari masjid.

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’du.

Pertama: Syari’at memberikan hukum yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan tentang shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Untuk laki-laki, para ulama’ berbeda pendapat. Ada yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada juga yang mengatakan fardhu ‘ain selama tidak ada ‘udzur syar’iy. Pendapat pertama adalah pendapat madzhab, sedangkan pendapat kedua adalah pendapat yang insyaAllah lebih kuat dalam masalah ini. Adapun untuk perempuan, maka hukum shalat berjama’ah lima waktu di masjid adalah sunnah.

al-Imam Yahya ibn Syaraf an-Nawawiy rahimahullah berkata,

وأما النساء، فلا تفرض عليهن الجماعة، لا فرض عين، ولا كفاية. ولكن يستحب لهن.

“Adapun perempuan, maka tidak wajib baginya shalat berjama’ah, tidak fardhu ‘ain dan tidak pula fardhu kifayah. Akan tetapi, hukumnya adalah sunnah baginya.” [Raudhatuth-Thalibin, karya Yahya ibn Syaraf an-Nawawiy, hlm. 152]

Kedua: Dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لا تمنعوا نساءكم المساجد، وبيوتهن خير لهن).

“Janganlah kalian melarang istri kalian untuk pergi ke masjid. Akan tetapi, rumah mereka lebih baik bagi mereka.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (567).]

Dari hadits ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun shalat berjama’ah di masjid bagi perempuan itu hukumnya sunnah, tetapi shalatnya di rumahnya adalah lebih baik baginya. Bahkan, shalatnya di kamarnya adalah lebih baik lagi baginya.

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها، وصلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها).

“Shalatnya perempuan di rumahnya lebih baik daripada shalatnya di pekarangannya. Dan shalatnya di kamarnya lebih baik daripada shalatnya di rumahnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (570).]

Itu karena shalatnya perempuan di kamarnya akan membuatnya lebih terjaga daripada jika dia shalat di ruangan lain di rumahnya atau di pekarangannya. Namun, walaupun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memperingatkan kita untuk tidak melarang mereka pergi shalat berjama’ah ke masjid.

Dalil lain dari bolehnya perempuan untuk pergi shalat berjama’ah ke masjid adalah bahwa dahulu para shahabiyyah melaksanakan shalat berjama’ah di masjid bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak melarang hal tersebut. Ibunda kita Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان النساء يصلين مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم ينصرفن متلفعات بمروطهن، ما يعرفن من الغلس.

“Para wanita biasa shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka beranjak pergi dalam keadaan terbungkus oleh pakaian mereka. Mereka tidak bisa dikenali karena gelap.” [Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (578, 867) dan Muslim (645).]

Ketiga: Bolehnya perempuan untuk pergi shalat berjama’ah ke masjid ini adalah jika kondisinya aman tidak ada gangguan yang dapat membahayakannya, serta jika tidak ada fitnah (yakni, godaan) baik darinya kepada orang lain ataupun dari orang lain kepadanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لا تمنعوا إماء الله مساجد الله، وليخرجن تفلات).

“Janganlah kalian melarang hamba Allah (perempuan) untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Dan hendaknya mereka keluar tanpa memakai parfum.” [Hadits hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (565).]

Oleh karena itu, wajib baginya untuk mengenakan pakaian syar’iy selama keluar rumah menuju masjid, serta tidak mengenakan parfum dan tidak melakukan hal lainnya yang dapat memberikan fitnah (godaan) kepada orang lain.

Abu Umar Andy Latief

Mukjizat para nabi dan rasul, nyata atau kiasan?

Pertanyaan: Bagaimana cara kita menyikapi tentang cerita atau mukjizat para nabi yang dikisahkan di Qur’an? Apa kita harus menanggapinya sebagai kisah nyata secara literal atau cukup mengambil hikmah yang terkandung sebagai pembelajaran untuk hidup kita? Saya ingin mengetahui pandangan dari kak Andy, yang juga seorang Fisikawan Teoritis. Demikian pertanyaan saya dan sekiranya saya ucapkan terima kasih.

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Pertama: Untuk memahami al-Qur’an dan hadits, kita harus menggunakan pemahaman para as-salafush-shalih, yaitu generasi terdahulu yang shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Tidak boleh bagi kita untuk memahami al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan akal logika kita semata atau dengan memunculkan tafsiran baru dari ayat dan hadits tersebut yang tidak pernah dipahami oleh para generasi terdahulu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا}.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [al-Qur’an, surat an-Nisa’, 115]

Dari al-‘Irbadh ibn Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة).

“Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah al-khulafa’ ar-rasyidin, yang diberi petunjuk. Gigit kuat-kuat dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (4/126, 127), Abu Dawud (4607), at-Tirmidziy (2678), dan selainnya.]

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memahami dalil-dalil yang berbicara tentang mukjizat para nabi dan rasul sebagaimana pemahaman para as-salafush-shalih. Tidak ada riwayat shahihah yang menyebutkan bahwa mereka memahami mukjizat para nabi dan rasul sebagai makna kiasan yang cukup diambil hikmahnya sebagai pembelajaran saja. Akan tetapi, mereka memahami dalil-dalil yang menceritakan mukjizat tersebut dengan makna hakikinya dan bahwa mukjizat tersebut benar-benar terjadi.

Kedua: Di antara dalil bahwa mukjizat para nabi dan rasul itu benar-benar terjadi adalah hadits Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لما كان ليلة أسري به وأصبحت بمكة، فظعت بأمري، وعرفت أن الناس مكذبي). فقعد معتزلا حزينا. قال: فمر عدو الله أبو جهل، فجاء حتى جلس إليه، فقال له كالمستهزئ: هل كان من شيء؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نعم). قال: ما هو؟ قال: (إنه أسري به الليلة). قال: إلى أين؟ قال: (إلى بيت المقدس). قال: ثم أصبحت بين ظهرانينا؟ قال: (نعم). قال: فلم ير أنه يكذبه، مخافة أن يجحده الحديث إذا دعا قومه إليه. قال: أرأيت إن دعوت قومك تحدثهم ما حدثتني؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نعم). فقال: هيا معشر بني كعب بن لؤي، حتى قال: فانتفضت إليه المجالس، وجاءوا حتى جلسوا إليهما. قال: حدث قومك بما حدثتني. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إني أسري بي الليلة). قالوا: إلى أين؟ قلت: (إلى بيت المقدس). قالوا: ثم أصبحت بين ظهرانينا؟ قال: (نعم). قال: فمن بين مصفق ومن بين واضع يده على رأسه متعجبا للكذب زعم. قالوا: وهل تستطيع أن تنعت لنا المسجد؟ وفي القوم من قد سافر إلى ذلك البلد ورأى المسجد. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فذهبت أنعت، فما زلت أنعت حتى التبس علي بعض النعت). قال: (فجيء بالمسجد وأنا أنظر حتى وضع دون دار عقال أو عقيل، فنعته وأنا أنظر إليه). قال (وكان مع هذا نعت لم أحفظه). قال: (فقال القوم: أما النعت فوالله لقد أصاب).

“Pada malam di mana aku mengalami peristiwa Isra’ lalu aku tiba pagi harinya di Makkah, aku merasa berat dengan keadaanku, aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku.” Kemudian beliau duduk menyendiri dalam keadaan sedih. Lalu Ibn ‘Abbas berkata: Maka datanglah musuh Allah, Abu Jahl. Dia datang lalu duduk di dekat beliau. Lalu dia bertanya dengan nada mengejek, “Apakah ada sesuatu yang terjadi?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Abu Jahl bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Aku dibawa dalam sebuah perjalanan tadi malam.” Abu Jahl bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul-Maqdis.” Abu Jahl bertanya, “Lalu engkau di pagi hari sudah berada di antara kami?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ibn ‘Abbas berkata: Maka Abu Jahl tidak menampakkan bahwa dia mendustakannya, karena khawatir Nabi tidak mau menceritakan hal tersebut ketika kaumnya dipanggil kepadanya. Lalu Abu Jahl berkata, “Apa pendapatmu jika aku memanggil kaummu lalu engkau menceritakan apa yang engkau ceritakan kepadaku?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Lalu Abu Jahl berkata, “Kemarilah wahai segenap Bani Ka’b ibn Lu’ay!” Orang-orang pun datang dan duduk di dekat mereka berdua.

Kemudian Abu Jahl berkata, “Ceritakan pada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dibawa dalam sebuah perjalanan tadi malam.” Mereka bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul-Maqdis.” Mereka bertanya, “Lalu engkau di pagi hari sudah berada di antara kami?” Beliau menjawab, “Ya.” Di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan sebagian yang lain ada yang meletakkan tangannya di kepalanya, heran dengan kedustaan yang dikatakan oleh Nabi.

Mereka bertanya, “Apakah engkau bisa menerangkan kepada kami tentang masjid tersebut?” Di antara kaum tersebut ada yang pernah melakukan safar ke sana dan pernah melihat Baitul-Maqdis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka aku pun mulai menerangkan tentangnya. Aku tidak berhenti menyebutkan tanda-tandanya sampai aku mulai lupa dengan beberapa tanda. Kemudian masjid tersebut didatangkan dan aku melihatnya hingga diletakkan di rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun menerangkan tanda-tandanya sementara aku sedang melihatnya. Karena itulah aku bisa menerangkan tanda yang tidak aku hafal. Kemudian orang-orang berkata: Adapun tanda-tanda tersebut, maka demi Allah dia telah berkata benar.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (1/309).]

Pada hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada Abu Jahl dan orang-orang Quraisy bahwa beliau benar-benar pergi ke Baitul-Maqdis pada malam harinya, lalu pada pagi hari sudah tiba kembali di Makkah. Seandainya peristiwa Isra’ (dan Mi’raj) adalah makna kiasan belaka atau terjadi pada mimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belaka, maka tentu beliau akan menerangkannya kepada orang-orang Quraisy, dalam rangka mengurangi perasaan takjub dan heran mereka serta mengurangi pendustaan mereka kepada beliau. Abu Jahl dan orang-orang Quraisy saat itu semuanya memahami dari cerita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau benar-benar pergi ke Baitul-Maqdis secara fisik, lalu sudah tiba di Makkah kembali pada pagi harinya. Pembenaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pemahaman mereka ini adalah dalil kuat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memang melakukan perjalanan Isra’ (dan Mi’raj) secara fisik.

Kemudian, jika kita telah mengetahui bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj itu memang benar-benar terjadi secara hakiki, maka mukjizat mana lagi di al-Qur’an yang hendak kita ingkari bahwa ia benar-benar terjadi secara hakiki? Adakah yang lebih menakjubkan daripada peristiwa pergi dari Makkah ke Baitul-Maqdis, lalu ke Sidratul-Muntaha di langit ketujuh, kemudian kembali lagi ke Makkah dalam satu malam, di mana dalam proses tersebut beliau bertemu dengan para nabi dan rasul sebelumnya?

Ketiga: Peran kami sebagai seorang yang menggeluti fisika teoretis tidaklah relevan dalam masalah ini, sebab ini bukan ranah fisika. Fisika adalah ilmu yang mempelajari proses-proses yang terjadi di alam semesta, yang bisa dideteksi secara sistematis oleh eksperimen. Dengan kata lain, sebuah proses di alam semesta baru bisa dimasukkan dalam ranah fisika jika pendeteksiannya dalam eksperimen bisa dilakukan ulang oleh orang lain pada waktu dan tempat yang berbeda.

Oleh karena itu, fisika itu hanyalah membahas tentang Sunnatullah yang telah Allah tetapkan pada alam semesta ini. Adapun peristiwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu dari Malaikat Jibril ‘alaihis-salam, misalnya, bukanlah ranah fisika karena peristiwa ini tidak mungkin bisa dilakukan ulang oleh orang lain. Demikian pula, mukjizat para nabi dan rasul juga bukan ranah fisika. Ini semua adalah ranah Islam. Islam mengajarkan kepada kita bahwa sumber untuk mengetahui tentang kebenaran itu tidak hanya didapat dari dua jalan (kebiasaan dan akal), tetapi juga dari jalan ketiga (risalah). Inilah yang diingkari oleh mereka, orang-orang ateis. Mereka berpikir bahwa kebenaran itu hanya bisa didapat melalui dua hal, yaitu:

  • Kebiasaan. Misalnya, fakta bahwa elektron adalah partikel fermion dengan spin-1/2. Pernyataan ini benar menurut kebiasaan, yaitu setiap kali para fisikawan melakukan eksperimen dengan elektron, maka mereka selalu mendapatkan bahwa elektron itu adalah partikel fermion dengan spin-1/2.
  • Akal. Misalnya, fakta bahwa bilangan cacah itu sama banyaknya dengan bilangan cacah genap. Pernyataan ini benar menurut akal, yaitu dengan melihat bahwa setiap bilangan cacah n dapat dipasangkan dengan bilangan cacah genap 2n.

Padahal, kebenaran yang jauh lebih penting untuk kita ketahui justru didapat melalui jalan ketiga, yaitu risalah. Ilmu tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang tata cara ibadah yang dikehendaki olehNya, tentang tujuan utama mengapa kita diciptakan di dunia ini, tentang apa yang terjadi setelah kita mati dan meninggalkan dunia ini, tentang sifat-sifat surga dan neraka, semuanya ini tidak bisa didapat melalui kebiasaan dan akal, tetapi melalui risalah. Yaitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul dan mengirimkan wahyu kepada mereka sehingga mereka dapat mengabarkan dan mengajarkan kita tentang hal tersebut.

Karena kita harus membahas setiap topik menggunakan bidang yang menjadi ranahnya, maka menjadi tidak relevan untuk membahas tentang mukjizat para nabi dan rasul dari sudut pandang fisika. Oleh karena itu, sudut pandang seorang fisikawan teoretis menjadi tidak relevan karenanya. Mereka, orang-orang ateis, (dan orang-orang yang buta ilmu syar’iy secara umum) yang kemudian membahas tentang mukjizat para nabi dan rasul lalu mengingkarinya sambil mengklaim bahwa ini adalah pembahasan ilmiah, maka sungguh kasihan keadaan orang yang telah tertutup hati, mata, dan telinganya dari kebenaran.

Abu Umar Andy Latief

Jika tidak mengqadha’ puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya

Pertanyaan: Apa yang harus dilakukan jika saya tidak mengqadha’ puasa Ramadhan hingga datang bulan Ramadhan berikutnya?

Jawab:

Jika dia memiliki ‘udzur dalam keterlambatannya untuk mengqadha’ puasa Ramadhan ini, maka hanya wajib baginya qadha’ puasa. Misal, jika dia sakit secara terus-menerus atau safar secara terus-menerus hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka hanya wajib baginya qadha’ puasa. Tidak ada dosa baginya dalam keterlambatan ini karena dia memiliki ‘udzur syar’iy.

Adapun jika dia tidak memiliki ‘udzur, seperti sengaja tidak mengqadha’ puasa Ramadhan yang dia tinggalkan tersebut hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya untuk bertaubat karena ini adalah perbuatan dosa, dan juga wajib baginya untuk mengqadha’ puasa dan membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbas dan Abu Hurairah dari kalangan sahabat, dan ini adalah madzhab jumhur ulama’, yaitu Malik, asy-Syafi’iy, dan Ahmad.

Fidyah adalah memberi makanan kepada orang miskin sejumlah hari yang dia tinggalkan. Misal, jika dia meninggalkan puasa Ramadhan selama lima hari hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya untuk memberi makanan kepada lima orang miskin. Makanan yang diberikan ini bisa berupa makanan pokok (misal, beras) sebanyak satu mudd (750 ml) atau berupa satu porsi makanan yang sudah matang.

Adapun madzhab Abu Hanifah, maka beliau hanya mewajibkan qadha’ puasa, walaupun orang tersebut tidak memiliki ‘udzur dalam keterlambatannya mengqadha’ puasa Ramadhan. Beliau berdalil dengan tidak adanya dalil shahih dalam masalah ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya fidyah. Akan tetapi, jumhur ulama’ berdalil dengan pendapat sebagian sahabat Nabi tentang wajibnya fidyah, dan tidak diketahui adanya sahabat Nabi lainnya yang menyelisihi pendapat tersebut. Inilah pendapat yang kami anggap lebih kuat.

Abu Umar Andy Latief

Hukum zakat profesi

Pertanyaan: Apa hukum dari zakat profesi? Bolehkah kita mengeluarkan zakat langsung dari gaji kita setiap bulannya?

Jawab:

Sebelumnya, mari kita perjelas terlebih dahulu apa itu zakat profesi. Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan setiap bulan dari gaji kita setiap bulannya. Oleh karena itu, pada hakikatnya zakat profesi ini adalah zakat dari uang yang kita miliki, tetapi dengan tata cara pembayaran yang dilakukan setiap bulan secara langsung dari gaji yang kita peroleh pada bulan tersebut. Apa hukum dari hal ini?

Di antara syarat wajibnya zakat adalah tercapainya haul, yaitu harta tersebut telah kita miliki selama satu tahun Hijriyyah. Jika belum mencapai haul, maka tidak wajib bagi kita untuk mengeluarkan zakatnya.

Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang hendak membayar zakat sebelum hartanya mencapai haul? Para ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini. Ulama’ Malikiyyah berpendapat bahwa hal ini tidak diperbolehkan, dan zakat yang dia keluarkan tersebut pada hakikatnya adalah sedekah, bukan zakat. Akan tetapi, jumhur ulama’ berpendapat bolehnya hal ini, jika harta yang kita miliki telah melebihi nishab. Inilah pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini.

Oleh karena itu, boleh bagi kita untuk membayar zakat sebelum waktu haul tiba, baik pembayarannya dilakukan dalam satu waktu ataupun dilakukan setiap bulan dari gaji kita setiap bulannya, selama total uang kita melebihi nishab perak. Adapun jika total uang kita berada di bawah nishab perak, maka seluruh ulama’ sepakat bahwa uang yang kita keluarkan tersebut tidak akan terhitung sebagai zakat, tetapi sedekah.

Kemudian, ketika tiba waktu haul yang sebenarnya (kita tetap berasumsi bahwa total uang kita saat itu masih melebihi nishab), hendaknya kita menghitung berapa jumlah zakat yang seharusnya kita keluarkan pada saat itu (yaitu, 2,5% dari total uang kita saat itu), lalu kita bandingkan dengan berapa jumlah zakat profesi yang telah kita keluarkan setiap bulannya selama satu tahun Hijriyyah kemarin. Jika jumlah yang harus kita keluarkan lebih besar dari zakat profesi yang telah kita keluarkan, maka kita bayarkan selisihnya tersebut. Jika lebih kecil, maka itu terhitung sebagai sedekah.

Sebagian orang beranggapan bahwa zakat profesi itu boleh karena qiyas dengan zakat pertanian, sehingga kita boleh untuk membayarkan zakat profesi jika gaji kita setiap bulannya melebihi nishab hasil pertanian. Ini adalah argumen yang lemah karena lemahnya qiyas antara gaji bulanan dengan hasil pertanian. Pendapat yang benar adalah zakat profesi itu boleh karena ia termasuk dalam bab mendahulukan pembayaran zakat sebelum haulnya. Ini boleh menurut jumhur ulama’, sebagaimana telah kami sebut di atas. Oleh karena itu, zakat profesi ini baru boleh kita bayarkan jika total uang kita (yakni, bukan gaji bulanan kita) melebihi nishab perak saat kita hendak membayarkan zakat profesi setiap bulannya.

Abu Umar Andy Latief

Perhatian terhadap agama adalah sumber kebaikan

Dari Thalhah ibn ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang badui dengan kepala yang acak-acakan datang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang shalat?” Maka beliau menjawab, “Shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah.”

Lalu badui tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang puasa?” Maka beliau menjawab, “Bulan Ramadhan, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah.”

Lalu badui tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku, apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang zakat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya tentang syari’at Islam.

Kemudian badui tersebut berkata, “Demi Dzat yang memuliakanmu, sungguh aku tidak akan mengerjakan yang sunnah, dan aku juga tidak akan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (setelah badui tersebut pergi), “Dia akan beruntung jika dia berkata benar.” Dalam riwayat lain, “Dia akan masuk surga jika dia berkata benar.”

Sungguh beruntung orang badui tersebut. Berkat perhatiannya yang besar terhadap agama dan berkat semangatnya untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang permasalahan agama yang tidak dia ketahui, maka Allah berikan kepadanya pahala ekstra yang tak terhitung nilainya selama hadits ini diambil ilmu dan faidahnya oleh kaum muslimin hingga hari kiamat kelak! Walaupun orang badui tersebut bertekad untuk hanya mengerjakan yang wajib-wajib saja! Akan tetapi, Allah memberikan taufiq kepada Thalhah ibn ‘Ubaidillah untuk merekam kejadian ini dan meriwayatkannya, sehingga sampailah hadits ini kepada kita.

Lihatlah betapa besar perhatian orang badui tersebut terhadap agamanya ketika beliau bertanya tentang apa yang Allah wajibkan kepadanya tentang ibadah. Sungguh berbeda dengan keadaan sebagian dari kita yang justru menyesal setelah mengetahui sesuatu yang wajib atau sesuatu yang haram baginya, seraya berkata, “Seandainya aku belum tahu tentang hal ini, maka tentu aku tidak akan berdosa jika aku melanggarnya.”

Dan lihatlah betapa besar semangat orang badui tersebut untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang permasalahan agama yang tidak dia ketahui, sebagaimana ini adalah perintah Allah dalam al-Qur’an. Kisah orang badui ini adalah bukti bahwa satu amal kebaikan akan mengantarkan kepada amal-amal kebaikan berikutnya.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK