Terdapat hikmah dalam setiap musibah

Segala musibah yang menimpa kita, seluruh penyakit yang kita derita, ketahuilah bahwa pada asalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai itu semua terjadi pada kita. Akan tetapi, Allah menetapkan hal itu terjadi karena ada hikmah di baliknya, baik apakah hikmah tersebut bisa kita pahami atau tidak.

Itu karena sesuatu yang dicintai oleh Allah itu ada dua jenis: mahbub lidzatihi (sesuatu yang dicintai Allah secara dzatnya itu sendiri) dan mahbub lighairihi (sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain).

Sesuatu yang dicintai Allah secara dzatnya itu sendiri, contohnya adalah nikmat yang Allah berikan pada kita berupa kesehatan, makanan, minuman, tempat tinggal, atau kabar baik yang kita dengar, atau keberhasilan yang kita raih, selama itu bukan perkara yang diharamkan oleh Allah. Semua ini adalah sesuatu yang Allah suka untuk terjadi pada diri kita atau untuk kita miliki.

Adapun sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain, maka pada dasarnya ia adalah sesuatu yang Allah benci untuk terjadi pada kita. Akan tetapi, karena ada hikmah di baliknya yang lebih besar daripada keburukannya, maka Allah tetapkan hal itu untuk terjadi.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menerangkan tentang hal ini, beliau berkata,

“Sesuatu yang dicintai Allah karena adanya faktor lain, maka bisa jadi ia adalah sesuatu yang dibenci secara dzatnya itu sendiri, akan tetapi Allah mencintainya karena adanya hikmah dan mashlahat, sehingga ia menjadi sesuatu yang disukai dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain.

Contoh: Kerusakan di muka bumi yang dilakukan oleh Bani Isra’il secara dzatnya adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah karena Allah tidak menyukai kerusakan dan juga tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Akan tetapi, di sisi yang lain hikmah yang terkandung di balik kerusakan ini disukai oleh Allah.

Contoh lainnya adalah musim paceklik, bencana kekeringan, penyakit, dan kemiskinan. Karena Allah tidak suka untuk menyakiti hamba-hambaNya dengan hal-hal tersebut. Akan tetapi, Allah menginginkan kemudahan untuk para hambaNya. Namun, Dia menetapkan hal itu semua untuk terjadi karena adanya hikmah di baliknya, sehingga ia menjadi sesuatu yang dicintai oleh Allah dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang mereka lakukan, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [al-Qur’an, surat ar-Rum, 41]

Jika dikatakan: Bagaimana bisa sesuatu itu dicintai dari satu sisi, tetapi dibenci dari sisi yang lain?

Maka jawabannya: Seorang yang sakit diberikan sedosis obat yang pahit, yang bau dan warnanya tidak disukai. Lalu dia meminumnya. Dia membenci rasa, bau, dan warna obat tersebut, tetapi dia menyukainya karena obat tersebut bisa menyembuhkan. Begitu pula thabib yang mengobati pasien dengan menggunakan besi yang dipanaskan dengan api, sehingga pasien tersebut merasa kesakitan akibatnya. Maka, rasa sakit ini dibenci dari satu sisi, tetapi disukai dari sisi yang lain.” [al-Qaulul-Mufid ‘ala Kitabit-Tauhid, karya Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, 1/26]

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid 2 – Pengertian dan hakikat tauhid

Judul Kajian: Pengertian dan hakikat tauhid

عنوان الدرس: حد التوحيد وحقيقته

Kitab: Min Ma’alimit-Tauhid, karya Syaikh ‘Abdur-Razzaq ibn ‘Abdil-Muhsin al-Badr hafizhahullah

الكتاب: من معالم التوحيد، للشيخ عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر حفظه الله

Audio: ~ 37 menit

Halaman kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid

Halaman kajian

Tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi

Sebagian orang berkata, “Paham bahasa Arab bukan jaminan agar bisa berada di atas jalan yang lurus.”

Kemudian mereka biasanya menyebutkan pakar bahasa Arab yang memiliki kesalahan fatal dalam akidah, seperti Washil ibn ‘Atha’. Dia sangat fasih dalam bahasa Arab sampai-sampai dia bisa dengan tanpa persiapan sebelumnya untuk berkhuthbah tanpa sama sekali menyebutkan kata yang mengandung huruf ر (raa’), untuk menghindari menanggung malu di depan banyak orang dan ulama’ lainnya karena dia adalah seorang yang cadel. Namun, dia adalah pendiri sekte Mu’tazilah, salah satu sekte sesat dalam Islam.

Akan tetapi, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi.

Itu karena untuk berada di atas ash-shirathul-mustaqim (jalan yang lurus), kita membutuhkan dua kunci: ilmu dan ittiba’ (patuh).

فمن كان أعرف للحق وأتبع له كان أولى بالصراط المستقيم.

“Barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih patuh untuk mengikutinya maka dia lebih berhak atas jalan yang lurus.” (at-Tafsir al-Muyassar, surat al-Fatihah, 7)

Mereka yang ahli dalam bahasa Arab, tetapi menyimpang dari jalan yang lurus, memiliki kunci pertama (yaitu ilmu), tetapi tidak memiliki kunci kedua (yaitu ittiba’).

Dan mereka yang tidak paham bahasa Arab, maka bisa jadi mereka memiliki ittiba’, tetapi mereka tidak memiliki alat yang sangat penting untuk menimba ilmu: bahasa.

Mereka memiliki ittiba’. Maka berdasarkan asumsi ini mereka pasti berusaha untuk mengikuti Sunnah dan berpegang teguh padanya. Akan tetapi, bagaimana mereka mengikuti Sunnah sedangkan dalam waktu yang sama mereka tidak bisa membaca dan belajar secara langsung dari literatur para ulama’ yang menjelaskan Sunnah?

Na’am, jawabannya adalah mereka akan berpegang teguh pada ulama’. Pada kenyataannya, mereka hanya memiliki akses pada sejumlah sedikit ulama’ yang mereka bisa tanyai ketika mereka menemukan masalah. Alih-alih mengikuti dalil, pada kenyataannya mereka mengikuti pemahaman ulama’ tersebut tentang dalil. Ini tidak akan menjadi masalah jika mereka memilih ulama’ yang terpercaya dan jika mereka duduk di majelis ilmu mereka secara rutin.

Tidak memiliki ulama’ yang terpercaya sebagai tempat menimba ilmu adalah, sebagai contoh, sumber masalah untuk mereka yang berdoa kepada orang mati di kuburan. Mereka percaya pada ulama’ yang salah yang pada akhirnya mengarahkan mereka pada kesyirikan yang hina.

Dan tidak duduk di majelis ilmu secara rutin akan membuat kita tidak bisa menyadari kesalahan diri kita sendiri walaupun bisa jadi kesalahan tersebut telah kita miliki sejak bertahun-tahun yang lalu. Karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menemukan masalah, kita tidak akan bertanya tentang sesuatu yang tidak kita anggap sebagai masalah — padahal sebenarnya itu adalah masalah. Kita tidak akan tahu keyakinan apa yang kita miliki dan perbuatan apa yang kita lakukan yang ternyata sebenarnya adalah kesalahan karena kita bertanya kepada ulama’ hanya ketika kita menganggap sesuatu sebagai masalah.

Oleh karena itu, tidak paham bahasa Arab lalu tidak mau belajar itu lebih-lebih lagi. Ini karena kita membutuhkan dua kunci untuk bisa berada di atas jalan yang lurus: ilmu dan ittiba’. Membuat perbandingan dengan mereka yang ahli dalam bahasa Arab tetapi menyimpang pada dasarnya adalah hanya melihat pada satu kunci saja (yaitu ilmu) dan menghiraukan kunci lainnya (yaitu ittiba’). Cara yang benar untuk membuat perbandingan adalah dengan membandingkan dua orang yang memiliki level ittiba’ yang sama, tetapi satu orang adalah seorang yang ahli dalam bahasa Arab dan satunya lagi benar-benar buta di dalamnya. Sekarang kira-kira mana yang lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus?

Ada yang telah sepuh berumur lebih dari 60 tahun tetapi masih mau berjuang untuk belajar bahasa Arab. Beliau belajar apa itu ism, fi’l, dan harf. Beliau belajar tentang i’rab. Beliau menghafalkan tabel tashrif fi’l yang biasanya adalah mimpi buruk bagi para pelajar.

Jadi, kapan kita mau memulai belajar bahasa Arab?

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid 1 – Kekhususan dan keutamaan tauhid

Judul Kajian: Kekhususan dan keutamaan tauhid

عنوان الدرس: خصائص التوحيد وفضائله

Kitab: Min Ma’alimit-Tauhid, karya Syaikh ‘Abdur-Razzaq ibn ‘Abdil-Muhsin al-Badr hafizhahullah

الكتاب: من معالم التوحيد، للشيخ عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر حفظه الله

Audio: ~ 1 jam 17 menit

Halaman kajian kitab Min Ma’alimit-Tauhid

Halaman kajian

Not knowing Arabic language is even more not a guarantee

People like to say, “Knowing Arabic language is not a guarantee to be always in the correct path.”

Then usually they will mention some of those who are experts in Arabic but have serious mistakes in ‘aqidah, such as Wasil ibn ‘Ata’. He was very eloquent in Arabic language so much so that he was able, without preparation, to make a khutbah without containing not even a single word which has the letter ر (raa’) in it, to avoid embarrassment in front of many people and other scholars in the audience because he could not pronounce that letter correctly. However, he was the founder of Mu’tazilah, one of the deviant sects in Islam.

But, not knowing Arabic language is even more not a guarantee.

It is because to be in the correct path, we need two components: ‘ilm (knowledge) and ittiba’ (following the Sunnah).

فمن كان أعرف للحق وأتبع له كان أولى بالصراط المستقيم.

“Whoever knows more about al-haqq and more obedient to follow it has more right to be in the correct path.” (at-Tafsir al-Muyassar, surah al-Fatihah, 7)

Those people who know Arabic language, yet they go astray from the correct path, have the first component (which is ‘ilm), but they do not have the second one (which is ittiba’).

And those people who do not know Arabic language, yes they may have ittiba’, but they do not have a very important tool to acquire ‘ilm: the language.

They have ittiba’, so presumably they always try to follow the Sunnah and to stick to it strongly. But, how do they follow the Sunnah while at the same time they cannot read and learn directly from the vast literatures of the scholars that explain the Sunnah?

Yes, they will stick to scholars. In reality, they only have access to a very few number of scholars whom they can ask immediately whenever they encounter a problem. Instead of following the dalil, in reality they are following those scholars’ understanding about the dalil. This will not be a problem if they choose trustworthy scholars and if they attend their lectures regularly.

Not having trustworthy scholars to be relied upon is, just to mention an example, exactly the problem of those who pray to the dead people in their graves. They trust wrong scholars who finally lead them to do such evil shirk.

And not attending the lectures regularly makes us not realising our own mistake although we may have it since many years ago. Since we only ask the scholars whenever we encounter a problem, we will not ask them about the thing that we do not consider as a problem — while in reality that is a problem. We will not know which belief that we have that is actually wrong and which action that we do that is also actually wrong because we only ask the scholars about what we perceive as a problem in the first place.

Therefore, not knowing the Arabic language is even more not a guarantee. It is because we need two components to be always in the correct path: ‘ilm and ittiba’. Making a comparison with those who are experts in Arabic language, yet they go astray from the correct path, is basically only looking at one component only (which is ‘ilm) and neglecting the other one (which is ittiba’). The correct way to make a comparison is to compare between two people who have the same level of ittiba’, but one person is an expert in Arabic language and the other is totally blind in it. Which one has more right to be in the correct path then?

There is a person in Indonesia whose age more than 60 years old who still makes an effort to learn Arabic language. He learns what is ism, fi’l, and harf. He learns about i’rab. He memorises the tables of verb conjugation, which are usually the nightmares for the students.

So, when should we start learning the Arabic, all of us?

Abu Umar al-Maduriy