Knowledge of the Din has no end

Even if we dedicate our lifetime to it, we will not reach the end of it.

When a scholar finishes writing one book, then another scholar will start to write its subsequent book, whether it is to explain that book, to add some beneficial knowledge in its footnote and margin, etc.

When we finish reading one book, then there is still a number of its subsequent books waiting to be read. Not to mention that there are also those from another “chain of books,” which of course are far greater in number.

For example, the book Minhajut-Talibin wa ‘Umdatul-Muftin authored by an-Nawawiy rahimahullah (d. 676 H), as far as we know, has more than 20 subsequent books. Of course, there are also the “subsequents of the subsequents,” i.e., the subsequent books of the subsequent books of Minhajut-Talibin.

Another example is the book al-Muqni’ fiy Fiqhil-Imam Ahmad ibn Hanbal ash-Shaibaniy authored by Ibn Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah (d. 620 H).

  • Among the subsequents of al-Muqni’ is a book titled al-Insaf fiy Ma’rifatir-Rajih minal-Khilaf ‘ala Madzhabil-Imam Ahmad ibn Hanbal authored by al-Mardawiy rahimahullah (d. 885 H).
  • And among the subsequents of al-Insaf is a book titled at-Tanqih al-Mushbi’ fiy Tahriri Ahkamil-Mushbi’ authored by al-Mardawiy rahimahullah (d. 885 H).
  • And among the subsequents of at-Tanqih is a book titled Muntahal-Iradat fiy Jam’il-Muqni’ ma’at-Tanqih waz-Ziyadat authored by al-Futuhiy rahimahullah (d. 972 H).
  • And among the subsequents of Muntahal-Iradat is a book titled Ghayatul-Muntaha fil-Jam’ bainal-Iqna’ wal-Muntaha authored by al-Karmiy rahimahullah (d. 1033 H).
  • And among the subsequents of Ghayatul-Muntaha is a book titled Matalibu Ulin-Nuha fiy Sharhi Ghayatil-Muntaha authored by ar-Ruhaibaniy rahimahullah (d. 1243 H).
  • And among the subsequents of Matalibu Ulin-Nuha is a book titled Tajriduz-Zawa’id al-Ghayah wash-Sharh authored by ash-Shattiy rahimahullah (d. 1274 H).

That’s why the scholars said, among them is Shaikh Salih ibn ‘Abdillah al-‘Usaimiy hafizhahullah, that knowledge of the Din has no end, but the sincerity of our heart when we learn it and when we pray to Allah is a key that can bring us to the goal.

And that’s why the scholars said, among them is Shaikh ‘Abdus-Salam ash-Shuwai’ir hafizhahullah, that a student of knowledge who is still a beginner, who does not read even one fiqh book yet completely from its beginning to its end, but he already makes fatwa and talks about halal and haram, has a sign of hubbut-tasaddur (love to be in front of or above anyone). Nas’alullah as-salamah wal-‘afiyah.

Abu Umar al-Maduriy

Ilmu agama itu tidak ada ujungnya, tidak ada habisnya

Seandainya kita mendedikasikan seluruh hidup kita padanya, niscaya tidak akan habis seluruh ilmu tersebut untuk kita baca.

Ketika seorang ulama’ selesai menulis satu kitab, maka ulama’ lain akan menulis kitab lain yang menjadi “turunan” dari kitab tersebut, baik itu dalam rangka membedahnya, menjelaskannya, menambah faidah-faidah singkat di catatan kaki atau catatan pinggirnya, dst.

Ketika kita selesai membaca satu kitab, maka masih menanti kitab-kitab lain turunan dari kitab tersebut, menunggu untuk kita baca. Belum lagi kitab-kitab lain yang berada pada “rantai kitab” yang berbeda, maka tentu jauh lebih banyak lagi.

Sebagai contoh, kitab Minhajuth-Thalibin wa ‘Umdatul-Muftin karya an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), setahu kami, memiliki lebih dari 20 kitab yang menjadi turunan langsung dari kitab tersebut. Ini belum termasuk turunan tidak langsungnya, atau turunannya turunan, yaitu kitab yang merupakan turunan dari 20an kitab turunan Minhajuth-Thalibin tersebut.

Contoh lainnya adalah kitab al-Muqni’ fiy Fiqhil-Imam Ahmad ibn Hanbal asy-Syaibaniy karya Ibn Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah (w. 620 H).

  • Di antara kitab yang menjadi turunan kitab al-Muqni’ ini adalah al-Inshaf fiy Ma’rifatir-Rajih minal-Khilaf ‘ala Madzhabil-Imam Ahmad ibn Hanbal karya al-Mardawiy rahimahullah (w. 885 H).
  • Dan di antara kitab yang menjadi turunan kitab al-Inshaf ini adalah at-Tanqih al-Musybi’ fiy Tahriri Ahkamil-Musybi’ juga karya al-Mardawiy rahimahullah (w. 885 H).
  • Dan di antara kitab yang menjadi turunan kitab at-Tanqih ini adalah Muntahal-Iradat fiy Jam’il-Muqni’ ma’at-Tanqih waz-Ziyadat karya al-Futuhiy rahimahullah (w. 972 H).
  • Dan di antara kitab yang menjadi turunan kitab Muntahal-Iradat ini adalah Ghayatul-Muntaha fil-Jam’ bainal-Iqna’ wal-Muntaha karya al-Karmiy rahimahullah (w. 1033 H).
  • Dan di antara kitab yang menjadi turunan kitab Ghayatul-Muntaha ini adalah Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha karya ar-Ruhaibaniy rahimahullah (w. 1243 H).
  • Dan di antara kitab yang menjadi turunan kitab Mathalibu Ulin-Nuha ini adalah Tajriduz-Zawa’id al-Ghayah wasy-Syarh karya asy-Syaththiy rahimahullah (w. 1274 H).

Itulah mengapa para ulama’ berkata, di antaranya adalah Syaikh Shalih ibn ‘Abdillah al-‘Ushaimiy hafizhahullah, bahwa ilmu itu tidak ada ujungnya, tetapi keikhlasan hati ketika belajar dan berdoa kepada Allah adalah yang dapat mengantarkan kita untuk sampai kepada tujuan.

Dan itulah mengapa para ulama’ berkata, di antaranya adalah Syaikh ‘Abdus-Salam asy-Syuwai’ir hafizhahullah, bahwa penuntut ilmu pemula yang belum menamatkan satu saja kitab fikih dari awal sampai akhir, dari bab thaharah sampai bab perbudakan, tetapi sudah berani berfatwa dan berbicara halal-haram, adalah tanda-tanda hubbut-tashaddur (cinta menonjolkan diri). Nas’alullah as-salamah wal-‘afiyah.

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Dua pesan ketika musim dingin melanda

Saat ini Inggris sedang dingin-dinginnya akibat salju tebal dan angin kencang yang membuat salju-salju tersebut mengering. Mirip seperti padang pasir, namun yang berhempasan dihantam angin bukanlah pasir, tetapi salju kering. Ada dua pesan bagi kaum muslimin ketika kondisi seperti ini terjadi.

Pertama, jadikan momen ini sebagai kesempatan bagi kita untuk lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab dengan adanya cuaca yang dingin membeku ini, kita akan teringat pada Kebesaran dan Kekuasaan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, dingin akut yang kita rasakan saat musim dingin adalah salah satu dari dua nafas Neraka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(اشتكت النار إلى ربها، فقالت: يا رب أكل بعضي بعضا، فأذن لها بنفسين: نفس في الشتاء ونفس في الصيف، فهو أشد ما تجدون من الحر وأشد ما تجدون من الزمهرير).

“Neraka mengeluh kepada Rabbnya seraya berkata, ‘Wahai Rabbku, sebagian dari diriku memakan sebagian yang lain.’ Maka, Allah mengizinkannya untuk memiliki dua nafas: nafas di musim dingin dan nafas di musim panas. Itu adalah panas yang paling akut yang kalian dapati (saat musim panas) dan dingin yang paling akut yang kalian dapati (saat musim dingin).” [Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy, no. 3087, dan Muslim, no. 617]

Jika di dunia saja kita sudah tidak mampu untuk menahan pekatnya dingin akibat salju yang tebal dan angin yang menderu ini, maka kita bisa membayangkan bagaimana pula beratnya siksaan Neraka di Akhirat kelak. Wal-‘iyadzu billah.

Kedua, hendaknya kita tidak mencela hujan dan salju yang turun, angin yang menderu, dan cuaca yang dingin ini, sebab mereka semua adalah makhluk Allah. Mencela mereka pada hakikatnya adalah mencela Dzat yang menetapkan dan mengirim mereka, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Ubay ibn Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لا تسبوا الريح، فإذا رأيتم ما تكرهون فقولوا: اللهم إنا نسألك من خير هذه الريح وخير ما فيها وخير ما أمرت به، ونعوذ بك من شر هذه الريح وشر ما فيها وشر ما أمرت به).

“Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat apa yang kalian benci, maka katakanlah, ‘Allaahumma innaa nas’aluka min khairi hadzihir-riih wa khairi maa fiihaa wa khairi maa umirat bihi, wa na’uudzu bika min syarri hadzihir-riih wa syarri maa fiihaa wa syarri maa umirat bihi.’ (Ya Allah, kami memohon kepadaMu atas kebaikan dari angin ini, kebaikan dari apa yang ada padanya, dan kebaikan dari apa yang dia diperintahkan untuknya, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan dari angin ini, keburukan dari apa yang ada padanya, dan keburukan dari apa yang dia diperintahkan untuknya.)” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, no. 2252]

Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Bolehkah kita mengkritik penguasa secara terang-terangan?

Pertanyaan: Apakah mengkritik penguasa di atas mimbar adalah termasuk manhaj salaf? Bagaimana manhaj (metode) dari para salaf (generasi terdahulu) dalam masalah menasihati penguasa?

Jawaban Syaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz rahimahullah:

Bukanlah termasuk manhaj dari para salaf menyebarkan aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar, karena ini akan mengarah pada kekacauan dan hilangnya kepatuhan rakyat pada penguasa dalam perkara yang ma’ruf. Ini juga mengarah pada pembicaraan yang mengandung madharat dan tidak mengandung manfaat.

Akan tetapi, metode yang diikuti oleh para salaf adalah nasihat antara mereka dan penguasa secara rahasia, menulis surat kepadanya, atau berkomunikasi dengan ulama’ yang selanjutnya akan menyampaikan nasihat tersebut kepada penguasa sehingga dia dapat dinasihati menuju kebaikan.

Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, mengingkari khamr, mengingkari riba tanpa menyebutkan pelakunya, maka ini adalah sesuatu yang wajib berdasarkan keumuman dalil.

Dan sudah cukup jika kita mengingkari kemaksiatan dan memperingatkan bahayanya tanpa menyebutkan pelakunya, baik pelakunya adalah penguasa ataupun bukan penguasa.

Ketika terjadi kekacauan pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, sebagian orang berkata kepada Usamah ibn Zaid radhiyallahu ‘anhu, “Apakah engkau tidak mau menasihati ‘Utsman?” Kemudian beliau menjawab, “Sungguh kalian melihat bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memberi tahu kalian? Sungguh aku menasihatinya secara berduaan antara aku dan dia tanpa membuka pintu kekacauan, karena aku tidak mau menjadi orang pertama yang membukanya.”

Dan ketika kaum Khawarij membuka pintu keburukan (yakni, pemberontakan -penj.) pada zaman ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, dan ketika mereka mengingkari ‘Utsman secara terang-terangan, maka kekacauan, pembunuhan, dan kerusakan menjadi bergejolak, yang orang-orang tidak berhenti merasakan pengaruhnya hingga hari ini. Hingga terjadi kekacauan antara ‘Aliy dan Mu’awiyah, dan pembunuhan ‘Utsman dan ‘Aliy radhiyallahu ‘anhuma karena sebab tersebut, dan pembunuhan banyak dari para sahabat dan selainnya karena sebab tersebut. Yaitu, karena mengingkari penguasa secara terbuka di depan publik dan menyebutkan aib-aib mereka secara terang-terangan, sampai-sampai banyak masyarakat membenci penguasa dan membunuhnya.

‘Iyadh ibn Ghanm al-Asy’ariy telah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية، ولكن يأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك، وإلا كان قد أدى الذي عليه).

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, maka janganlah dia tampakkan secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan berduaanlah dengannya. Jika ia menerima, maka itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan apa yang wajib baginya.”

Kita memohon kepada Allah keselamatan untuk kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin dari segala keburukan. Sungguh Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk sayyidina Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Diterjemahkan oleh Abu Umar Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Kajian kitab Risalah fil-Qadha’ wal-Qadar 2 – Beberapa syubhat tentang qadha’ dan qadar

Judul Kajian: Beberapa syubhat tentang qadha’ dan qadar

عنوان الدرس: بعض الشبهات في القضاء والقدر

Kitab: Risalah fil-Qadha’ wal-Qadar, karya Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

الكتاب: رسالة في القضاء والقدر، للشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله

Audio: ~ 1 jam 32 menit

Halaman kajian kitab Risalah fil-Qadha’ wal-Qadar

Halaman kajian