Mandi besar setelah masuk waktu shubuh, apakah puasanya sah?

Pertanyaan: Apakah seseorang yang junub harus melakukan mandi besar sebelum masuk waktu shubuh agar puasanya sah?

Jawab:

Puasanya sah walaupun dia mandi besar setelah masuk waktu shubuh. Ini adalah pendapat dari hampir seluruh ulama’, termasuk di antaranya empat imam madzhab. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّـهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ}.

“Maka sekarang (yakni, pada waktu malam) campurilah mereka (yakni, para istri) dan carilah apa yang telah tetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [al-Qur’an, surat al-Baqarah, 187]

Jika jima’ antara suami dan istri diperbolehkan hingga masuknya waktu shubuh, maka itu berarti mandi besar (disebut juga mandi wajib atau mandi junub) boleh dilakukan setelah masuknya waktu shubuh (yakni, setelah adzan shubuh).

‘Aisyah dan Umm Salamah radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصبح جنبا من غير حلم، ثم يصوم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dalam keadaan junub, tetapi bukan karena mimpi. Kemudian beliau berpuasa.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1109).]

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يدركه الفجر في رمضان وهو جنب، من غير حلم، فيغتسل ويصوم.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub ketika masuk waktu fajar pada bulan Ramadhan, tetapi bukan karena mimpi. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1109).]

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku memasuki waktu shalat sementara aku dalam keadaan junub. Apakah kemudian aku berpuasa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

(وأنا تدركني الصلاة وأنا جنب فأصوم).

“Aku pun memasuki waktu shalat sementara aku dalam keadaan junub. Kemudian aku berpuasa.”

Lalu orang itu berkata, “Engkau tidak seperti kami, wahai Rasulullah. Allah telah memberi ampunan pada engkau atas dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” Maka beliau bersabda,

(والله إني لأرجو أن أكون أخشاكم لله وأعلمكم بما أتقي).

“Demi Allah, sungguh aku berharap bahwa aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan orang yang paling mengetahui tentang apa yang harus aku berhati-hati terhadapnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1110).]

Oleh karena itu, kita simpulkan bahwa boleh bagi seseorang untuk mandi besar walaupun waktu shubuh telah masuk. Akan tetapi, wajib bagi laki-laki untuk menyegerakan mandi besarnya agar tidak terlambat untuk shalat shubuh berjama’ah di masjid.

Puasanya tetap sah walaupun dia baru melakukan mandi besar setelah adzan shubuh berkumandang, tetapi dengan catatan bahwa dia telah berniat untuk berpuasa sejak sebelum waktu shubuh masuk. Jika dia sebelumnya ragu-ragu tentang bolehnya mandi besar setelah masuk waktu shubuh, kemudian baru mengetahui tentang kebolehannya setelah waktu shubuh tiba dan baru mandi besar setelah itu, maka puasanya tidak sah karena niat puasanya tersebut diiringi oleh syakk (ragu-ragu) dan taraddud (bimbang).

Abu Umar Andy Latief

Jika tidak mengqadha’ puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya

Pertanyaan: Apa yang harus dilakukan jika saya tidak mengqadha’ puasa Ramadhan hingga datang bulan Ramadhan berikutnya?

Jawab:

Jika dia memiliki ‘udzur dalam keterlambatannya untuk mengqadha’ puasa Ramadhan ini, maka hanya wajib baginya qadha’ puasa. Misal, jika dia sakit secara terus-menerus atau safar secara terus-menerus hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka hanya wajib baginya qadha’ puasa. Tidak ada dosa baginya dalam keterlambatan ini karena dia memiliki ‘udzur syar’iy.

Adapun jika dia tidak memiliki ‘udzur, seperti sengaja tidak mengqadha’ puasa Ramadhan yang dia tinggalkan tersebut hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya untuk bertaubat karena ini adalah perbuatan dosa, dan juga wajib baginya untuk mengqadha’ puasa dan membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbas dan Abu Hurairah dari kalangan sahabat, dan ini adalah madzhab jumhur ulama’, yaitu Malik, asy-Syafi’iy, dan Ahmad.

Fidyah adalah memberi makanan kepada orang miskin sejumlah hari yang dia tinggalkan. Misal, jika dia meninggalkan puasa Ramadhan selama lima hari hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya untuk memberi makanan kepada lima orang miskin. Makanan yang diberikan ini bisa berupa makanan pokok (misal, beras) sebanyak satu mudd (750 ml) atau berupa satu porsi makanan yang sudah matang.

Adapun madzhab Abu Hanifah, maka beliau hanya mewajibkan qadha’ puasa, walaupun orang tersebut tidak memiliki ‘udzur dalam keterlambatannya mengqadha’ puasa Ramadhan. Beliau berdalil dengan tidak adanya dalil shahih dalam masalah ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya fidyah. Akan tetapi, jumhur ulama’ berdalil dengan pendapat sebagian sahabat Nabi tentang wajibnya fidyah, dan tidak diketahui adanya sahabat Nabi lainnya yang menyelisihi pendapat tersebut. Inilah pendapat yang kami anggap lebih kuat.

Abu Umar Andy Latief