Hukum shalat jama’ah kedua dalam satu masjid

Pertanyaan: Assalaamu’alaikum, maaf mau bertanya. Ini berawal dari saat saya tadi melihat ada jamaah baru di masjid. Ceritanya, shalat jamaah pertama dengan imam tetap sudah selesai dan ada makmum masbuk di shaf belakang pojok yang ditepuk pundaknya. Terjadilah jamaah kedua. Posisi saya di samping imam yang awalnya jadi makmum masbuk tadi. Beliau punya satu makmum yang tadi nepuk pundak.

Tiba-tiba, di belakang saya ada jamaah baru (ketiga) dalam satu waktu, padahal masih ada jamaah kedua yang masih berlangsung. Saya mengingatkan orang yang mau gabung jamaah ketiga untuk ikut jamaah kedua saja karena setahu saya haram hukumnya ada beberapa jamaah dalam waktu yang sama apalagi orang tersebut sadar (mohon koreksinya jika keliru).

Pertanyaannya:

  1. Bagaimana status shalat jamaah ketiga tadi, apakah sah?
  2. Jika status kita ketinggalan jamaah dan imam sudah salam, bagaimana yang tepat dan lebih utama: shalat sendirian ataukah membuat jamaah baru?
  3. Dulu juga pernah menyaksikan ada imam dadakan (karena ditepuk pundaknya) dan beliau seharusnya mengeraskan bacaan (shalat maghrib) tetapi ternyata tidak mengeraskan, dan jamaah tidak ada yang mengingatkan imam. Apakah shalatnya sah?

Jawab:

Yang dimaksud dengan terlarangnya mendirikan shalat jama’ah kedua dalam satu masjid adalah jika mereka sudah memiliki kesepakatan untuk melaksanakan shalat jama’ah kedua tersebut. Misalnya, jika mereka saling bersepakat untuk tidak ikut shalat jama’ah di belakang imam tetap, tetapi kemudian membuat jama’ah sendiri, baik setelah jama’ahnya imam tetap, ataupun sebelumnya, ataupun lebih-lebih lagi bersamaan dengannya, maka ini terlarang.

Contoh dari hal ini adalah apa yang terjadi di Masjidil-Haram sebelum Raja ‘Abdul-‘Aziz as-Sa’ud berkuasa. Di setiap waktu shalat, terdapat empat shalat jama’ah untuk mereka yang bermadzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, dan Hanbaliy. Masing-masing madzhab memiliki tempat imam shalatnya masing-masing. Orang yang bermadzhab Malikiy akan menunggu jama’ah Malikiyyah dan tidak mau shalat dengan jama’ah Syafi’iyyah, dan seterusnya. Akan tetapi, setelah Raja ‘Abdul-‘Aziz as-Sa’ud berkuasa, beliau melarang praktik ini dan menyatukan kaum muslimin di belakang satu imam shalat, walhamdulillah.

Namun, jika kondisinya memang mengharuskan untuk berbilangnya shalat jama’ah dalam satu masjid, misalnya apa yang kita temukan di sebagian negeri barat, di mana jumlah kaum muslimin semakin lama semakin meningkat sedangkan kapasitas masjid untuk menampung mereka masih terbatas, maka tidak ada ruang yang cukup untuk mengakomodasi mereka melaksanakan shalat Jum’at. Akhirnya, pada beberapa masjid dilakukan shalat Jum’at dua kali atau lebih. Ini tidak mengapa karena adanya ‘udzur syar’iy tersebut dan karena ini bukan dilakukan dalam rangka menimbulkan perpecahan umat.

Semua yang kita sebutkan di atas adalah jika mereka para ma’mum saling sepakat untuk melakukan shalat jama’ah yang kedua, baik itu setelah, sebelum, ataupun saat jama’ah bersama imam tetap sedang dilaksanakan. Akan tetapi, jika kasusnya adalah tanpa kesepakatan di antara ma’mum, misalnya jika beberapa orang terlambat datang ke masjid dan mendapati jama’ah bersama imam tetap telah selesai, maka disyari’atkan bagi mereka untuk mendirikan jama’ah kedua. Ini karena keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa shalat jama’ah lebih afdhal daripada shalat sendirian, dan karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh para sahabat yang telah shalat berjama’ah bersama beliau untuk shalat lagi di belakang orang yang terlambat dalam rangka bersedekah kepada orang tersebut. Yakni, daripada orang yang terlambat tersebut shalat sendirian, maka bukankah lebih baik jika kita bantu dia mendapatkan pahala jama’ah dengan cara kita shalat lagi di belakangnya? Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang telah shalat bersama beliau untuk shalat lagi dalam rangka bersedekah kepada orang yang terlambat tadi, maka bagaimana pula jika ada orang kedua yang datang terlambat? Tentu lebih-lebih lagi baginya untuk shalat berjama’ah dengan orang pertama yang datang terlambat.

1. Jika kita kembali kepada kasus penanya, maka apa yang dilakukan oleh orang-orang di jama’ah ketiga itu salah. Seharusnya mereka shalat mengikuti jama’ah kedua. Walaupun begitu, shalat mereka tersebut sah.

2. Jika kita terlambat dan ketinggalan shalat jama’ah bersama imam tetap, maka yang harus dilakukan adalah membuat jama’ah baru, baik itu mengikuti orang yang shalatnya masbuq atau mendirikan shalat jama’ah dengan orang yang sama-sama terlambat.

3. Shalatnya sah, karena mengeraskan bacaan saat shalat jahriyyah (seperti isya’, maghrib, dan shubuh) itu hukumnya sunnah dan bukan wajib, walaupun bagi imam sekalipun.

Andy Latief — @ Selly Oak, Birmingham, UK

Bolehkah wanita shalat berjama’ah di masjid?

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya wanita yang selalu shalat berjama’ah di masjid? Saya pernah dengar kalau wanita itu lebih utama jika shalat di kamarnya. Jika shalat lima waktunya dilakukan di masjid bagaimana? Apalagi jarak rumahnya jauh dari masjid.

Jawab:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’du.

Pertama: Syari’at memberikan hukum yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan tentang shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Untuk laki-laki, para ulama’ berbeda pendapat. Ada yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada juga yang mengatakan fardhu ‘ain selama tidak ada ‘udzur syar’iy. Pendapat pertama adalah pendapat madzhab, sedangkan pendapat kedua adalah pendapat yang insyaAllah lebih kuat dalam masalah ini. Adapun untuk perempuan, maka hukum shalat berjama’ah lima waktu di masjid adalah sunnah.

al-Imam Yahya ibn Syaraf an-Nawawiy rahimahullah berkata,

وأما النساء، فلا تفرض عليهن الجماعة، لا فرض عين، ولا كفاية. ولكن يستحب لهن.

“Adapun perempuan, maka tidak wajib baginya shalat berjama’ah, tidak fardhu ‘ain dan tidak pula fardhu kifayah. Akan tetapi, hukumnya adalah sunnah baginya.” [Raudhatuth-Thalibin, karya Yahya ibn Syaraf an-Nawawiy, hlm. 152]

Kedua: Dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لا تمنعوا نساءكم المساجد، وبيوتهن خير لهن).

“Janganlah kalian melarang istri kalian untuk pergi ke masjid. Akan tetapi, rumah mereka lebih baik bagi mereka.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (567).]

Dari hadits ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun shalat berjama’ah di masjid bagi perempuan itu hukumnya sunnah, tetapi shalatnya di rumahnya adalah lebih baik baginya. Bahkan, shalatnya di kamarnya adalah lebih baik lagi baginya.

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها، وصلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها).

“Shalatnya perempuan di rumahnya lebih baik daripada shalatnya di pekarangannya. Dan shalatnya di kamarnya lebih baik daripada shalatnya di rumahnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (570).]

Itu karena shalatnya perempuan di kamarnya akan membuatnya lebih terjaga daripada jika dia shalat di ruangan lain di rumahnya atau di pekarangannya. Namun, walaupun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memperingatkan kita untuk tidak melarang mereka pergi shalat berjama’ah ke masjid.

Dalil lain dari bolehnya perempuan untuk pergi shalat berjama’ah ke masjid adalah bahwa dahulu para shahabiyyah melaksanakan shalat berjama’ah di masjid bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak melarang hal tersebut. Ibunda kita Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان النساء يصلين مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم ينصرفن متلفعات بمروطهن، ما يعرفن من الغلس.

“Para wanita biasa shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka beranjak pergi dalam keadaan terbungkus oleh pakaian mereka. Mereka tidak bisa dikenali karena gelap.” [Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (578, 867) dan Muslim (645).]

Ketiga: Bolehnya perempuan untuk pergi shalat berjama’ah ke masjid ini adalah jika kondisinya aman tidak ada gangguan yang dapat membahayakannya, serta jika tidak ada fitnah (yakni, godaan) baik darinya kepada orang lain ataupun dari orang lain kepadanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(لا تمنعوا إماء الله مساجد الله، وليخرجن تفلات).

“Janganlah kalian melarang hamba Allah (perempuan) untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Dan hendaknya mereka keluar tanpa memakai parfum.” [Hadits hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (565).]

Oleh karena itu, wajib baginya untuk mengenakan pakaian syar’iy selama keluar rumah menuju masjid, serta tidak mengenakan parfum dan tidak melakukan hal lainnya yang dapat memberikan fitnah (godaan) kepada orang lain.

Abu Umar Andy Latief